Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 181 ~ S2


__ADS_3

Jimmy datang setelah beberapa menit setelah di hubungi, dia segera memeriksa keadaan Al. Terlihat jelas bagaimana Shena yang mengkhawatirkan suaminya, "bagaimana dengan kondisi nya Dok?" tanya Shena.


"Dari yang saya periksa, tidak ada masalah apapun kepada pasien," ungkap Jimmy.


"Hah, syukurlah aku tidak merasa khawatir lagi," ujar Shena yang merasa lega.


El yang belum puas dari jawaban sang dokter, dia menarik tangan Jimmy untuk keluar dari kamar Al meninggalkan istri dan juga kakak iparnya. Jimmy sangat kaget saat El menariknya dengan sedikit kasar, "lepaskan aku, kenapa kamu menarikku?" cetus Jimmy yang membenarkan jas putih miliknya.


"Apa kamu ingin membodohiku?" ucap El yang menatap Jimmy dengan kesal.


"Apa maksudmu? aku hanya memeriksa Al untuk apa aku membodohimu? tidak ada gunanya," jawab Jimmy.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan Al baik-baik saja, selama ini dia tidak pernah pingsan. Apa kamu ingin mengelabuiku yang sangat pintar ini?"


"Astaga, sebenarnya yang dokter itu siapa? aku atau kamu?" sahut Jimmy yang geram dengan teman nya itu.


"Periksa Al sekali lagi, selama ini dia tidak pernah pingsan. Apa jangan-jangan dia punya penyakit dalam?" praduga El.


"Baiklah, aku akan periksa sekali lagi," jawab Jimmy menuju masuk ke kamar itu dan di ikuti oleh El.


Jimmy kembali memeriksa Al membuat Shena dan Anna kebingungan, sedangkan El melirik Jimmy dengan dengan penuh harapan, "bagaimana hasilnya?"


"Aku sudah memeriksa nya dengan benar, tidak ada penyakit dalam dan dia sangat sehat. Lebih baik aku pergi dulu, bukankah ini malam pengantin kalian," tukas Jimmy.


"Baiklah, terima kasih kamu telah datang kesini dengan cepat. Hampir saja aku memecatmu," ujar El dengan santai.


"Heh, kamu sama saja dengan Al, aku pergi dulu. Nikmati malam pengantin kalian," pamit Jimmy yang meninggalkan kamar hotel itu.


"Yaya....pergi sana dasar pria jomblo," ledek El yang melambaikan tangannya menatap kepergian Jimmy yang menghilang dari balik pintu.


"Kami pergi dulu, jika terjadi apa-apa segera hubungi kami yang ada di sebelah kamar ini," seloroh Anna yang menatap Shena dengan tersenyum dan pamit keluar dari kamar milik Al dan juga Shena.

__ADS_1


Shena menutup pintu kamar sembari berjalan menuju suaminya, dia menatap Al dengan seksama, "apa aku tampan?" ucap Al yang berhasil membuat Shena kaget.


"Kamu telah siuman?" tanya Shena yang menautkan kedua alisnya saat menatap Al.


"Siuman? memangnya aku kenapa?" ucap Al yang memiringkan kepalanya.


"Apa kamu tidak ingat sesuatu?"


"Tidak, memangnya apa yang terjadi?"


"Kamu tadi pingsan, untung saja kak El membantuku."


"Entahlah, aku tidak mengingatnya. Ayo mendekatlah, aku ingin sekali tidur di pangkuanmu," pinta Al dengan manja yang membuat Shena kebingungan.


"Ada apa dengannya?" batin Shena.


"Kenapa kamu diam saja, cepat lakukan dan juga usap kepalaku dengan sangat lembut seperti yang di lakukan oleh Ibu di saat aku masih kecil, aku menginginkan nya sekarang." Ucapan dari Al yang sangat manja membuat Shena mengerjabkan mata beberapa kali menatap tingkah suaminya yang tidak biasa.


"Hiks....kenapa kamu tega sekali kepadaku? ayolah, malam ini saja!" bujuk Al yang hampir menangis.


"Kenapa dia menangis? aku tidak berbicara buruk kepadanya," gumam Shena di dalam hati.


"Baiklah, kenapa kamu sangat aneh?" tanya Shena yang melakukan sesuai permintaan sang suami.


"Aneh bagaimana? itu wajar, aku hanya ingin bermanjaan dengan istriku saja."


Shena menghela nafas dengan kasar, sembari mengusap pucuk kepala Al yang sangat senang. Al berbalik badan dan mencium perut Shena, dia bahkan memeluk pinggang istrinya dengan penuh cinta. Shena menahan posisi itu hingga 20 menit, kakinya terasa sangat keram. Dia memeriksa wajah Al yang ternyata sudah terlelap.


"Syukur lah dia sudah tidur, aku bisa beristirahat dengan tenang. Oh ya ampun, aku bahkan tidak merasakan kaki ku sendiri," gumam Shena yang meminit kedua kakinya. Dia membenarkan posisinya, dan berbaring di sebelah Al dengan melingkarkan tangan ke tubuh pria tampan itu, hingga keduanya terlelap.


****

__ADS_1


El dan Anna masuk ke dalam kamar, "aku ke kamar mandi dulu," ucap Anna yang di anggukkan kepala oleh El.


El mengambil hadiah yang diberikan oleh Panji, dia membuka hadiah itu yang ternyata isinya adalah kopi khusus pria. "Sialan, aku tidak membutuhkan ini," gumam El yang melempar kopi ke sembarang arah.


Tak lama El melihat Anna yang sedang mengganti pakaian, bukannya pakaian tipis yang Anna kenakan melainkan pakaian yang sangat tebal. Al menghampiri istrinya sambil menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Kenapa kamu berpakaian tebal?"


"Bukan apa-apa," sahut Anna dengan cepat, sebenarnya dia sedikit khawatir dengan malam pertama. Apalagi saat kakaknya yang bernama Lolita pernah mengatakan jika malam pertama bagi seorang wanita sangatlah menyakitkan.


"Aku rasa udaranya sangat dingin, jadi aku memakai pakaian tebal," kilah Anna.


El tersenyum tipis, "baiklah, aku akan mematikan AC agar kamu tidak kedinginan," ucapnya sembari mematikan pendingin ruangan.


"Hehe....aku tau kamu sedang menghindari malam pengantin kita . Jangan panggil aku El, jika tidak bisa memilikimu seutuhnya," batin El yang tersenyum smirk saat melihat Anna kepanasan.


"Oh ya ampun, ini sangat panas sekali. Apalagi baju yang aku pakai sangatlah tebal," batin Anna yang mengipasi wajahnya. Karena tidak tahan, dia melepaskan seluruh pakaiannya dan menyisakan pakaian d*al*am penutup bagian sensitif.


Dia sangat terkejut ada sepasang tangan yang melingkar di pinggang, "jangan membodohiku, Sayang! aku tau jika kamu hanya menghindar dari malam pertama kita," bisik El di telinga istrinya membuat Anna semakin gugup.


"Lebih baik kita istirahat saja, kamu pasti sangat kelelahan." El menggeleng dengan cepat, dia kembali menghidupkan pendingin ruangan sembari mencium tengkuk leher istrinya.


"Aku menginginkanmu malam ini, lebih baik kita mengadonnya dengan cepat. Bukankah lebih cepat itu lebih baik," goda El.


"Apa maksud mu dengan mengadon?"


"Tentu saja membuat anak, apalagi? aku tidak ingin kalah star dari kakak kembarku itu."


"Apa kita ini sedang berkompetisi?" sahut Anna yang mengerutkan keningnya.


"Anggap saja begitu, jangan membuang waktu. Malam ini kamu milik ku." El menggendong Anna ala bridal style dan membaringkan tubuh sang istri dengan perlahan di atas tempat tidur. El mencium bibir Anna dengan penuh gairah, ciuman yang semakin dalam dan menuntut membuat keduanya hanyut dalam permainan lidah dari El.

__ADS_1


El menghentikan permainan itu sembari manatap Anna dengan penuh hasrat, "aku sudah tidak tahan lagi, tapi sebelum itu aku ingin meminta izin kepadamu," ucap El yang mendapat anggukan kepala oleh Anna membuatnya tersenyum bahagia.


__ADS_2