
17 tahun kemudian....
Pagi hari yang cerah, seorang wanita sedang menatap cermin, menghias dirinya dengan sedikit polesan. Saat akan menata rambutnya dengan rapi, dia sedikit terkejut, "apa aku setua itu?" cetusnya, sang suami terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Berani sekali uban itu tumbuh," sahut Nathan yang memeluk istrinya.
"Jangan mengejekku."
"Walau bagaimana pun itu, aku akan selalu mencintaimu," ucap pria itu yang tak lain adalah Nathan. Keromantisan di pagi hari, di rusak dengan ketukan pintu. Nathan tak menghiraukan suara ketukan pintu, hingga akhirnya Dita memaksa suaminya, "bukalah pintunya."
"Hah, menganggu saja," ketus Nathan dan membuka pintu. Terlihat pria tampan yang tersenyum menghiasi wajahnya, "ayo kita sarapan, semua orang sedang menunggu Ayah dan Ibu," celetuknya yang pergi meninggalkan tempat ini.
"El selalu saja mengangguku," batin Nathan yang menghela nafas.
Dita dan Nathan menuruni tangga, terlihat keluarga kecilnya dan juga keluarga Bara yang sekarang menginap di mansion Wijaya. Semenjak kematian Lilis 5 tahun yang lalu, Nathan memaksa Bara untuk tinggal di mansion Wijaya.
"Akhirnya kalian turun juga, aku menunggu dari tadi," ucap Bara yang kesal.
"Aku tidak yakin dengan itu, menunggu apanya? bahkan kamu sudah sarapan," sahut Nathan.
"Oh ya, dimana Lea? dari tadi aku tidak melihatnya?" tutur Al yang menatap Vivian, anak kedua Bara dan Naina.
"Jangan menatapku begitu kak Al, aku sudah membangunkannya, dia tidur seperti orang mati," cetus Vivian.
"Bahkan di umurku separuh baya tidak membuat aku tidur dengan nyenyak," gumam Nathan yang memijat pelipisnya.
"Serahkan kepadaku," sahut El yang berdiri menghampiri Lea.
El berjalan masuk ke kamar Lea, melihat dengan jelas bagaimana adiknya tertidur dengan sangat nyenyak, "oho, tuan putri tidur dengan sangat nyenyak. Jangan panggil namaku El, jika tidak bisa membangunkannya," gumamnya.
El mengambil hal berharga dari Lea, yaitu sebuah poster para pria tampan yang selalu di koleksi oleh Lea. Yah, Lea sangat mengagumi wajah pria yang berparas tampan. "Bangun lah, dan bersiap-siap untuk ke sekolah," ucap El yang menarik selimut adiknya.
"Sebentar lagi kak, aku masih mengantuk."
__ADS_1
"Bangun atau kakak akan membakar seluruh koleksi mu," ancam El yang tersenyum tipis.
"Jangan," teriak Lea yang spontan berdiri dan mengambil semua poster koleksinya.
"Bersiaplah, semua orang menunggumu di bawah." El berjalan keluar kamar Lea tanpa mendengar jawaban dari adiknya.
"Kedua kakak kembarku sama saja, selalu saja mengancamku. Aku rasanya tidak sanggup tinggal di mansion ini, seseorang tolong culik aku!" batin Lea yang menghela nafas.
Tak perlu waktu lama bagi Lea bersiap-siap, dan menuruni tangga dengan wajah yang ceria. El menatap adiknya dengan heran, "eh, aku baru saja meninggalkannya, dan apa ini? apa Lea tidak mandi?" gumam El yang terdengar oleh Vivian.
"Itu sudah menjadi kebiasaannya," jawab Vivian.
Setelah sarapan pagi, semua orang kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing. El yang bertugas mengantarkan adik-adiknya ke sekolah, dia mengantarkan Vivian lebih dulu di Smp tingkat 1.
Setelah itu, dia mengantarkan Kenzi dan juga Lea yang sekolah dengan tingkat yang sama. Kepintaran Kenzi membuatnya bisa sepangkat dengan Lea yang duduk di kelas 3 Sma. Sedangkan Lea, dia tidak mempunyai kemampuan seperti twins L, tidak ada prestasi yang bisa di banggakan darinya. Karena kasih sayang yang dia dapatkan, membuat Lea menjadi manja.
Di sekolah, Lea merupakan primadona, banyak yang mengangumi kecantikannya. Tak hanya itu, Lea sangat mengagumi wajah pria yang berparas tampan, semacam mood booster baginya dan penyemangat. Hingga banyak pria yang salah paham dengannya.
Twins L mengambil alih perusahaan yang di pimpin oleh Nathan. Karena Nathan mempercayakan kedua putranya, tapi alasannya bukanlah itu, melainkan bisa berduaan dengan sang istri tercinta.
Al menatap layar laptor dengan sangat fokus, mengerjakan beberapa berkas dengan sangat teliti. Sedangkan El lebih fokus dengan ponselnya, mencoba meretas perusahaan yang melakukan kecurangan. El berbinar saat mendapatkan target yang sesuai dengan kriteria perusahaan.
"Dapat, perusahaan A.C Corp," gumam El dengan mata yang berbinar. Dengan cepat dan begitu lihainya, El berusaha meretas data perusahaan itu. Tak membutuhkan waktu lama, perusahaan A.C Corp berpindah tangan.
Seseorang menggebrak mejanya, menggertakkan gigi dengan tangan terkepal dengan sempurna. "Siapa yang bermain-main dengan ku? aku tidak akan melepaskannya dengan mudah," gumam pria itu.
Pria itu memainkan jari-jarinya dengan sangat cepat, mengutak-atik laptop. Usaha tidak akan mengkhianati hasil, Pria itu menarik sudut bibirnya ke atas.
"Jadi pelakunya ada di Indonesia? aku akan kembali," batinnya. Dia melirik asistennya, "Devis, urus keberangkatan ku ke Indonesia secepatnya," titahnya.
"Baik tuan."
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Al yang duduk di sebelah El.
__ADS_1
"Apa lagi jika meretas data perusahaan," sahutnya dengan santai.
"Hentikan pekerjaan mu itu, urus saja masalah perusahaan kita," cetus Al yang menoyor kepala El.
"Aduh! jangan menoyor kepalaku, atau aku bisa geger otak dan menjadi bodoh," ujar El yang di balas dengan tatapan jengah dari Al.
"Tidak akan membuatmu bodoh, jangan drama. Aku sangat mengkhawatirkan Lea, apa kamu sudah menyadap ponselnya?" tutur Al.
"Sudah, aku juga sangat cemas dengan anak itu. Kamu tau bagaimana sifatnya yang menyukai pria berwajah tampan? kegemarannya itu membuat malapetaka baginya," sahut El.
"Untung saja aku datang tepat waktu, jika saja terlambat sedikit saja. Maka, nyawanya dalam bahaya."
"Apa maksudmu?" ucap El yang mengerutkan keningnya.
"Dia selalu menggoda pria tampan, hingga nyawanya hampir melayang karena pria-pria bodoh itu berambisi untuk mendapatkan Lea," jawab Al.
"Adikmu itu selalu saja membuat aku kesusahan," keluh El.
"Ck, dia juga adikmu. Fokuslah dalam bekerja," cetus Al yang kembali menduduki kursi kebanggaannya.
"Lupakan itu, aku sangat merindukan pak pitak. Bagaimana dengan mu?" celetuk El dengan sangat antusias.
"Kita ini sudah dewasa, bersikaplah selayaknya. Lupakan saja pak pitak dan mulai lah bekerja."
"Heh, hidupmu tidak menyenangkan. Lebih baik aku pergi sendiri." El pergi meninggalkan ruangan itu,
sementara Al menghela nafas dengan kasar sembari menggelengkan kepalanya.
El menyetir motor sportnya dengan sangat lihai, menyalip beberapa kendaraan yang menjadi halangannya. Dia sangat merindukan wahana permainan milik pak pitak, dan alasan keduanya ingin melihat apakah pak pitak masih curang atau tidak.
Motornya berhenti di sebuah parkir yang tak jauh dari wahana permainan, kaki nya melangkah untuk masuk ke dalam wahana itu. Tanpa sengaja seseorang melempar kaleng mengenai kepalanya, El menoleh dan mencari sumber masalahnya.
"Hah, aku menemukan pelakunya," gumam El yang mendekati orang itu dan memitingnya dengan keras, membuat sang pelaku terus meronta.
__ADS_1