Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 108 ~ S2


__ADS_3

Lea mengerjapkan matanya dan menatap sekeliling, tempat yang begitu asing baginya. "Aku dimana?" gumam Lea. Dia sangat terkejut dengan kondisinya sekarang, kedua tangan dan kakinya terikat dengan sangat erat. Lea berusaha menjangkau sebuah benda yang bisa di pergunakan untuk membuka tali yang melilitnya.


Perhatiannya teralihkan saat melihat pintu terbuka, "Akhirnya kamu bangun juga," ucap seseorang di sebalik pintu. Lea menyipitkan matanya menatap seorang pria yang memakai topeng separuh wajah, Lea sangat khawatir dengan keselamatannya. Berusaha untuk melepaskan ikatan tali di tangannya, sembari menatap pria itu.


"Ck, kamu tidak akan bisa lepas dari ku."


"Siapa kamu?" ketus Lea yang menatap tajam.


"Aku? aku malaikat pencabut nyawa mu," sahut Aron yang tertawa menyeramkan, membuat Lea bergidik ngeri.


"Tolong lepaskan aku, apa kesalahanku padamu?" rengek Lea yang ketakutan.


"Kamu tidak memiliki kesalahan apa pun kepadaku, aku hanya menjalankan tugasku sebagai pembunuh bayaran," jujur Aron.


"A-Apa?" sahut Lea yang tersentak kaget.


Aron yang mendekati Lea tak sengaja topengnya terlepas, seketika raut wajah Lea berubah menjadi tatapan mengangumkan. "Wow, ternyata di sebalik topeng itu tersimpan wajah yang sangat tampan. Ketampanan nya seakan mood booster bagiku," batin Lea yang tersenyum.


Aron seakan terkejut, saat topengnya terlepas. Tatapan mereka saling bertemu, "kenapa kamu menatapku begitu? bukan kah tadi kamu ketakutan?" tanya Aron yang memiringkan kepalanya.


"Yah, tadinya begitu. Tapi tidak lagi, ternyata kamu sangat tampan," puji Lea dengan mata yang berbinar.


"Aku tidak peduli dengan itu, karena sebentar lagi kamu akan mati di tanganku," jawab Aron yang tertawa menyeringai.


"Yayaya, hentikan tertawa bodoh mu itu. Aku sangat lapar, cepat berikan aku makanan," cetus Lea dengan santai.


"Ck, jangan memerintahku."


"Aku tidak memerintahmu, tapi perutku saat ini bertolak belakang," ucap Lea dengan puppy eyes dan mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Aron menghela nafas dengan kasar, "baiklah, tapi singkirkan tatapan itu," cetus Aron.


"Kenapa? apa kamu terpesona dengan ku? kamu adalah pria yang paling tampan setelah kedua kakak laki-laki ku yang sangat menyebalkan itu," ucap Lea dengan sangat antusias.


"Aku tidak peduli dengan itu." Aron memberikan sepiring nasi goreng yang komplit, dan menyodorkan ke arah Lea.

__ADS_1


"Di saat seperti ini, porsi makanku meningkat. Bisa di tambah lagi, itu tidak cukup untukku."


"Dasar rakus."


"Setidaknya aku mati dengan perut kenyang dan juga melihat wajah tampanmu, bagaimana jika kamu menjadi kekasih ku? itu penawaran yang tidak pernah aku berikan kepada siapa pun," ujar Lea yang tersenyum.


"Dasar gadis aneh," jawab Aron yang keluar dari ruangan itu.


"Hei, pikirkan kembali penawaranku," pekik Lea.


Aron berjalan menuju kamarnya dan mengambil pisau yang telah di asah dengan sangat tajam, melihat mata pisau membuatnya tersenyum. "Sepertinya tugas ini akan cepat selesai," gumamnya, Aron kembali saat Lea telah menghabiskan makanannya.


"Hah, akhirnya kamu kembali, aku sudah selesai makan. Oh ya, apa ini masakan mu? sangat lezat sekali dan aku sangat menyukai nya."


"Kamu sangat cerewet, diamlah. Apa ada kata terakhirmu?" ujar Aron yang tanpa ekspresi.


"Mendekatlah, akan aku katakan." Aron selalu mengabulkan keinginan terakhir dari tergetnya, sebelum membunuhnya dengan sadis.


Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa inci. Lea dengan cepat mengecup pipi Aron dan membuatnya terkejut, "berani sekali kamu menciumku," ucap Aron yang mendorong tubuh Lea.


"Sudah cukup untuk bermain-main, saatnya untuk menghadapi ajalmu," ucap Aron yang memainkan pisaunya.


****


Di sisi lain, Al dan El menghubungi Lea dan tidak ada jawaban. Mereka sangat menyesal karena tidak menjemput Lea dengan tepat waktu, "apa kamu menemukan lokasinya?" tanya Al dengan penuh harapan.


"Belum, di mana anak itu? aku sangat mencemaskannya sekarang," jawab El yang menatap Al beberapa detik.


"Kamu sangat ceroboh, bukan kah ini seharusnya sudah menjadi tugasmu untuk mengantar dan menjemput Lea?" ucap Al dengan tegas menatap El dengan kesal.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab El yang menundukkan kepala.


"Hem, cari lokasinya dengan cepat. Aku tidak akan memaafkan mu sebelum menemukan adikku, Lea."


"Baiklah."

__ADS_1


Ponsel Lea yang tertinggal di sekolah, sedikit membuat El kesulitan untuk menemukan lokasi adiknya. Hingga dia baru menyadari, ada satu harapan yang bisa menemukan lokasi pasti dari Lea.


Dia baru ingat, jika tahun lalu dia memberikan sebuah cincin polos yang bisa mendeteksi keberadaan adiknya. Tak butuh waktu lama, "Dapat." Ucapan El membuat Al menghampirinya.


"Eh, lokasi ini tidak jauh dari pabrik tua," tutur El.


"Jangan membuang waktu, ayo kita kesana."


Akhirnya twins L sampai di sebuah bangunan yang tak jauh dari pabrik tua. Mereka masuk dengan cara bersembunyi, karena tidak tau lawan yang akan mereka hadapi. Setelah mengecek keadaan yang sekiranya aman, karena tidak melihat satu orang pun di sana.


Twins L menerobos masuk dan menggeledah setiap ruangan, hingga Al menemukan seseorang yang menodongkan adiknya dengan pisau yang sangat tajam. Dengan gerakan yang sangat cepat, Al melempar shuriken nya mengenai pisau itu dan terlempar jauh. Aron sangat kesal, dia tidak menyukai jika ada yang menganggunya dalam bekerja, sedangkan Lea bernafas lega.


"Huff....akhirnya kak Al datang tepat waktu," batin Lea yang tersenyum.


Suasana kian mencekam di antara kedua pria itu, sementara Lea menatap mereka dengan santai, dia mencari tempat yang sekiranya sangat cocok untuk melihat adegan bertarung.


"Berani sekali kamu melukai adikku," ucap Al yang menatap tajam.


"Aku hanya menjalankan misi, jangan halangi aku," balas Aron yang menatap tak kalah tajam.


Al yang geram menghampiri Aron dan memberi pukulan keras di pipi Aron, "Itu hukumannya karena kamu menculik adikku," ucap Al dengan wajah yang dingin. Gerakan Al yang sangat cepat, menendang tubuh Aron hingga terpental.


Aron mengelap sudut bibirnya yang berdarah, mengepal tangannya dengan sempurna membalas serangan dari Al, sedangkan El memeluk tubuh Lea dengan sangat erat. Pertarungan itu terhenti saat Al melihat liontin yang sangat dia kenal, "darimana kamu mendapatkan liontin itu," tanya Al yang penasaran.


"Kamu tidak perlu tau." Aron membalas serangan itu dan mengambil liontinnya yang terjatuh. Dia menatap El yang sedang memeluk Lea, menatapnya secara bergantian. Tak sengaja Aron melihat sebuah liontin yang terpajang di leher milik El, hingga dia terkulai lemas membuat twins L dan Lea menjadi bingung.


"Kenapa berhenti? ayo kita lanjutkan pertarungan ini, akhirnya aku menemukan lawan yang sepadan," celetuk Al.


"Bagaimana dengan keadaan Ibu?" ucap Aron yang menatap Al dengan sendu.


"Apa maksudmu dengan Ibu?" sahut Al yang memiringkan kepalanya.


"Ibu Dita, apa kalian ingat 17 tahun yang lalu? seorang anak yang berusia 6 tahun di telantarkan oleh kedua orang tuanya? dan masalah liontin itu? Ibu Dita yang memberikannya dengan ku."


"Abian? kamu Abian?" ucap Al menghampiri Aron dan memeluknya, di ikuti oleh El. Sedangkan Lea sangat kebingungan dengan situasi yang tidak dia mengerti.

__ADS_1


__ADS_2