Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 131 ~ S2


__ADS_3

Pria tampan berkemeja putih, menyenderkan punggungnya di kursi kebesaran sembari menatap keluar jendela, terlihat jalanan yang padat akan lalu lintas. Mengusap wajahnya dengan kasar seraya mengumpat nasibnya yang malang.


"Bukan kah ada Al? kenapa harus aku. Mataku mengantuk saat melihat banyak berkas yang menggunung itu," batin El sambil menghela nafas dengan kasar.


Suara ketukan pintu mengalihkan seluruh perhatiannya,


seorang pria yang dia rekrut sebagai asisten nya. "Akhirnya kamu datang juga, selamat bergabung di perusahaan ini," ucap El sembari menjabat tangan asisten barunya.


"Terima kasih tuan, perkenalkan nama saya Ben," ucapnya dengan formal.


"Nama ku El, dan jangan berbicara dengan formal dengan ku," cetus El yang menepuk bahu Ben.


"Baik tuan."


"Bagus," sahut El yang tersenyum penuh arti.


"Kenapa tuan tersenyum menatapku begitu?" batin Ben yang menautkan kedua alisnya.


"Mulailah kerjakan dan pelajari berkas-berkas yang bertumpuk di meja kerjaku," titah El yang melangkah pergi.


"Tuan mau kemana?" ucap Ben yang sedikit berteriak.


"Aku ingin menemui calon istriku, kamu urus semuanya dengan baik," sahut El tanpa menoleh.


"Ya tuhan, beri aku kesabaran untuk menghadapi atasanku," gumam Ben yang mengelus dadanya.


El sangat senang karena pekerjaan di kantor ada yang mengurusnya, dengan begitu dia bisa leluasa untuk menemui Anna.


El berjalan mendekati Bonar yang tengah menyirami tanaman kesayangannya, saat El menepuk punggung Bonar yang terkejut mengarahkan selang yang berisi air mengenai seluruh tubuh El yang basah.


"Aku sudah mandi sebelumnya. Kenapa Paman menyiramku dengan air," gerutu El.


"Kenapa kamu menyalahkan ku, itu kesalahanmu sendiri yang mengagetkan ku," cetus Bonar yang menatap El dengan kesal.

__ADS_1


"Ya sudahlah tidak masalah," pasrah El.


Bonar tersenyum smirk, "tidak, lebih baik kamu ganti saja pakaian formal itu atau kamu bisa saja sakit."


"Sayang sekali aku tidak membawa baju ganti, aku akan menelfon asisten ku untuk membawakan 1 set pakaian," jawab El yang membenarkan ucapan Bonar.


Dengan cepat Bonar menghentikan El yang ingin menghubungi asisten nya, "itu tidak perlu karena memakan banyak waktu. Bagaimana jika kamu memakai pakaian ku," tawar Bonar yang mengangkat kedua alisnya.


El menurut dan mengikuti Bonar dan mengekorinya, hingga mereka sampai di kamar sederhana milik Bonar. Sebagai pemilik rumah yang sangat baik, dia memberikan 1 style pakaian yang sangat terkenal di era nya.


"Apa itu tidak kebesaran? dan baju ini sangat ketinggalan jaman."


"Jangan remehkan nya wahai anak muda, saat aku seusia mu juga memiliki postur tubuh sepertimu. Jika tidak ingin mengenakan itu, bagaimana dengan menggunakan kain sarung saja," ucap Bonar.


"Lebih baik aku memakai kain sarung saja," pasrahnya yang mengenakan kain sarung hanya untuk sementara sampai Ben mengantarkan pakaiannya.


"Oh ya tuhan, apa bulu hidungku sekarang ini rontok? bau kain sarung ini sangat lah menyengat, dan juga aku merasa gatal saat memakainya. Aku sangat yakin jika ini adalah rencana Pak pitak yang ingin membalaskan dendamnya kepadaku. Ayah mertua, kali ini aku akan membalikkan keadaannya," batin El.


"Apa kamu sibuk hari ini?"


"Iya, aku sudah membuat janji dengan seseorang. Maafkan aku," ucap Anna.


Tak lama, datanglah seorang pria yang baru saja turun dari motornya. Menyalami Bonar dengan santun serta tersenyum ke arah El yang tengah mengenakan sarung bermotif kotak-kotak yang sangat bau, entah berapa lama sarung itu tidak di cuci membuat El sedikit minder.


"Kamu terlihat sangat cantik Anna, ayo kita pergi," ajak pria itu bernama Jojo.


"Kalian mau kemana?" celetuk El.


"Tidak perlu ikut campur dengan urusan orang lain," cetus Jojo yang menusuk sembari tersenyum.


Anna dan Jojo yang berpamitan pergi, meninggalkan El yang menatap nanar.


"Siapa pria itu Paman?" tanya El yang menatap Bonar yang meminum kopinya.

__ADS_1


"Mereka berteman sejak kecil, sikap Jojo sangat lah baik dan juga santun. Kamu tau, jika aku dan keluarga Jojo ingin menjodohkan mereka. Bagaimana menurutmu, apa mereka tampak serasi?" ucap Bonar seakan membuat dunia El runtuh.


El berniat pergi, namun di cegat oleh Bonar, "jangan menghalangiku Paman, di sini aku merasa di sakiti, di khianati, di campakkan. Bahkan masih ada kata DI yang tidak bisa aku sebutkan, tolong mengertilah aku Paman," ucap El yang dramatis.


"Heh, aku tidak menghalangi mu untuk pergi. Lepaskan kain sarung yang kamu kenakan, itu adalah sarung wasiat yang tidak boleh di cuci. Sarung yang sangat langka karena berusia 30 tahun." Penuturan dari Bonar membuat El menganga tak percaya.


El melepaskan kain sarung itu dan melemparnya yang tak sengaja mengenai wajah Bonar, dengan langkah seribu El berhasil kabur dari amukan Bonar.


"Sial, usahaku ternyata hanya sia-sia. Dan Pak pitak, aku mengira dia mencegatku tapi ternyata hanya meminta sarung yang sangat bau itu. Aku akan berjuang, sebelum janur kuning melengkung," gumam El yang bertekad dengan semangat yang tersisa.


****


Kebetulan yang sangat pas, Caroline bertemu kembali dengan Zean saat polisi menargetkan nya sebagai buronan. Zean menolong wanita yang menurutnya sangat malang, "terima kasih telah menolongku untuk ke sekian kalinya," tutur Caroline dengan tulus.


"Tidak perlu berterima kasih," sahut Zean yang pergi.


"Tunggu dulu," ucap Caroline yang sedikit berteriak. Zean menghentikan langkahnya dan menoleh, "ada apa?"


"Aku ingin mengembalikan selendang milikmu." Caroline memberikan selendang itu dan di ambil oleh Zean.


"Apa aku boleh menginap di tempatmu, hanya untuk sementara waktu saja," ucap Caroline dengan penuh harap.


"Tidak," tolak Zean yang singkat, padat, dan jelas.


"Aku mohon, bantulah aku sekali lagi. Aku tidak ingin masuk penjara," rengek Caroline dengan tatapan penuh harap dan juga putus asa. Zean seakan melihat dirinya pada wanita malang itu, hingga dia mengangguk pelan.


"Hem, baiklah. Tapi aku tidak ingin di repotkan olehmu."


Caroline tersenyum sumringah, "tenang saja, aku tidak akan menganggu ataupun merepotkan mu."


"Ikuti aku, sebelum itu tutupi dulu wajahmu atau polisi akan mencurigai mu nanti," ujar Zean yang memberikan selendang milik istrinya kepada wanita yang sangat malang.


Caroline sangat bersyukur, walaupun sekarang dia tidak bisa kembali ke mansion mewahnya karena polisi telah menjaga mansion itu dengan sangat ketat, tapi masih ada orang baik yang mau menolongnya. Dia tersenyum menatap punggung Zean, postur tubuh pria itu hampir sama dengan suaminya yang telah tiada. Setidaknya kerinduan akan suami tercintanya terobati dengan pria asing yang baru di kenalnya.

__ADS_1


__ADS_2