Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 59


__ADS_3

Di hari pertama masuk sekolah, melukis kesan yang indah bagi Al dan juga El. Mereka mempunyai teman yang juga memiliki kemampuan dan IQ yang tak kalah darinya. Di hari pertama ketiga anak laki-laki itu menjalin persahabatan.


"Hah, aku sangat lapar. Bagaimana dengan mu, Abian? " tanya Al yang menatap sahabatnya itu.


"Hem, aku juga lapar, " sahut Abian dengan mengangguk.


"Jangan membuang waktu, ayo kita makan dulu, " putus El. Kaki kecil mereka melangkah ke sebuah kantin sekolah, ketiga pria itu menjadi sorotan para siswa dan guru karena ketampanan mereka yang menggemaskan. Abian dan Al tidak menghiraukan tatapan mereka, hanya saja El dari tadi membusungkan dada yang bangga akan ketampanan yang dia miliki.


Mereka duduk di kursi dan memakan makanan yang sudah mereka pesan, tanpa ada obrolan yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu.


Setelah mata pelajaran telah usai, para murid dan guru yang mengajar satu persatu meninggalkan sekolah, begitupun Abian, Al dan El yang sekelas. Mereka meninggalkan kelas menuju jemputan dari supir pribadi masing-masing.


"Kita harus berpisah, aku sudah di jemput, bye. " Abian melambaikan tangan ke arah twins L.


"Sampai bertemu besok, " jawab El yang yang di iyakan oleh Al, mereka membalas lambaian tangan dari teman nya itu.


Tak lama menunggu, jemputan dari supir pribadi Twins L datang dan membukakan pintu untuk tuan kecilnya.


"Silahkan masuk tuan. "


"Terima kasih, " jawab El yang ceria. Mereka masuk ke dalam mobil menuju mansion Wijaya.


Al memperhatikan jalanan dari balik jendela, suasana di kota sedikit macet, "pak, putar arah. "


"Kita mau kemana tuan? " jawab pak supir yang penasaran.


"Ke rumah Papa Bara, aku sangat merindukan mereka, " jawabnya.


"Baik tuan. "


"Kabari Ayah dan Ibu, aku tidak ingin membuat mereka cemas, " tukas El yang melirik Al.


"Benar, tapi bagaimana? ponsel kita sudah di sita, apa kamu lupa?" balas Al.


"Dasar bodoh, minta lah pak udin yang menelfon Ayah dan Ibu. "

__ADS_1


"Hehe....aku lupa. Pak Udin jangan lupa telfon Ayah ya, " ujar Al yang menatap punggung pak supir.


"Baik tuan. "


Setelah mobil berhenti, twins L turun dari mobil nya. Berlarian untuk masuk ke dalam rumah Bara. "Nenek.... kami datang, " teriak El.


Al berdecak kesal, "hentikan, suaramu membuat telingaku sakit." El tidak menghiraukan ucapan Al, dia semakin berteriak memanggil Papa dan juga Nenek, Al menggeleng-gelengkan kepala.


"Jangan berteriak, ini rumah bukan hutan, " ketus seseorang dari balik pintu. Twins L mengalihkan perhatian ke asal suaranya, dan seketika tawa mereka pecah di kala melihat wajah Bara yang sedikit membengkak dan memegang perutnya


"Ada apa dengan Papa? " tanya Al di sela-sela tawanya.


"Biar aku tebak, Papa pasti mendapatkan karma, " ledek El.


"Ck, ini hanya luka saat latihan militer, jangan sok tau, " Bara berdecih menatap kesal.


"Ku harap begitu, dimana Nenek? " tutur El yang celingukan.


"Nenek kalian sedang keluar rumah untuk membeli sesuatu. Kalian masih mengenakan seragam sekolah, apa kalian tidak pulang kerumah? " tanya Bara yang menatap dua anak laki-laki di hadapannya.


"Tidak, kami merindukan Nenek dan juga Papa. Bagaimana keadaan kalian? " jawab Al.


"Apa Dita sudah mengetahui jika kalian mampir ke sini? " tutur Lilis yang melepaskan pelukannya.


"Nenek tenang saja, ada pak Udin yang mengabarinya. " sahut Al.


"Baiklah, ayo kita makan bersama. Kebetulan Nenek memasak banyak makanan, " ajak Lilis.


"Horee.... makan, " teriak twins L bersamaan membuat Bara menatap dengan jengah.


****


Dita terus saja mengumpati Zean yang menganggunya, dan tanpa sadar Nathan sudah berada di depannya dan mereka bertubrukan. Dengan cepat Nathan meraih pinggang ramping istrinya, mereka saling menatap satu sama lain. Tak ingin melewatkan kesempatan, Nathan mencium bibir ranum milik Dita, dia melepaskan ciuman yang hanya beberapa menit.


"Sayang, kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Lihatlah, kita jadi di lihat banyak orang, " ucap Dita yang berbisik sambil menutupi rona wajahnya yang memerah.

__ADS_1


"Biarkan saja, biar mereka semua tau. Jika wanita cantik ini hanya milikku, " sahut Nathan dengan santai, mendekap tubuh Dita serta memeluk Dita dengan sangat mesra. Mereka berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sepasang mata menatap mereka dengan mengepalkan kedua tangannya, mata yang memerah akibat menahan amarah, rahang yang mengeras dan gigi yang digertakkan.


"Berani sekali dia mencium Tata di hadapan mata ku, Tunggu dan lihat bagaimana aku membuat perhitungan dengan mu NATHAN WIJAYA, " gumam pria itu dari balik pohon. Dia adalah Zean yang sedari tadi mengikuti Dita secara diam-diam, tapi dia tidak menyangka jika melihat adegan bermesraan yang membuat hatinya terbakar api cemburu.


Zean mengambil benda pipih dari saku celananya, mencari nomor kontak yang ada di layar itu memerintahkan seseorang untuk mencari data dari Dita dan juga Nathan.


Di dalam mobil, Nathan sangat penasaran dengan raut wajah sang istri yang sedari tadi tampak kesal, "Ada apa? kenapa kamu terlihat kesal? "


"Aku sangat kesal dengan pria itu, " ketusnya.


"Pria? pria yang mana? berani sekali dia menganggumu, " kata Nathan yang meninggikan suaranya.


"Kecilkan suaramu. "


"Baik, katakan siapa pria brengsek itu? "


"Dia pernah menolongku sewaktu aku tercebur di sungai, aku tidak pernah bertemu dengannya selama 20 tahun. Hingga Papaku membawanya datang ke butik dan mengenalkan kami, " jelas Dita.


"Aku akan buat perhitungan dengannya, siapa pria itu? " ucap Nathan yang tidak sabar.


"Tenangkan dirimu, Sayang. Pria itu Zean Anderson, " tutur Dita. Nathan yang mendengar nama itu membuatnya menghentikan mobilnya, "sial, selalu membuat masalah dengan ku, " gumam Nathan yang masih terdengar oleh Dita.


"Kamu mengenalnya?" Dita menautkan alisnya.


"Dunia ini sangatlah sempit, dulunya dia sahabatku yang berkhianat, sejak saat itu persahabatan kami putus. Jauhi dia sangatlah berbahaya! " tegas Nathan dengan serius.


"Aku akan menjauhinya, bisa beri tau aku alasannya? " sahut Dita yang mengerutkan kening.


"Dia adalah Mafia yang terkenal bengis dan juga kejam, tidak pandang bulu. Dia juga yang menculik twins L dan hampir membunuhnya, " jelas Nathan.


Dita sangat terkejut mendengar penjelasan dari suaminya, membekap mulut dengan kedua tangannya. "Dia ingin membunuh anakku?".


"Benar, apa yang dia katakan padamu? " tanya Nathan yang sangat penasaran.


"Oh iya, aku hampir lupa! jika dia melamarku tadi."

__ADS_1


"APA?"


"aku sangat mengenalnya dengan baik, jika dia menginginkan sesuatu maka dia harus mendapatkannya. Pria sialan itu menganggu ketenangan dan juga kedamaian ku, " batin Nathan.


__ADS_2