
Lea tidak tertarik dengan pesta ulang tahun Rayyan, dia lebih menyukai hidangan bermacam makanan dan juga cake yang sangat lezat. Banyak orang yang melihat Lea yang seakan tidak puas dengan hidangan itu, bukan Lea namanya jika tidak ingin mengambil pusing dengan perkataan yang semua orang yang mengosipinya.
Dia terus saja makan dan makan, mencoba ini dan itu. Tidak ada kata malu bagi Lea apalagi menjaga image. Karena menurutnya, "tidak akan kenyang jika mendengarkan perkataan orang lain, nikmati yang ada dan meresapinya."
"Wow, paman Zean memang yang terbaik. Semua hidangan ini benar-benar lezat, dan bahkan aku tidak berhenti makan," batin Lea yang menatap semua hidangat dengan sangat bersemangat, mencicipi semua hidangan tanpa ada yang terlewatkan. Seseorang yang sedari tadi menatap akai Lea yang menurutnya sangat rakus itu.
"Wah, makanmu banyak juga ya? dan aku melihat jika mulutmu itu tidak berhenti mengunyah," ucap orang itu yang membuat Lea menoleh.
"Tidak ada masalah untuk itu, pergilah dan jangan mengangguku," jawab Lea yang menatap Abian sembari menolak pinggang.
"Jangan marah begitu, jika itu sering terjadi maka dengan cepat kulitmu berubah keriput," bujuk Abian yang duduk di sebelah Lea.
Lea memegang wajahnya dengan sangat cemas, menghirup udara dengan sangat dalam dan mengeluarkan secara perlahan. "Itu tidak boleh terjadi, bagaimana dengan hobi ku yang lain jika wajahku yang keriput, " batin Lea.
"Kamu datang secara tiba-tiba seperti Jailangkung. Begini bunyinya, jailangkung jailangkek tumis kangkung sambal pete. Datang tak di jemput, pulang tak di antar," ucap Lea sembari merapalkan mantra dan menciprat Abian dengan air yang ada di gelasnya.
"Hei hentikan ini, apa yang kamu lakukan kepadaku?" ucap Abian yang berusaha untuk menghindari cipratan itu."
"Aku hanya ingin mengusir sifat buruk mu yang selalu membuat aku terkejut dengan keberadaanmu yang tiba-tiba."
Abian yang geram memegang kedua tangan Lea dan menatapnya dengan dalam, lain hal nya dengan Lea yang menatap dengan otak yang bertraveling kemana-mana, membayangkan ada adegan kiss yang sering dia tonton bersama dengan Shena dan juga Vivian.
"Ada apa dengan kedua matamu yang terus berkedip itu? apa kamu sedang cacingan?" tukas Abian yang menatap Lea dengan mengerutkan keningnya.
Lea memukul lengan Abian dengan sangat keras, "aku ini anak sehat, empat sehat lima menyempurna."
"Lupakan itu, bagaimana jika kita berdansa mengikuti orang-orang di sana," ajak Abian sembari menunjuk para pasangan yang berdansa.
"Tidak itu sangat membosankan, aku lebih tertarik dengan hidngan ini. Tinggalkan aku," tolak Lea yang ingin memasukkan cake ke dalam mulutnya dan dengan cepat di tepis Abian.
"Jika kamu tidak menyukai dansa maka kita dance? pasti sangat seru," tawar Abian yang menarik tangan Lea, namun seseorang mencegat mereka.
__ADS_1
"Karena ini perayaan ulang tahunku, maka aku putuskan untuk berdansa dengan Lea. Yang tidak berkepentingan harap lepaskan tangan dari gadis ini," celetuk Rayyan.
"Hei Lucifer, jangan seenaknya di sini. Aku tau ini adalah pesta ulang tahunmu," tunjuk Abian.
"R-A-Y-Y-A-N itulah namaku," ralat Rayyan yang mengeja nama barunya.
"Sama saja, mau Lucifer atau Rayyan itu tidak penting bagiku," ujar Abian yang melirik Rayyan dengan sinis.
"Lea, maukah kamu berdansa denganku?" tawar Rayan yang setengah membungkuk kan badannya sambil memegang tangan Lea. Abian yang kesal menepis tangan Rayyan dengan kesal.
"Jangan menyentuh nya, tangan mu sangat bau. Bisa saja tanganmu terkontaminasi dengan virus yang sangat berbahaya dan menularkannya kepada Lea," pungkas Abian yang menatap tajam ke arah Rayyan.
Lea tidak menghiraukan perdebatan yang menurutnya biasa, bagai air dan minyak yang tidak bisa bersatu begitu pula dengan Rayyan dan Abian. Lea kembali duduk seraya melanjutkan aktivitasnya makan dan melihat pertikaian Abian dan juga Rayyan.
Perdebatan yang sangat lama membuat Lea menguap beberapa kali karena sangat mengantuk dengan drama yang sangat membosankan baginya, tanpa sadar Lea tertidur setelah makan banyak itu.
****
"Wah, sepertinya kita di takdirkan untuk bertemu di sini ya. Bagaimana dengan keadaan mu?" ucap Alan.
"Kabarku sangat baik dan bagaimana dengan mu?"
"Aku juga."
"Akhirnya aku bertemu dengan mu, apa kamu miskin mendadak dan menginginkan perusahaan ku? namun sayang nya kamu tidak akan menang dari ku," ucap Al yang tersenyum miring.
"Hari ini kamu boleh menang, tapi tidak di hari ke depannya. Aku akan membuatmu sengsara dan juga menderita di masa yang akan datang, waspadalah!" ancam Alan yang pergi dari tempat itu.
"Dan aku akan menunggu di saat hari itu tiba," balas Al sembari berteriak menatap punggung Alan hingga hilang di pandangannya.
"Kita lihat saja nanti," gumam Alan yang tersenyum tipis.
__ADS_1
****
Keesokan harinya, El dengan cepat menemui Bara yang ingin komplen. Karena dia sudah menjalankan seluruh rencana itu dengan sangat baik, tetapi hasinya sangat mengecewakan.
El berhasil menemukan Bara yang tengah duduk santai sambil membara koran harian, dia menghampiri Bara.
"Apa Papa ingin membodohi aku?" ucap El dengan nada marah.
"Apa yang sedang kamu bicarakan? ayo, katakan dengan jelas," sahut Bara yang menautkan kedua alisnya.
"Aku sangat tersiksa di sini, korban dari rencana Papa yang sangat tidak ampuh itu. Aku jadi merasa sangat yakin, jika Nana lah yang membuat Papa bertekuk lutut, " cetus El yang menatap Bara yang ada di hadapannya.
"Bukan rencanaku tidak ampuh, Papa sangat yakin jika kamu melakukan dengan cara tidak tidak benar."
"Bukannya mendekat malah membuat Anna semakin menjauhiku, dia lebih memilih pria gemulai itu di bandingkan aku yang jelas-jelas pria tampan dan juga rupawan ini."
"Begini saja, kita jalankan rencana C," jawab Bara dengan semangat.
"Rencana C? katakan apa itu rencana cadangan?" jawab El yang mengerutkan keningnya.
"Tepat sekali, kamu harus menyewa seorang kekasih dan memamerkan nya ke semua teman-teman mu."
"Menyewa kekasih? yang benar saja Papa, aku ini pria tampan yang tidak akan melakukan hal seperti itu, Papa mengatakan seolah-olah aku ini tidak laku," ucapnya.
"Ya begitulah, sejauh ini Papa tidak melihatmu dengan seorang wanita. Anggaplah sebagai rutinitas untukmu ke depannya."
"Pantang bagiku untuk bersikap playboy seperti Papa."
"Terserah padamu, siapa nama gadis yang membuatmu sangat bodoh ini?" tanya Bara yang meledek.
"Anna anaknya pak Pitak."
__ADS_1
"APA?"