
Rayyan menatap orang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, "kenapa kamu ada disini?" ucapnya.
"Terserah aku, kenapa kamu yang repot. Ini tempat umum, jadi siapa saja boleh berkunjung," sahut orang itu yang tak lain Vivian.
"Aku tidak menyanyka jika kamu titisan monyet," cibir Rayyan.
"Dan nasibmu sangat malang menjadi sad boy, dasar mental kerupuk," balas Vivian yang juga mencibirnya sembari tertawa terbahak-bahak. Rayyan mengepal tangannya dengan geram sembari menatap gadis cantik di hadapannya, "berani sekali kamu mengejek ku."
"Heh tidak penting, lebih baik aku pergi saja." Vivian yang ingin pergi tertahan karena Rayyan menarik rambutnya yang di kucir kuda. Vivian menoleh dan menendang bokong Rayyan dengan sangat keras, berlari begitu cepat dan menjulurkan lidahnya mengejek Rayyan yang tidak bisa mengejarnya.
"Berani sekali gadis itu, lihat saja nanti bagaimana aku membalasmu," gumam Rayyan yang tersenyum smirk.
Vivian menuju mobil yang di kemudikan supirnya menuju mansion. Di perjalanan, dia melihat Shena yang sedang berjalan kaki.
"Pak, stop di sini. Aku ingin keluar bersama Shena dan katakan ini kepada Dad dan Mom," titah Vivian yang turun dari mobil dan mengejar Shena.
"Tunggu." Shena yang mendengar suara itu langsung menoleh dan terlihatlah Vivian yang sedang berhenti sejenak saat mengejar Shena.
"Vivian, kamu di sini?" ujar Shena yang memiringkan kepalanya.
"Iya, aku melihatmu di sini. Apa kamu hanya sendiri saja?" ucapnya yang celingukan.
"Memangnya aku harus dengan siapa?"
"Oh....ya tuhan, yang aku maksud itu kak Al. Di mana dia? apa tidak menemanimu?" ujar Vivian yang menepuk jidat saat menatap sang kakak ipar yang sedikit bodoh.
"Mana aku tau," sahut Shena yang bergidik bahu dengan santai.
"Astaga, dia itukan suamimu dan kamu adalah istrinya."
"Iya aku tau itu, tidak perlu mengingatkannya. Aku sedang kesal saja dengan pria dingin itu," curhatnya.
"Lupakan itu, aku tidak ingin mendengar permasalahan rumah tangga kalian. Kamu mau kemana?" ucap Vivian.
"Entahlah, aku juga tidak tau."
"Jadi, dari tadi kamu tidak punya tujuan?" cetus Vivian yang kaget, sedangkan Shena mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Hah, kenapa kakak ku yang pintar mendapatkan istri yang begitu bodoh sepertimu," cetus Vivian dengan kasar.
"Yaya, jangan membahas pintar atau bodoh di sini. Bagaimana jika kita ke bioskop, ada film terbaru di sana," ajak Shena yang tidak tersinggung dengan ucapan Vivian yang tajam.
"Yasudah ayo."
Kedua wanita itu saling tertawa bahagia dan bersenda gurau, hingga Shena tak sengaja menabrak dada bidang seorang pria. "Maaf," ucap Shena yang mendongakkan kepala.
"Tidak masalah, kamu di sini juga?"
"Hem, oh ya....kenalkan dia adalah Vivian," kata Shena yang memperkenalkan Vivian.
"Hai, aku Alan." Mereka saling berjabat tangan, Vivian menatap dalam mata pria yang ada di hadapannya. Yah, dia bisa merasakan niat seseorang lewat kontak mata.
"Siapa dia, apa niatnya untuk mendekati Shena. Pintar sekali dia menutupi topengnya itu," batin Vivian yang tersenyum tipis.
"Apa ada yang salah dengan wajahku? kenapa kamu menatap ku begitu?" tutur Alan yang menautkan kedua alisnya.
"Tidak, kamu sangat tampan seperti idola ku. Apa aku boleh berfoto denganmu?" ujar Vivian dengan sangat antusias.
"Baiklah," jawab Alan yang tersenyum, karena dia berpikir jika Vivian mengagumi ketampanannya. Tapi dia salah, Vivian hanya melancarkan aksi dan juga mencari bukti untuk penyelidikannya agar bisa membuka topeng Alan nantinya.
Bukan hanya Vivian, tapi Al juga mengikuti Shena sedari tadi. "Ck, berani sekali dia menatap Shena," batin Al yang mengepalkan tangan dengan sempurna dan terus mengawasi dari beberapa meter saja.
Tak sengaja tatapan Vivian dan Al bertemu, hingga mereka saling memberi kode yang hanya keluarga Wijaya saja yang mengerti. Vivian tersenyum smirk, dia memasukkan obat pencuci perut yang tidak bisa terdeteksi seperti aroma dan juga teksturnya yang mudah larut di dalam air. Dia mengambil kesempatan saat Shena dan Alan sedang bercengkrama, memasukkam obat ke dalam minuman milik pria yang Ingin berniat buruk kepada keluarganya.
Vivian mulai menghitung waktu di ponselnya, lebih tepatnya menghitung waktu 30 detik obat itu akan bereaksi. Dan benar saja, Alan mulai memegang perutnya yang terasa sangat melilit.
"Ada apa dengan perutku? aku hanya meminum ini dan juga memakan popcorn, apa ada yang salah?" batin Alan yang mengambil minumannya dan mencium untuk mendeteksi.
"Minuman dan juga makanannya aman, tidak ada yang salah," gumam Alan, sedangkan Vivian menahan tawanya yang sebentar lagi akan pecah.
"Kalian lanjutkan lagi, aku ingin ke toilet dulu." Tanpa menunggu jawaban, Alan pergi dengan langkah yang tergesa-gesa menuju toilet. Tapi nasibnya benar-benar sangat sial, karena toilet penuh.
"Sial," umpatnya.
Sementara di kejauhan Al tersenyum senang menatap adik sepupunya yang pintar dalam bertindak.
__ADS_1
"Itu baru adikku," kata Al yang mengirimkan lewat pesan singkat.
"Tentu saja," balas Vivian dengan bangga.
"Kenapa dia sangat lama sekali? filmnya sudah selesai," gerutu Shena.
"Mungkin saja dia sedang buang air besar dan terjadi mampet, ah lupakan itu. Ayo kita pergi dari sini," ajak Vivian yang menarik tangan Shena.
"Bagaimana dengannya?"
"Jangan terlalu memikirkan pria itu, akan aku beritahu kepadamu. Jika Alan itu sedang memakai topeng jika di hadapanmu, aku melihat jika dia bukanlah pria baik-baik. Jangan berdekatan dengannya, jika kamu tidak ingin terkena masalah dengan kak Al," kata Vivian yang menatap Shena dengan serius.
"Itu tidak mungkin, dia pria yang menolong nyawaku," sanggah Shena dengan cepat.
"Cepat atau lambat aku akan membuktikannya kepadamu, jika dia pria yang sangat tidak baik. Bahkan auranya terlihat kejam, jangan sampai kamu terjebak dengan mulut manisnya."
"Aku tetap tidak percaya sebelum adanya bukti," kekeuh Shena.
"Yang penting aku sudah memperingatkanmu, jika terjadi apa-apa kepadamu jangan meminta bantuan kepadaku," ketus Vivian yang jengkel dengan saudara iparnya yang menurutnya sangat bodoh dan juga polos.
"Ayo kita pulang," sambung Vivian.
"Aku akan menelfon supir dulu," ujar Shena yang mengambil ponselnya yang ada di tas sandang miliknya.
"Tidak perlu, ada kak Al di sana. Arahkan pandanganmu di jam sembilan, kamu akan menemukan keberadaannya," tutur Vivian yang berjalan menghampiri Al yang di ikuti oleh Shena.
"Kamu di sini?"
"Memangnya kenapa?" sahut Al dengan polos.
"Apa kamu mengikutiku?"
"Yeah, sepertinya begitu."
"Tapi kenapa?"
"Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh dari pria itu," ucap Al dengan tegas.
__ADS_1
"Tapi aku berhutang budi kepadanya," ujar Shena.
"Itu hanya taktiknya saja untuk bisa dekat denganmu," jawab Al yang memperlihatkan rekaman Cctv tentang kecelakaan yang telah di rekayasa oleh Alan.