
Dita memikirkan bagaimana dia akan menyembuhkan keperibadian dari Lucifer, di saat dia menyulam membuat tangannya tertusuk jarum. Sontak dia terkejut dan dengan cepat menghisap darah itu hingga berhenti keluar. Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat sang istri melamun, menghampiri nya dan memeluk erat.
"Ada apa? kenapa kamu melamun?" tanya Nathan yang membalikkan tubuh Dita mengarah kepadanya.
"Aku sangat kasihan dengan Lucifer, tapi aku rasa sangat sulit untuk menghilangkan kepribadian gandanya itu. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan," jawabnya.
Nathan tersenyum, "aku sangat yakin dengan kemampuanmu, Sayang."
"Tapi aku masih ragu dengan tindakan ku benar atau salah, kerena yang aku lihat anak itu cukup berbahaya. Aku sangat takut jika dia akan menganggu putriku, apalagi Lea selalu mengeluh tentangnya," keluh Dita.
"Kamu sendiri yang menawarkan diri untuk merawatnya, berikan dia kasih sayang yang tidak pernah dia rasakan. Dan masalah Lea, tidak perlu di khawatirkan. Apa kamu meragukan kemampuan putrimu? walaupun dia menutupi kemampuannya dengan bersikap seperti itu, tapi aku tau bagaimana wataknya dan keahliannya."
"Kamu benar suamiku, aku harap ke depannya tidak terjadi masalah dengan ini. Ah iya, aku hampir lupa dengan makan malam. Ayo turun, aku dan Naina akan menyiapkannya," ajak Dita.
"Aku akan menyusul nanti," jawab Nathan.
Di meja makan, suasana yang sangat ramai. Keluarga dari Bara, Nathan, dan Zean juga berkumpul di sana. Bara menatap sendu dengan berkumpul nya Zean di meja makan, "aku sangat merundukan Daniel, apa kalian tau bagaimana keadaannya sekarang?" celetuk Bara yang menatap Zean dan juga Nathan.
"Dia pernah mengabariku lewat email dan mengatakan jika dia dan keluarga kecilnya berada di malaysia, dia akan kembali," sahut Nathan yang fokus pada makanan yang ada di atas piringnya.
"Siapa mereka?" tanya Vivian yang sedari tadi mendengar percakapan orang tuanya.
"Itu sahabat Papa, dan juga Paman Nathan. Sama seperti Paman Zean," jawab Bara yang menatap putrinya.
Dita dan Naina datang membawa menu pencuci mulut dan membagikannya kepada semua orang. Seperti biasa, Vivian dan Lea berebutan untuk mengambil nya, tak ketinggalan dengan dengan twins L dan juga Kenzi. Membuat Dita dan Naina kelimpungan dengan anak-anak mereka.
Lucifer memberikan bagiannya kepada Lea yang sangat antusias menerima, Dita melototi putrinya yang sangat rakus. Lucifer tersenyum saat Lea menikmati kudapan pencuci mulut, hingga Dita menatap Lucifer dan memberikan miliknya kepadanya.
"Ini makanlah, lain kali jangan memberikan kepadanya," tutur Dita yang menyodorkan cemilan berupa brownies kepada Lucifer.
"Tidak makanlah, itu milikmu Bu."
__ADS_1
"Aku akan membuatnya jika aku menginginkan nya, apa kamu akan menolak pemberian dari Ibumu ini?"
"Bukan begitu maksudku Bu, tapi...."
"Jangan banyak bicara, makan saja. Bibi ku telah memberikannya kepadamu, kamu sangat beruntung," sela Kenzi.
"Terima kasih Bu," ucap Lucifer yang akhirnya menerima.
Setelah makan malam, Lucifer pergi ke kamarnya meninggalkan semua orang. Di tambah lagi dengan dengan wajahnya yang tampak sedih, Dita melihat hal itu dan mengikutinya.
Dita membuka pintu kamar Lucifer dengan perlahan, dia melihat Lucifer yang tengah memandangi sebuah foto. Dia berjalan mendekati Lucifer, mengelus pucuk kepala dan memerhatikan foto yang ada di tangan Lucifer.
"Jangan bersedih, Ibu sangat yakin jika Mommy melihat keadaan mu."
"Aku tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana orangnya dan juga kebiasaan Mom. Aku hanyalah anak yang tidak beruntung," tutur Lucifer yang menatap Dita dengan nanar.
Dita duduk di sebelah Lucifer dan tersenyum, "Ibu tidak terlalu mengenal Mom mu, tapi dia sangat baik saat pernikahan mereka. Wanita dengan penuh kasih sayang, dan juga sangat lembut, murah tersenyum kepada semua orang."
"Tidak boleh berbicara seperti itu, dia telah memberikan kehidupan untuk anaknya. Jangan menyalahkan diri sendiri, ini sudah jadi suratan takdir yang tidak bisa kita ubah. Aku ini Ibu mu kan? maka anggaplah aku Ibu kandungmu."
"Ibu," ucap Lucifer yang menghamburkan pelukannya kepada Dita dengan tersenyum.
****
El sangat bosan dengan rutinitasnya, hingga dia memikirkan bagaimana cara untuk menghilangkan kebosanan itu, hingga dia mendapatkan sebuah ide. El segera membersihkan dirinya dan berpakaian casual, dengan sedikit parfum dan juga senyuman di wajahnya.
Menuruni tangga dengan sangat antusias, membuatnya menjadi sorotan Bara dan Nathan yang sedang menonton televisi di ruangan tengah.
"Mau kemana kamu?" ucap Nathan yang menyelidik.
"Hah, Papa sangat tau ini. Sebagai orang yang berpengalaman dalam bidang, apakah kamu ingin menjumpai seorang wanita?" tambah Bara yang menatap penampilan El.
__ADS_1
"Tidak," kilah El.
"Hidungmu terlihat panjang jika berbohong, ayo mengakulah," cetus Bara.
"Ini urusan anak muda, yang tua lihat saja televisi itu dan nikmati kehidupan ini, sebelum...." ucapan El menggantung membuat Bara dan Nathan yang tau akan kelanjutannya menjadi geram.
"Kamu menyumpahi kami cepat mati?" protes Nathan.
"Dasar anak nakal," sambung Bara yang melotot.
"Tidak, kalian saja yang berasumsi begitu. Lebih baik aku pergi dari sini," jawab El yang melangkah pergi membuat Nathan dan Bara berdecak kesal.
"Anak itu tidak pernah berubah," ucap Bara yang di angguki kepala oleh Nathan.
El telah sampai ke tujuan, memarkirkan motor yang jauh dari perkarangan rumah itu. Yap, El menuju ke rumah Anna yang entah mengapa membuatnya selalu memikirkan gadis tomboy itu. Setelah di rasa aman, El menyusup ke dalam rumah, setelah di perkirakan aman.
El melihat Anna membuatnya tersenyum dari balik pembatas dinding. Anna yang sedang membuat daftar belanjaan, tidak menyadari El yang sudah berdiri di belakangnya.
"Daftar belanjaanmu banyak juga," ucapan El sontak membuat Anna terkejut dan refleks menampar wajah tampan milik El.
"Kenapa bisa kamu di sini, cepat keluar atau Ayahku akan menghajarmu nanti," ketus Anna.
"Kamu sangat kasar sekali, dan untuk urusan itu aku sudah mengatasinya," ucap El dengan bangga sembari memegang pipinya.
"Ehem," ucap seseorang yang tak lain adalah Ayah Anna yang mengetahui pergerakan El yang masuk ke kamar putrinya lewat jendela.
El menoleh dan meneguk saliva nya dengan susah payah, "mati aku," batinnya sembari tersenyum kaku.
"Dasar penguntit," ketus Pak pitak yang menyiram El dengan air kran dengan selang yang panjang. Walau Pak pitak kalah dalam mengejarnya, tak kehabisan akal, dia membidik El dengan ketapel yang telah dia siapkan.
Bidikan dari Pak pitak jarang ada yang meleset, membuat El tersiksa dengan itu.
__ADS_1
"Itu baru awalnya saja," gumam Pak pitak yang tersenyum jahil sembari menatap kepergian El yang sudah lari kocar-kacir.