
Mereka akhirnya sampai di butik, Kinan dengan cepat masuk ke dalam L Boutique. Perasaannya sangat senang bisa bertemu dengan Dita yang merupakan teman lama nya, sudah lama mereka tidak bertemu. Dulunya mereka tetangga, semenjak ayah dan ibunya bercerai dan memutuskan untuk pindah rumah.
"Dita," ucap Kinan yang menatap punggung temannya dengan perasaan haru. Dita menoleh karena nama nya di panggil, menatap seorang wanita yang seumuran dengannya. Di menyipitkan kedua matanya, hingga baru mengenali jika itu adalah Kinan.
"Apakah kamu Kinan teman lamaku?" ucal Dita yang berjalan mendekat.
"Iya ini aku." Kedua wanita itu saling memeluk melepas rindu, Dita tak menyangka jika dia kembali di pertemukan dengan Kinan. Dulu nya mereka teman dekat, tapi Kinan sudah pindah rumah sebelum kematian Ibu Dita.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui alamat ku? kita putus kontak hingga puluhan tahun," tanya Dita.
"Siapa yang tidak mengenalmu, Dita sang desainer ternama di kota, nama mu tersebar luas di berita televisi dan juga sosial media. Sekarang kamu sangat terkenal, bagaimana keadaan Paman dan Bibi?" tanya Kinan yang membuat Dita terdiam sesaat.
"Semenjak kamu pergi kehidupanku berubah drastis, tidak baik berdiri saja, ayo duduk! " jawab Dita seraya mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Ceritakan ada apa? kenapa wajahmu sedih."
Dita menghirup udara dengan dalam, mencoba untuk mengatur nafas agar tidak terbawa suasana. "Mama sudah lama tiada, sedang kan Papa ku menikah lagi di saat kuburan Mama masih basah. Wanita yang di nikahi Papa mempunyai seorang anak perempuan yang usianya lebih muda dariku beberapa bulan saja, kehidupan ku sangatlah buruk, di siksa, di hina seperti binatang. Anaknya yang bernama Sheila menjebakku dengan obat perangsang dan menyewa seorang preman. Tapi aku salah masuk kamar dan terjebak dengan pria lain yang sekarang telah menjadi suamiku," penjelasan Dita yang sangat panjang.
Lea dan Vivian terkejut dengan kisah kelam sang Ibu, Kinan juga terkejut dengan kisah Dita yang sangat menderita di saat itu.
"Lalu?" tanya Kinan yang menatap teman dekatnya dengan seksama.
"Awalnya kehidupan ku tidak lah mudah, banyak rintangan yang harus aku jalani sendiri, hingga aku hamil dan melahirkan seorang diri. Tapi aku bersyukur, bisa mempunyai putra kembar yang sekarang telah menikah dan kehidupan ku sekarang sangatlah bahagia. Tapi bagaimana dengan mu?" ucap Dita.
Lea dan Vivian tak tau bagaimana beratnya perjuangan Dita yang sangat berat, tak terasa di sudut matanya terlihat cairan bening yang dengan cepat mereka hapus.
"Hidupmu berakhir bahagia, tapi tidak denganku. Pria itu menipuku, dia selalu bermain wanita dan sering melakukan kekerasan terhadap fisikku. Karena tak sanggup untuk bertahan, aku memutuskan bercerai dan mengambil hak asuh Melodi."
"Melodi?" ulang Dita yang memiringkan kepala dengan penasaran.
"Iya, dia putriku. Apa mereka putrimu?"
"Mereka memang anakku! tapi, Putri kandungku berpakaian lebih feminim, sedangkan keponakan ku berpakaian sedikit tomboy. Putrimu sangat cantik persis seperti mu," unjuk Dita sembari memuji kecantikan dari gadis belia yang bernama Melodi.
__ADS_1
"Terima kasih," balasnya tersenyum.
"Di mana kamu tinggal?" tanya Dita dengan antusias.
"Aku tinggal di kawasan elit di block C."
"Benarkah?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak terlalu jauh dari mansion Wijaya, hanya perlu berjalan kaki saja."
"Wah, aku tidak menyangka jika kita kembali menjadi tetangga."
"Mampir lah sesekali ke mansion, aku akan memperkenalkanmu kepada seluruh keluarga ku, bagaimana?" tawar Dita.
"Tentu saja, aku akan mampir kesana."
Mereka berbincang dengan sangat lama, sementara Melodi sangat senang mempunyai teman seperti Lea dan Vivian yang jago dalam beladiri dan menggunakan senjata. Seakan ketiga para gadis itu mengenal sangat lama, apalagi kegemaran mereka sama yaitu menonton drama dari negeri gingseng.
"Sebenarnya masih ada satu orang lagi, dia bernama Shena," sahut Lea.
"Sepertinya sangat seru jika kita berkumpul dan membuat geng," ujar Melodi.
"Datang saja ke mansion, bukankah jarak tempat tinggal kita itu dekat!" seloroh Vivian.
"Baik, aku akan mampir kesana jika tidak ada kesibukan."
"Kami menunggumu," jawab Lea dan Vivian dengan kompak.
****
1 minggu kemudian..
__ADS_1
Al bekerja dengan sangat fokus, kembali dengan rutinitasnya yang menjabat sebagai presdir. Tatapan fokus dengan jari-jari yang begitu cepat dalam menekan keyboard, menyelesaikan beberapa berkas dan juga memantau kondisi perusahaan yang meningkat pesat. Pekerjaan Al bertambah karena El pergi honeymoon bersama dengan Anna selama sebulan penuh untuk mengelilingi beberapa negara, lebih tepatnya untuk mempunyai keturunan tanpa di ganggu oleh orang lain.
Pintu di ketuk membuat Al menoleh, terlihat dengan jelas ada Ben yang tersenyum kepada atasannya itu. Ben berjalan mendekat, menyampaikan beberapa agenda rapat dan juga meeting yang akan di laksanakan 30 menit lagi.
"Hem, jika tak ada urusan. Keluarlah dari ruangan ku," usir Al tanpa menatap asistennya yang mengelus dada.
"Sabar Ben....sabar, orang sabar usahanya lebar," gumam Ben di dalam hati.
30 menit kemudian, Al memasuki ruangan meeting dan memulainya. Tapi bau parfum dari beberapa orang membuatnya ingin muntah, "kenapa parfum mereka bau sekali, perutku seperti di putar," gumam Al yang menutupi hidungnya. Karena tidak bisa menahannya lagi, Al berlari meningkalkan meeting penting dengan beberapa klien yang sangat penting, untung saya Ben sangat pintar dan mengambil alih.
Al sangat lemas, karena dia bolak-balik ke kamar mandi. " Ada apa denganku?" lirihnya dengan pelan, dia mengambil ponsel dari saku celana untuk menghubungi Ben meng-handle segalanya di kantor. Sementara dia pergi ke rumah sakit Wijaya untuk berkonsultasi dengan dokter Jimmy.
"Wah, suatu kebanggaan jika kamu berada di rumah sakit ini. Katakan ada apa?" tanya Jimmy yang menatap Al.
"Beberapa hari ini aku sering merasa mual dan juga hidungku sangat sensitif," keluh Al.
"Berbaringlah di atas brankar itu, aku akan memeriksamu terlebih dahulu," tutur Jimmy yang memeriksa Al.
"Bagaimana? aku sakit apa?" tanya Al yang telah di periksa oleh Jimmy.
"Kamu sehat-sehat saja," jawab Jimmy yang kembali duduk di kursi kebesaran nya.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu, aku bahkan hampir mati dengan kondisi ini," ucap Al yang meninggikan suaranya.
"Begini, dari hasil pemeriksaan. Aku menduga jika kamu mengalami sindrom couvade," ungkap Jimmy.
"Aku tidak mengerti dari istilah medis itu, katakan secara rinci."
"Sindrom cauvade biasanya terjadi ketika sang istri berada pada trimester pertama dan ketiga masa kehamilan. Tapi di sini sangat unik, istrimu tidak merasa gejala kehamilan nya. Kamu sangat beruntung bisa mengalami fase dari wanita hamil," jelas Jimmy yang tersenyum.
"A-apa? apakah Shena sedang mengandung anakku?" ucap Al yang tak percaya.
"Biar lebih jelas lagi, bawalah dia kesini. Aku berani bertaruh untuk itu, jika istrimu tengah berbadan dua."
__ADS_1
Perkataan Jimmy membuat Al terharu, tanpa sadar air matanya mengalir. Perasaan yang sangat bahagia itu membuat Al berlari keluar ruangan dan menuju mansion, dia tidak menghiraukan panggilan dari Jimmy.