Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 53


__ADS_3

Mereka berhasil keluar dari markas Tiger, Nathan membopong sahabatnya yang tertembak akibat melindungi salah satu anaknya, dia memasukkan Daniel ke dalam mobil, serta kedua putranya yang duduk di kursi belakang. Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan dengan lihainya. Twins L semakin cemas akan nasib Daniel yang tertembak, mereka menepuk pipi Daniel.


"Paman, bertahanlah, " ucap Al.


"Bukalah matamu, paman. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, " sambung El.


Daniel tersenyum di sela kesakitan yang dia derita, mengusap wajah Al dan El dengan tangannya yang penuh dengan darah, "kalian jangan terlalu mengkhawatirkan ku. "


"Tidak, paman sangat baik padaku. Aku berjanji, tidak akan menjahili siapa pun lagi. " Al menyeka air mata yang keluar dengan sendirinya. Pandangan mata Daniel kian mengabur dan tidak sadarkan diri, twins L meminta sang Ayah untuk melajukan mobil mereka. Hingga mobil itu berhenti di rumah sakit milik Wijaya, Nathan membopong Daniel dan berteriak memanggil para petugas medis, dan Daniel berhasil di selamatkan. Jika saja mereka terlambat sedikit saja, nyawa Daniel dalam bahaya. Peluru yang berhasil mengenai Daniel merupakan peluru yang sudah di lumuri racun yang mematikan.


Nathan mengepalkan tangannya dan menyenderkan tubuhnya di kursi tunggu, mengambil benda pipih untuk menghubungi seseorang.


"Hallo."


"Iya tuan. "


"Perkuat sistem keamanan, jika ada kejanggalan, hubungi aku segera, " Nathan mematikan sambungan telfon dan mendekati twins L yang sedari tadi menatap Daniel dari balik pintu kaca.


Nathan mengelus pucuk kepala twins L dengan sangat lembut, "ayo kita pulang, semua orang mencemaskan kalian." Twins L mendongakkan kepala, "Bagaimana dengan paman Daniel, Ayah? " ucap Al.


"Sudah, tidak apa-apa. Ini bukan pertama kalinya dia seperti itu, dan Ayah sudah meletakkan beberapa penjaga untuk paman Daniel. Ayo kita pulang! " ajak Nathan. Dengan berat hati twins L pulang dan menatap nanar ruangan tempat Daniel di rawat.


Sesampainya mereka di Mansion Wijaya, twins L di sambut hangat oleh semua orang. Bahkan Dita tak henti-hentinya mencium wajah kedua anaknya dan sesekali tangis haru yang dia rasakan.


Novi menatap Dita dengan sinis, twins L mengetahui segalanya, dan mereka saling melirik satu sama lain.


"Masih untung mereka di temukan, jika tidak aku tidak akan memaafkan mu, " ucap Novi dengan sinis.


"Ma, hentikan semua ini. Kenapa Mama selalu menyudutkan istriku, bukankah pertemuan pertama Mama memperlakukan Dita dengan baik. Ada apa dengan Mama kali ini? " ucap Nathan yang meninggikan suaranya.


"Jadi kamu lebih memilih istrimu dari pada Mama?" ujar Novi yang juga meninggikan suaranya.


"Al dan El, kalian masuk lah ke kamar, " perintah Nathan yang di patuhi oleh twins L.

__ADS_1


"Mama jangan selalu melimpahkan kesalahan kepada Dita, aku tak habis pikir dengan Mama, " sambung Wijaya yang menautkan alisnya.


Dita yang merasa terpojokkan hanya bisa menangis, tanpa berniat membela diri. Di mata Novi, dia selalu salah dan salah.


"Mama ingin menantu dengan pendidikan yang tinggi, " ketus Novi.


"Mama tidak lihat, wanita yang pernah Mama jodohkan dengan ku itu, walaupun dia mempunyai gelar tetapi sikap dan adapnya sangatlah kosong, " sahut Nathan.


"Ini keputusan terakhirku, mulai sekarang Dita akan melanjutkan pendidikannya. Mendapatkan gelar sesuai permintaan Mama, " putus Wijaya.


Setelah momen haru itu, twins L membersihkan diri dan makan makan malam bersama. Seperti biasa, tidak ada obrolan yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu. Selesai makan, twins L terus saja mengikuti Nathan kemanapun kaki nya melangkah.


"Eh, kenapa kalian mengikuti Ayah. " Nathan mengerutkan kening dengan ekspresi tanda tanya.


"Di sini tidak ada siapapun. Ayah berhutang penjelasan dengan kami, " tutur Al yang menyelidik.


"Ayah tidak merasa berhutang kepada siapa pun, " ujar Nathan.


"Yang mana,? " Nathan berusaha memikirkan maksud dari anaknya.


"Mafia yang menyekap kami, siapa dia? " Al menatap dalam sang Ayah.


Nathan menghela nafas dengan kasar, "Zean adalah teman satu tim dengan Ayah, kami sangat akrab. Ayah kalian ini, dulunya seorang Mafia, berhenti dari dunia hitam karena dia seorang pengkhianat. Jangan sampai kalian berurusan dengan dia, untuk sekarang dan seterusnya. "


"Baiklah Ayah," jawab mereka kompak.


"Dan jangan lupa, ponsel dan laptop kalian, semuanya Ayah sita. "


"APA? kenapa Ayah menyitanya? " sahut El dengan antusias.


"Kalian sangat nakal dan juga kurang sopan santun terhadap orang tua. Mulai sekarang, Ayah akan mendaftarkan kalian sekolah, " tegas Nathan.


"Jangan hukum kami dengan menjauhkan benda pusaka itu, " ujar Al merengek.

__ADS_1


"Sekolah, umur kami belum genap 6 tahun, Ayah. "


"Lalu? kalian akan ayah daftarkan di taman kanak-kanak, mulai besok. " Nathan menatap tegas kedua putranya.


"Ya tuhan, " lirih El.


Sementara Nathan menyunggingkan senyuman tipis hingga tidak di ketahui oleh kedua anaknya. Dengan alasan sekolah, dia dan Dita bisa berduaan selagi twins L sekolah. Twins L sangat kesal dengan perintah sang ayah, mereka masuk kedalam kamar dengan bibir yang mengerucut dan pipi yang di gembungkan, mereka tampak menggemaskan dengan wajah yang seperti itu.


****


Sementara di tempat lain, seseorang melempar kekesalannya lewat pelatihan tembak miliknya, membidik beberapa patung bidikan. Yah, dia adalah Zean Anderson. Pikirannya kembali berputar saat kejadian masa lalu, dimana dia dan Nathan merupakan partner tim yang sangat handal. Hingga suatu konflik yang membuat persahabatan Zean dan Nathan memburuk dan memecah belah mereka.


"Aku tidak pernah mengkhianati mu, tapi kamu lebih percaya orang lain dan aku tidak akan mengampunimu akan hal itu." batin Zean yang terus membidik papan bidikan tanpa ampun, hingga papan itu hancur.


Alvin berjalan menuju Zean, dia tau apa penyebab Nathan dan Zean menjadi musuh. Menghampirinya dan berusaha menenangkan tuannya yang penuh dengan amarah. "Tuan."


"Hem, kali ini aku butuh waktu sendiri. Pergi dan tinggalkan aku sendiri, " titah Zean membuat Alvin mundur.


Tak puas dengan itu, Zean meredakan emosinya dengan samsak. Memukuli hingga kepalan tangannya berdarah, darah yang menetes merupakan kekecewaan nya terhadap Nathan yang lebih mempercayai orang lain.


Alvin menatap dari kejauhan dan mengeluarkan benda pipih berlogo apel gigit itu, seraya mencari kontak untuk menghubungi seseorang.


"Hallo."


"Iya bos, " jawab suara dari balik telfon.


"Apa kalian sudah memecahkan kasus itu? "


"Maaf tuan, kasus itu sangat berat. Beri kami waktu untuk menyelidikinya. "


"Kasus itu sudah bertahun-tahun, dan kalian masih meminta waktu? jika dalam sebulan kalian tidak memecahkannya, maka nyawa kalian yang akan melayang." Ancam Alvin sambil menutup sambungan telfon dengan kesal.


"Kenapa konflik ini sangat sulit. Ya tuhan, beri aku petunjuk, " gumam Alvin dan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2