
Kebahagiaan itu dapat di rasakan oleh keluarga Wijaya, Dita menyeka air matanya menatap semua anggota satu persatu. "Dulu aku berjuang sendirian tanpa keluarga dan suami, aku selalu memikirkan nasib anak-anak ku kelak. Aku sangat bersyukur mendengar kabar baik ini, aku bisa tidur lebih nyenyak. Aku akan berdoa untuk Lea, Kenzi, dan Vivian agar mereka sukses dan mendapatkan pasangan yang cocok dan mencintai mereka nantinya," batin Dita yang tersenyum.
Shena menatap Ibunya yang sedang menyeruput teh, "Mom, bisa kita bicara sebentar?" ucap Shena dengan penuh harap. Nurma menatap putrinya dan tersenyum, "baiklah, ayo!" Shena membawa Nurma untuk menjauh dari semua orang, dia ingin menceritakan keluh kesah yang di rasakan olehnya.
Mereka pergi ke taman mansion, pemandangan yang sangat memanjakan mata. Bunga yang bermekaran, beberapa pohon mangga yang berbuah sangat lebat dan di rawat dengan sangat baik. Nurma manetap putrinya yang tengah menghela nafas dengan kasar, "ada apa Nak? kenapa kamu tampak cemas?" tanya Nurma.
"Mom, aku masih gelisah dengan ini. Walaupun kalian telah mencoba memberikan pengertian kepadaku, tapi tetap saja hati kecilku merasa cemas," ucap Shena yang menatap Nurma.
"Sayang, apa yang kamu cemaskan? semua akan baik-baik saja, percayakan ini semua dengan kehendak yang di atas."
"Apa itu tidak sakit? melahirkan bayi kembar tiga?" tanya Shena dengan polos.
"Setiap wanita di beri kenikmatan melahirkan seorang anak, itu sudah menjadi kodratnya. Mom ingin kamu selalu menjaga kandunganmu tanpa memikirkan hal yang akan membuatmu stress," jawab Nurma yang menggenggam tangan anaknya dengan erat.
"Baiklah Mom, setidaknya aku sedikit tenang sekarang."
"Apa kamu sudah mencintai Al?" tutur Nurma yang menatap dalam putrinya.
"Aku rasa begitu! awalnya aku tidak menyukainya, dia sangat dingin, arrogant, dan juga sombong. Tapi itu hanya sisi luarnya saja, dia sangat baik kepada ku."
"Bagus Sayang, pernikahan kesalah pahaman kalian itu akhirnya berujung manis, ups.." ucap Nurma yang keceplosan dan dengan cepat menutup mulut dengan tangannya.
Shena kaget dengan pengakuan Nurma, "jadi Mom tau jika pernikahan itu hanya salah paham saja?" cetus Shena yang bertolak pinggang.
"Kenapa aku bisa keceplosan," lirih pelan Nurma yang memukul mulutnya dengan pelan, dia melihat putrinya yang melontarkan tatapan menyelidik. "
"Hehe....sebenarnya kami tau di saat Ayah mertuamu menyelidiki kasus kalian, kamu tau sendiri bagaimana kekuasaan Wijaya yang menyelidikinya dengan cepat."
"Lalu? kenapa Mom diam saja dan tidak mengatakannya kepada ku?"
"Mom dan Ibumu Dita sudah menjodohkan kalian saat kami menjadi sahabat, hah itu sudah sangat lama sekali. Itu sebabnya kami hanya diam saja, jangan marah. Bukankah kehidupan mu sekarang bahagia? jangan pikirkan masa lalu, tapi berpikirlah kedepan."
"Tapi Shena masih marah kepada Mom."
"Lupakan! pikirkan kehamilanmu saja."
__ADS_1
Shena menghela nafas dan mengangguk kepala, "Mom benar, ayo kita masuk."
"Hem."
****
Keesokan paginya..
Anna yang telah terbangun dari tidurnya menoleh kearah samping, dia tersenyum saat melihat suaminya yang sedang terlelap. "Aku tidak menyangka, jika seorang anak laki-laki yang selalu membuat kerugian besar terhadap Ayahku kini menjadi suamiku. Dunia ini sangatlah aneh, tapi aku bersyukur bisa mempunyai suami yang mencintaiku," batin Anna yang mengecup kening El.
Dia berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuh nya sebelum sang suami bangun. Semenjak hamil Anna selalu berdandan yang semasa gadis jarang sekali untuk merias diri, menatap cermin rias sembari menatap wajahnya yang terlihat sangat cantik.
"Wah, istriku sangat cantik pagi ini. Berikan aku ciuman selamat pagi," ucap El dengan suara serak khas bangun tidur.
"Eh, kapan kamu bangun?" jawab Anna yang menoleh.
"Baru saja, pagi ini kamu terlihat rapi."
"Hem, aku ingin ke rumah Ayah. Semenjak pulang kita belum menjenguknya, aku sangat khawatir. Antarkan aku kesana," bujuk Anna yang menghampiri El.
"Jangankan mengantarmu, aku juga ikut menemanimu. Hah, aku sangat rindu dengan ayah mertua ku itu," ujar El.
"Apapun keinginan mu."
Setelah bersiap-siap dan berpamitan kepada semua orang, El dan Anna menuju rumah Bonar. Anna sangat tidak sabar untuk menemui ayahnya yang sangat dia rindukan, apalagi dia meminta keluarga mertua untuk tidak mengatakan apapun kepada sang ayah mengenai kehamilannya.
Mobil berhenti di perkarangan rumah, mereka melihat Bonar yang sedang duduk manis dan membaca koran seraya menyeruput kopi. Anna dan El menghampiri bonar, "halo Ayah mertua, lihat ke arah sini! menantumu yang sangat tampan plus kaya raya tajir melintir datang untuk menemui Ayah," teriak El yang membuat Bonar menutup kedua telinganya.
"Berisik, suaramu memekakkan telingaku. Bagaimana jika aku tuli karena mendengarkan suaramu?" ketus.
"Aku hari ini bawa kabar baik untuk Ayah mertua, tapi sebelum itu berikan aku pelukan," ucap El yang menghampiri Bonar dan memeluknya.
"Baiklah-baiklah katakan kabar baik itu, tapi sebelum itu di mana oleh-oleh untukku," ujar Bonar yang pasrah di peluk oleh menantunya, dia melepaskan pelukan yang hanya sepersekian detik saja. El bersiul membuat sang supir membawa beberapa hadiah untuk ayah mertuanya, seketika mata Bonar berbinar saat melihat banyak sekali hadiah dari El.
"Ayah," panggil Anna dengan wajah sendunya saat menatap Bonar.
__ADS_1
"Anna." Bonar menghampiri sang putri dan Memeluknya dengan sangat erat, karena dia sangat kesepian semenjak kedua putrinya menikah.
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang Ayah lihat, aku sangat baik."
"Ayo duduklah," ajak Bonar yang mempersilahkan anak dan menantunya untuk duduk bersama. El sedari tadi tersenyum membuat Bonar mengerutkan keningnya, "kenapa kamu tersenyum saja, katakan kabar baiknya."
"Selamat Ayah mertua yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek," ucap El membuat Bonar terkejut dengan perasaan yang sangat bahagia, tanpa sadar air mata bahagianya menetes membasahi pipi. Menatap putri nya yang menganggukkan kepala, "apa itu benar Nak?" ujar Bonar untuk memastikan kebenarannya.
"Benar Ayah! bukan hanya satu cucu melainkan dua," jawab Anna yang mendapatkan pelukan dari sang Ayah.
"Hiks....akhirnya mimpiku terwujud bisa memiliki cucu, bukan satu tetapi dua. Aku sangat bahagia mempunyai cucu sultan," batin Bonar yang tersenyum senang.
"Apa kita ini keluarga teletubbies? perutku sangat lapar," tukas El yang sejujurnya sangat cemburu.
"Aku hampir saja melupakannya, ayo kita sarapan bersama. Aku sudah memesan makanan untuk kita bertiga," tutur Anna yang menyiapkan makanannya.
Setelah sarapan, Bonar meminta Anna untuk beristirahat karena rasa kantuk yang di derita nya semenjak hamil. Sementara El dan Bonar berbincang di teras rumah, "aku salut denganmu, tokcer juga!"
"Ayah memuji atau sedang meledekku?" jawab El yang menatap Bonar.
"Tidak keduanya," balas Bonar dengan santai seraya mengangkat bahunya.
"Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu, ini sangat spesial karena kamu telah memberikan kabar baik ini, tunggu sebentar!" kata Bonar yang masuk ke dalam kamarnya mencari sesuatu untuk El.
Bonar menyerahkan sebuah kotak ukuran sedang kepada El, "ambillah."
"Apa boleh di buka?"
"Buka saja."
El membukanya dengan sangat antusias karena penasaran dengan hadiah dari Bonar, senyum nya seakan pupus melihat kain sarung dengan bau yang menyengat.
"Kain sarung?" ujar El yang mengerutkan kening.
__ADS_1
"Lebih tepatnya kain sarung warisan keluarga, kamu terpilih menjadi pewarisnya. Jagalah kain sarung itu dan jangan pernah di cuci."
"APA?"