Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 105


__ADS_3

Karena hari cuti, Bara membawa keluarga kecilnya untuk mengunjungi mansion Wijaya. Mengemudikan mobil dengan hati-hati, dan fokus dalam menyetir


tak lama mereka sampai dan turun dari mobil, Melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam mansion. Dita dan Nathan menyambut kedatangan Bara dan Naina, mereka seling berpelukan dan mempersilahkan untuk masuk.


Twins L yang sedang bermain dengan baby Lea, segera menghampiri Naina yang tengah menggendong baby Kenzi. "Al ingin gendong baby Kenzi," ucap Al yang mengulurkan kedua tangannya, Naina mengangguk mengiyakan.


El sedang menggendong baby Lea, sementara Al menggendong baby Kenzi. Sedangkan Bara dan Nathan, duduk di sofa sembari menonton tv, "Bagaimana dengan perusahaan mu?" celetuk Daniel yang melirik Nathan.


"Perusahaanku sangat baik, aku tidak sanggup untuk mengurus semua usaha. Jadi, aku akan menyerahkan sebagian kepada mu," sahut Nathan dengan serius.


"Tidak, aku lebih menyukai menjadi prajurit khusus daripada mengurus perusahaan mu yang lain," tolaknya.


"Ayolah, aku tidak ingin serakah. Untuk masa depan anakmu, warisan yang sudah di tulis oleh Papa sebelum dia meninggal."


Bara menghela nafas, "baiklah, jika kamu memaksa."


Obrolan santai dan ringan itu terhenti saat melihat kedua wanita cantik yang telah bersiap-siap membuat Nathan dan Bara mengerutkan kedua keningnya.


"Kalian mau kemana?" ucap Nathan.


"Ada sesuatu yang ingin kami beli, dan sekalian aku titipkan Lea kepadamu." Dita menyerahkan baby Lea ke tangan Nathan.


"Aku juga menitipkan baby Kenzi, rawatlah anakku dengan baik," sambung Naina yang menyerahkan baby Kenzi di tangan Bara.


"Kalian bawa saja," tolak Bara.


"Tidak, cuaca di luar sana sedang panas terik dan aku tidak ingin jika anak kita sakit."


"Aku titip Lea," ucap Dita.


"Baiklah." Nathan dan Bara menatap punggung dari kedua wanita itu yang mengilang di balik pintu. Bara menghela nafas dengan kasar, "hah, sepertinya aku terkena kutukan."


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" cetus Nathan yang menautkan kedua alisnya.


"Kamu akan tau nanti."

__ADS_1


Twins L yang sedang bermain kejar-kejaran, tak sengaja menjatuhkan vas bunga dan membuat baby Lea menangis dan di ikuti oleh baby Kenzi, "ups maaf, " ucap El yang membekap mulut dengan kedua tangannya.


"Kalian selalu saja membuat masalah, karena perbuatan kalian membuat Lea dan Kenzi menangis," ucap Bara yang tampak frustasi saat menenangkan anaknya, bahkan Nathan juga kebingungan saat menenangkan Lea yang rewel.


"Putri Ayah yang imut, jangan menangis lagi ya. Cup....cup berhentilah menangis," tutur Nathan yang mengusap punggung Lea dengan sangat lembut.


Bara mencoba untuk mengikuti cara Nathan dan berhasil, dan saat meletakkan Kenzi membuatnya kembali menangis. "Nathan, bagaimana ini? aku tidak ada pengalaman untuk mengurus bayi. Apa yang salah?" tanya Bara yang menatap Nathan dengan harapan.


"Periksa popoknya, siapa tau penuh atau pup," jawab Nathan yang meletakkan Lea di atas sofa empuk. Bara melakukan apa yang di katakan oleh Nathan, "kamu benar! ini sangat bau....bagaimana cara menggantinya?" tanya Bara.


"Menyusahkan ku saja! jika kamu tidak ingin mencucinya dengan air, gunakan saja tisu basah yang ada di atas nakas yang di belakangmu."


"Hehe....jangan ketus begitu, atau baby Lea akan terbangun nanti," ujar Bara yang mengganti popok. Saat selesai mengganti popok anaknya, Kenzi mengencingi wajah Bara dan membuat Nathan dan twins L tertawa terpingkal-pingkal.


"Wah, ternyata baby Kenzi sama nakalnya dengan kami," celetuk El yang bertepuk tangan.


"Apa itu sering terjadi?" tanya Nathan di sela-sela tawanya.


"Heh, mau bagaimana lagi? ini sudah menjadi nasibku dan juga wajah tampanku."


"Aku tidak sabar bagaimana sikapnya saat dewasa nanti," ucap Nathan.


"Semoga saja Kenzi tidak nakal seperti Al dan juga El," tutur Bara yang mendapat pelototan mata dari twins L.


****


Zean melihat Raya yang sedang duduk setelah lelah dalam bekerja, melangkahkan kaki mendekati Raya. "Pakailah pakaian ini, sebentar lagi aku akan membawamu pergi," ucap Zean yang menyodorkan paper bag yang berisi satu set gaun beserta perhiasan.


"Apa ini untukku?"


"Hem, pakai lah. Aku akan menunggu mu di sini."


Raya mematuhi perkataan Zean dan memakai gaun dan perhiasan. Tak lama bersiap-siap, Raya menuruni tangga dengan sangat anggun membuat Zean menatapnya tidak berkedip.


"Dia sangat cantik seperti dewi, aku sudah tidak sabar lagi untuk segera memilikinya," batin Zean yang menatap Raya dengan takjub.

__ADS_1


"Bagaimana penampilanku? apa aku sangat cantik, hingga matamu tidak berkedip?" goda Raya membuat Zean salah tingkah.


"Jangan banyak bicara, ayo ikuti aku. Aku ingin membawamu dinner di suatu tempat."


"Ayo katakan alasanmu untuk membawaku makan malam? apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" ucap Raya yang sangat penasaran.


"Sudah aku bilang untuk diam dan jangan banyak bicara," seloroh Zean.


"Hem baiklah, aku akan mengunci mulutku," jawab Raya yang memperagakan mulut yang terkunci.


Zean mengajak Raya makan malam di sebuah kapal pesiar miliknya, Raya menatap kagum sekaligus takjub dengan kapal persiar yang sangat mewah itu. Zean melihat raut wajah Raya dan tersenyum, "lihat lah jalanmu dengan benar."


Di sebuah meja yang telah tersedia, Zean dan Raya melihat suasana di atas kapal persiar itu, suasana yang sangat romantis. Zean mengeluarkan kotak kecil dan membukanya di hadapan Raya, "aku tidak tau kapan perasaan ini muncul, tapi aku sangat yakin dengan keputusanku. Raya, maukah kamu menemani ku dan hidup bersama denganku?" ucap Zean yang menatap dalam mata Raya.


"Ini tidak mungkin, aku sudah memiliki tunangan. Bagaimana bisa aku menerimamu? maafkan aku," tolak Raya tak membuat Zean menyerah.


"Kamu akan merubah keputusanmu, saat melihat sebuah kebenaran dari tunangan yang kamu banggakan itu," cibir Zean.


"Apa maksudmu? jangan menjelek-jelekan Bryan di hadapanku," ketus Raya yang menggebrak meja dan berdiri menatap tajam kedua mata Zean.


"Aku tidak ada maksud seperti ini, akan aku buktikan." Zean bertepuk tangan sebanyak 3 kali dan tak lama seseorang datang dengan membawa berkas di tangannya, menyerahkan ke Zean. Zean menyerahkan berkas itu di hadapan Raya.


Raya membaca berkas itu, hingga air matanya menetes. Menutup mulutnya seakan tak percaya dengan semua bukti mengenai perbuatan bejat Bryan yang selalu tidur dengan beberapa wanita di setiap malamnya.


"Jadi selama ini, Bryan telah menipuku dan juga mengkhianati aku?" gumamnya yang menangis, Zean tak berdaya saat melihat air mata yang mengalir deras di pipi Raya membuatnya dengan sigap memeluk Raya dan menenangkannya.


"Apa maksudmu dengan memberikan bukti kebejatan dari pria itu?" ucap Raya yang menatap dalam mata Zean dan melepaskan pelukan itu.


"Aku sangat mencintaimu, dan tak rela jika kamu bersama dengan pria itu," sahut Zean dengan santai.


"Kalian sama saja, mengambil keuntungan dariku," ketus Raya di sela-sela tangisannya.


"Aku tidak masalah jika kamu menikah dengan pria yang lebih baik dariku, tapi kenyataan nya? Bryan yang kamu banggakan itu lebih buruk dari ku. Jangan menangisi pria yang tidak pernah menghargai perasaanmu, air matamu sangatlah berharga. MAUKAH KAMU MENIKAH DENGAN KU?" ucap Zean yang berjongkok sembari memegang tangan Raya.


Raya sebenarnya juga merasakan hal yang sama, dia menganggukan kepalanya sambil menghapus air mata berharga miliknya, "Aku mau menikah denganmu." jawaban Raya membuat Zean bahagia, menyelipkan cincin berlian di jari manis sang pujaan hati, dia berdiri memeluk Raya dengan sangat erat.

__ADS_1


Zean dan Raya saling tersenyum dan mereka berciuman di suasana romantis di kapal persiar.


__ADS_2