
Setelah jam istirahat sekolah, twins L mencoba menghampiri Abian yang sangat pendiam. Mereka khawatir dengan kondisi sahabatnya itu, "boleh kami duduk di sebelahmu?" ucap Al yang di anggukan kepala oleh Abian, mereka duduk di antara Abian.
"Hei, ceritakan kepada kami. Jangan menyimpannya sendiri," tutur El yang menatap Abian dengan seksama.
"Kedua orang tuaku mengkhianatiku, aku sangat membenci mereka. Sekarang aku hanya sendiri di dunia ini, hanya sendiri," lirih pelan Abian di sela-sela tangisannya.
"Jujur saja kami tidak tau bagaimana perasaanmu saat ini, tapi kami di sini kan? kamu tidak akan merasa sendiri lagi," ujar Al.
"Bagaimana cara nya? bahkan kedua orang tuaku membuangku layaknya sampah, mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sangat membenci mereka," seloroh Abian dengan prnuh kebencian.
"Tinggal lah di mansion kami, di sana kamu akan merasakan kasih sayang dari semua orang terutama Ibu dan juga Ayah," tutur El yang mengangkat kedua alisnya.
Seketika Abian berhenti menangis, dengan sangat antusias, "apa itu boleh?"
"Aku sangat yakin, jika Ibuku membolehkan nya."
"Aku harus jujur dengan kalian. Sebenarnya, Mommy ku sangat menyukai Ayah Nathan. Aku takut wanita itu merebutnya dari kalian, bahkan aku sangat malu untuk mengatakan ini," jujur Abian uang tidak berani menatap kedua bola mata twins L.
"Oho jadi ulat bulu itu Mommy mu? tapi kamu tenang saja, itu tidak akan terjadi." Al menepuk bahu Abian dan menuju ke kelas, Abian senang karena mempunyai sahabat yang sangat baik kepadanya.
Nathan kasihan dengan nasib Abian dan mengijinkan tinggal di mansion, itu semua akibat bujukan dari twins L dan juga istrinya. Dia juga mengetahui jika Abian adalah anak dari Celin dan Farel, setelah meminta data lengkap dari Daniel.
****
Di saat makan malam, Lilis melihat wajah Bara yang selalu tersenyum, menghiasi wajahnya yang tampan.
"Apa kamu kemasukan jin?" ucap Lilis mengerutkan kening.
"Tidak, coba tebak," tantang Bara.
"Apa kamu naik jabatan?" praduga Lilis.
"Salah lagi, yang lain?"
"Jangan bermain teka-teki, cepat katakan! kenapa kamu tersenyum?"
__ADS_1
"Aku ingin melamar seorang wanita Bu," ucap Bara dengan sangat antusias. Lilis yang tak percaya memukul kepala Bara menggunakan sendok, "kamu jangan bercanda? itu tidak baik untuk kesehatan Ibu. Apa kamu mau Ibu mati muda hah?" ketusnya.
"Auu....sakit Bu! jika ibu mati, tentu saja mati tua. Lihat lah usia ibu sekarang," sahut Bara yang kesal sembari menatap Lilis.
"Heh, walaupun Ibu sudah paruh baya, tapi tetap saja terlihat sangat cantik. Pak Rt saja mengakui Ibumu ini," celetuk Lilis.
"Apa Ibu lupa? jika pak Rt matanya rabun. Mungkin saja pria tua itu melihat Ibu tanpa kacamata."
"Sembarangan, jangan membuang waktu Ibu yang berharga. Katakan siapa wanita bodoh yang ingin dengan mu," ucap Lilis yang kembali memukul kepala Bara dengan keras.
"Tentu saja Naina Wijaya, anak dari Wijaya yang terkaya di kota ini," ujar Bara dengan bangga.
"Itu tidak mungkin, apa kamu memakai pelet atau memberinya minuman pemikat?" sahut Lilis dengan heboh.
"Heh, aku ini sangat tampan. Dia bahkan mengejarku, apa boleh buat? aku kasihan dan menerimanya. Dan setelah di pikir-pikir, Naina sangat lah cantik dan juga menggemaskan. Bersiaplah Bu, lamar Naina untukku."
"Baiklah, apa yang kita bawa untuk mereka? bagaimana dengan setandan pisang?"
Bara menepuk kening menggunakan tangan kanannya, " tidak perlu membawa setandan pisang, apa ibu pikir mereka itu monyet? jangan ikuti cara kuno. Bersiap lah, karena anak mu yang tampan mempesona ini sudah mempersiapkannya," kata Bara yang mengedipkan sebelah matanya mengarah ke Lilis.
Sesampainya di kediaman Wijaya, Bara dan Lilis tersenyum tanpa berniat membuka suara. Hingga semua orang menatap mereka dengan kebingungan, Naina yang geram mencubit paha Bara dengan keras.
"Maksud kedatangan kami ingin melamar putri mu, Paman." Bara sedikit gugup dengan penuturannya, di tambah dengan tatapan Nathan yang seolah ingin menerkamnya.
"Apa kamu mencintai anak bungsuku? dan apa yang kamu miliki?" cetus Wajaya dengan wajah sangatnya.
"Saya hanya prajurit khusus dan sangat mencintai Naina dengan seluruh jiwa." Wijaya menatap putrinya untuk menanyakan pendapat, "Naina, untuk kali ini Papa serahkan kepada mu."
"Aku terima Pa," ucap nya dengan malu-malu.
"Tidak boleh, dia itu playboy akut," ketus Nathan yang menatap tajam Bara, sementara Bara juga memelototinya.
"Jangan menatap ku begitu," ketus Bara.
"Kenapa? kamu takut? akan aku perlihatkan bagaimana cara ku." Nathan berjalan menuju Bara dan memiting lehernya.
__ADS_1
Serangan mendadak itu, membuat Bara ikut melawan Nathan. Mereka adu gulat membuat twins L dan Abian bersorak kegirangan, "aku mendukung Ayah," teriak Al.
Sementara El meniup peluit layaknya wasit, "semangat untuk Papa mendapatkan Nana," pekik El.
Semua orang menatap Bara dan Nathan layaknya anak kecil berkelahi, mereka menepuk kening. Sedangkan Wijaya memijat pelipisnya untuk mengurangi sakit kepala.
"Aku tidak akan memberimu restuku untukmu," ucap Nathan yang mengunci pergerakan Bara, dan dengan cepat Bara membalikkan keadaan, "aku tidak butuh izin mu."
Mereka berusaha untuk melerai pertikaian orang dewasa yang menjelma seperti anak-anak, hingga Dita mengguyur Nathan dan Bara dengan air membuat aksi heroiknya terhenti.
"Sayang, kenapa menyiram kami? padahal tinggal sedikit saja aku mengalahkannya," gerutu Nathan dengan polos.
"Apa? kalian pikir ini permainan gulat? kalian merusak suasana tenang di sini. Kalian berdua naiklah ke atas dan ganti baju yang basah itu," ucap Dita yang menolak pinggang. Bagai Ibu yang sedang memarahi anak-anaknya, Bara dan Nathan melakukan perintah dari Dita.
"Yahh, sayang sekali. Padahal tadi itu sangatlah menyenangkan," keluh Al dan di angguki kepala oleh Abian. Sedangkan El tersenyum bahagia, karena baru saja mendapatkan rekaman yang baru saja dia rekam tanpa di ketahui oleh semua orang.
Setelah 30 menit kemudian, mereka kembali membicarakan lamaran yang tertunda. Semua orang setuju, membuat Bara sangat senang.
Nathan menyeret Bara dari para anggota keluarga, menuju kolom renang. "Kenapa kamu membawa ku kesini? menggangu saja," cetus Bara.
"Aku kesini hanya memberikan petuah sebagai senior yang telah menikah juga berpengalaman dari mu."
"Aku tidak butuh itu, saranmu sangatlah sesat."
"Apa kamu yakin?"
"Urus saja urusanmu, aku tidak ingin berguru dengan siapa pun," tolak Bara.
"Heh, aku sudah terlalu baik dengan mu, jangan menyesal nanti," ucap Nathan.
"Itu tidak akan terjadi."
"Karena semua orang menyetujuinya, terpaksa aku menyetujui keputusan itu. Tapi ingatlah ini, jangan sampai adikku menangis dan tersakiti olehmu. Jika itu terjadi, akulah orang pertama yang akan membunuhmu," kata Nathan.
"Tenang saja KAKAK IPAR," sahut Bara tersenyum.
__ADS_1
"Aku membenci kata-kata itu."