Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 125 ~ S2


__ADS_3

Karena merasa bosan, Lea melihat koleksi album pria tampan dengan perut sixpack yang membuat otaknya travelling. Tak pernah matanya nampak bosan saat memandangi foto itu, Lea menghela nafas dan mengeluarkan dengan perlahan.


"Bagai sayur tanpa garam, begitu pun dengan kehidupan ku. Bagaimana jadinya aku tanpa semua foto ini?" gumam Lea seraya tersenyum.


"Ingin sekali aku menyentuh perut mereka yang roti sobek ini. Oh ya tuhan, berikan aku kesempatan untuk memegang roti sobek dengan dada bidang ini. Tolong kabulkan permintaanku," batin Lea yang tersenyum nakal.


Lea menghentikan rutinitasnya, saat Vivian meneriaki memanggilnya untuk turun dan makan malam bersama. Tanpa menunggu lama, Lea sampai lebih cepat karena jika urusan makan adalah hal utamanya selain wajah pria tampan, bukankah kita butuh tenaga saat melihat pria tampan? begitulah dari motto Lea.


Keluarga Bara, Nathan, dan Zean ikut makan bersama menambah suasana menjadi ramai. Makan malam yang tenang tanpa ada obrolan, hanya terdengar dentingan sendok yang bergesekan.


Semua orang telah selesai dengan makannya dan satu persatu meninggalkan meja makan, tapi tidak dengan twins L, Lea, Vivian, Kenzi, dan terakhir Lucifer yang masih betah untuk memperhatikan Lea.


Keluarga kecebong dan keluarga kecambah saling melirik satu sama lain dengan sinis, tentu saja mereka merebutkan makanan yang menjadi kesukaan mereka yaitu ayam bakar buatan Dita.


Al dengan cepat mengambil piring yang berisi ayam bakar, dengan cepat di sentil keras oleh El dan mengambil alih piring yang berisi ayam bakar. Tak ketinggalan Kenzi menginjak kaki El dan menumpahkan ayam bakar, di saat ingin menampungnya dengan cepat Vivian menangkapnya dan di ikuti oleh Lea.


Lea dan Vivian bertos ria dan memakan ayam bakar itu seraya meledek ketiga pria tampan yang sangat malang itu, "itu curang, seharusnya aku yang mendapatkannya," gerutu El.


"Andai saja kamu tidak merebutnya dari ku," ucap Al.


"Hah, beruntung sekali mereka," celetuk Kenzi yang mengelap air liur yang hampir menetes.


Naina dan Dita hanya menggelengkan kepala, "mereka sangat hobi berebut ayam bakar buatanmu kak," celetuk Naina.


"Begitulah cara mereka menghabiskan waktu, memperebutkan hal yang sepele," sahut Dita.

__ADS_1


Tak lama kemudian Abian datang ke mansion Wijaya untuk menemui keluarga yang sangat dia sayangi, Dita bahagia karena sekarang keluarga nya telah lengkap.


"Ibu tidak menyangka jika kamu datang ke sini!"


"Keluargaku ada di sini kan? tentu saja aku datang untuk menemui kalian semua, terutama Ibu," ucap Abian yang tersenyum tulus. Lea yang sedang memakan ayam bakar terhenti saat melihat Abian yang datang, dia menghampiri Abian dan merapikan penampilannya.


Lucifer melihat itu seakan cemburu, dengan cepat dia mengekori Lea bagai bodyguard. "Halo kekasih," sapa Lea dengan genit membuat Abian tersontak kaget.


"Oh ya ampun, karakternya sangat jauh berbeda dengan Ibu Dita. Dia terlihat seperti ulat pisang," batin Abian.


Jarak antara Lea dan Abian sangatlah dekat, Lucifer dengan antusias menengahi mereka dan menyenggol Abian sedikit menjauh, membuat twins L memiringkan kepala mereka. Lea menukar posisinya dekat dengan Abian, dan di ikuti oleh Lucifer, "jangan mengangguku," gerutu Lea.


"Kenapa? aku hanya melindungimu," jawab Lucifer dengan polos.


"Berhentilah menjadi bodyguard ku," ketus Lea dan menggandeng lengan Abian, mengajaknya untuk duduk di sofa. Abian membalas mengepitkan tangan Lea seraya tersenyum kemenangan menatap Lucifer yang sangat kesal melihat pemandangan itu.


Lea selalu menatap wajah tampan Abian, membuat sang empunya salah tingkah dan dengan cepat dia menutupinya.


"Kenapa kamu memandangi ku begitu?"


"Karena wajahmu sangat tampan," seloroh Lea yang menompang dagu menggunakan kedua tangannya, menikmati wajah tampan Abian sambil tersenyum.


"Hah, aku sangat yakin jika Lea menyukai ku," batin Abian dengan penuh percaya diri. Padahal Lea hanya mengagumi wajah tampan milik Abian, bukan orangnya.


Naina dan Dita yang baru keluar dari dapur seraya membawa cemilan untuk mereka, Lucifer yang melihatnya menghampiri mereka. "Boleh aku ikut membantu?" tawar Lucifer dengan bersemangat.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, ambillah teh dan bagikan kepada semua orang," sahut Naina.


Tal lama, Lucifer datang dengan membawa nampan yang berisi beberapa gelas teh untuk semua orang. "Silahkan di minum," ujar Lucifer yang tersenyum pepsodent.


Semua orang berkumpul dan bercengkrama, ruangan tamu yang sangat ramai membuat suasana menjadi hangat. Terdengar suara nyaring seperti tikus terjepit, membuat semua orang terdiam.


"Apa kalian juga mendengar suara tikus?" ucap El.


"Aku juga mendengar nya, apa itu mungkin? mana ada tikus di mansion yang selalu di rawat ini," celetuk Al.


"Sepertinya bukan suara tikus," timpal Kenzi. Sementara Lucifer menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak, lain halnya dengan Abian yang memegang perut yang tidak berkompromi dengannya. Hingga suara nyaring itu bertambah besar, Al melayangkan bantal kecil yang tak jauh darinya ke arah asal suara.


"Oho, jadi suara tikus itu berasal dari mu. Menjauhlah dariku, kentut mu sangat bau, " ucap Lea yang menutup hidungnya sembari mendorong Abian hingga terjungkal. Semua orang yang berada di ruangan itu juga menutup hidung mereka, "bau kentutnya hampir membuat bulu hidungku menjadi rontok," keluh El.


Bara menatap kejadian yang hampir sama dengannya, "aku sangat tau bagaimana di posisi mu Nak, bahkan di saat ini aku masih mengingat hal yang memalukan itu," batin Bara yang terkekeh.


Karena malu dan tidak tahan lagi, Abian segera berlari menuju toilet terdekat, tapi sebelum itu dia melirik Lucifer yang menahan tawa. "Sial! aku di kerjai bocah itu, tunggu pembalasan ku nanti, " batin Abian.


****


Caroline ingin memeriksa sebanyak apa kekayaan dari keluarga Wijaya, bahkan dia sudah memikirkan untuk apa uang itu di gunakan. Tapi harapannya hancur saat mengetahui tidak ada apa pun yang dia ambil, dia sangat panik dengan usahanya yang terbilang sia-sia.


"Bukan kah aku telah berhasil merebut kekayaan keluarga Wijaya? tapi, apa ini? seperti ada yang Menyabotasekan data itu," lirih pelan Caroline yang sangat khawatir dan juga marah.


Dia memecahkan cermin besar yang ada di ruangan itu menggunakan vas bunga, berjalan mondar-mandir memikirkan apa yang terjadi. Carolin sangat frustasi, dia mengacak-acak ruangan itu yang sekarang seperti kapal pecah.

__ADS_1


Dia menuju sebuah lukisan Darren dan menangis dengan nasibnya yang tidak beruntung, "kamu lihat apa yang terjadi padaku? aku gagal suamiku, aku gagal. Hidup dan nasibku sangatlah tidak beruntung, perkerjaanku yang selama ini menjadi sia-sia. Hidupku sangat sulit tanpa dirimu," pekik Caroline dengan histeris sembari menatap lukisan itu dengan nanar.


__ADS_2