
Abian dan Lea melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mansion milik Zean, karena mereka tidak tau di mana letak kamar Lucifer yang di rawat. Abian memanggil pelayan, "di mana letak kamar Lucifer?"
"Ada di sebelah sana, di lantai dua sebelah kanan Tuan," jawab pelayan itu.
"Terima kasih," celetuk Lea yang menarik tangan Abian untuk segera menuju kamar Lucifer.
Abian terkejut saat melihat Caroline berada di ruangan itu, bersama dengan Dita, Nathan, dan juga Zean yang menatapnya.
"Mommy ada di sini?" ucap Abian yang menautkan keningnya.
"Akhirnya kalian datang juga," sambut Dita dengan tersenyum.
"Tunggu dulu, bisa jelaskan situasi ini? Aku sangat tidak mengerti," celetuk Lea yang menatap semua orang.
"Kami sudah berdamai dan memutuskan untuk menjalin perdamaian serta pertemanan, tidak ada lagi permusuhan yang akan mendatang antara kami. Dan Ibu juga membicarakan ini dengan polisi untuk mencabut laporan yang ibu ajukan," terang Dita dengan sangat antusias.
"Wow, itu bagus."
"Bagaimana Mommy bisa berada di sini?" ucap Abian yang menautkan kedua alisnya.
"Mommy sangat beruntung bisa bertemu dengan Zean," sahut Caroline yang tersenyum melirik Zean.
"Lupakan itu, bagaimana dengan kondisiku yang masih demam," rengek Lucifer dengan manja untuk mendapatkan perhatian dari Lea.
"Jangan drama, kamu hanya demam saja dan tidak membuatmu mati," ketus Abian.
"Sayang, tidak boleh berkata begitu!" ucap Dita dengan lembut.
"Maaf Bu."
"Bu?" ucap Caroline yang mengerutkan alisnya.
"Begini, sebelum aku bertemu dengan Mom. Aku lebih dulu di pertemukan dengan Ibu Dita yang selalu menyayangi ku dengan sangat tulus," terang Abian yang menatap Dita.
__ADS_1
Caroline sadar akan perbuatannya yang hanya memanfaatkan Abian demi ambisinya dalam aliansi pembunuh bayaran, hatinya seakan tersentil dengan kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Abian.
"Nak, maafkan Mommy yang selama ini hanya memanfaatkan mu. Mom berjanji akan menjadi orang baik dan menyayangimu sebagai seorang Ibu yang baik," tutur Caroline membuat Abian memeluk Ibu angkatnya dengan erat.
"Aku memaafkan mu, Mom."
"Lea tolong bantu aku, kepalaku sangat pusing sekali," celetuk Lucifer yang memegang kepalanya. Lea mendekati Lucifer dan memijit kepalanya dengan polos tanpa mengetahui jika Lucifer menginginkan perhatiannya.
Abian melepaskan pelukan itu dan menghampiri Lea, "itu tidak akan membantunya, aku bisa menghilangkan rasa pusing itu dengan sangat cepat," ucap Abian yang tersenyum smirk.
"Tidak, aku hanya ingin Lea saja yang memijit kepalaku," tolak Lucifer.
Abian tidak mendengarkan ucapan itu dan memijat kepala Lucifer dengan keras tanpa menghiraukan seseorang yang merintih kesakitan.
"Hei, apa kamu ingin membunuh anak ku?" cetus Zean.
"Hehe....tidak aku hanya membantunya, dia saja yang terlalu berlebihan," ucap Abian yang mengelus kepala Lucifer.
"Sebaiknya kita keluar dari sini, biarkan mereka," ucap Nathan yang membawa Zean pergi untuk membicarakan masalah perusahaan, di susul oleh Caroline dan Dita untuk membuat hubungan mereka semakin dekat. Tinggalah Abian, Lucifer, dan Lea yang berada di ruangan itu.
"Baiklah."
Abian sangat kesal dengan Lucifer yang sangat pintar mengambil kesempatan untuk mencari perhatian dari Lea. "Sial, aku kalah selangkah darinya," batin Abian.
****
Anna dan Jojo yang sedang menikmati suasana di pinggir danau, mereka tertawa dan bercanda bersama membuat seseorang di balik pohon terbakar api cemburu melihat kedekatan Anna dan Jojo.
"Sialan, berani sekali dia memegang tangan Anna. Lihat bagaimana El beraksi, sepertinya ini sangat menarik," gumam El dalam hati yang sedari tadi melihat kebersamaan Anna dan Jojo.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini," puji Jojo yang menatap Anna dengan kagum.
"Jangan memujiku akan hal itu," ujar Anna dengan pipi yang bersemu merah, karena Anna menyukai Jojo sedari dulu.
__ADS_1
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya." Anna yang merasa tersipu malu itu, tanpa sengaja mendorong Jojo hingga terjungkal. Jojo yang kesal dengan cepat membalas perbuatan Anna dengan mendorongnya, namun Anna tidak jatuh. Karena kekuatan Anna yang tomboy tidak akan kalah dengan Jojo yang sedikit gemulai.
"Ck, dia tidak ada apa-apa nya di bandingkan aku. Aku sangat ragu, apakah dia pria atau wanita? bahkan aku lebih baik darinya. Apa yang di lihat oleh Anna dengan pria gemulai itu?" batin.
Jojo meminum jus dan menghabiskannya, meluapkan kekesalan yang ada di hatinya. Anna sedikit bosan dengan Jojo, tapi dia terkejut dengan tingkah pria yang ada di hadapan nya sangat aneh.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Anna yang menatap Jojo yang sedang mengumpulkan dedaunan dan memasukkannya ke kantong celana.
"Aku sedang menghitung uang, lihatlah di sini banyak uang dan aku akan semakin kaya," celetuk Jojo yang terus mengumpulkan daun kering.
"Eh, apa yang terjadi dengan nya? dia sangat aneh?" gumam Anna yang yang berpikir dengan keras penyebab Jojo sangatlah aneh.
El yang bersembunyi di sebalik pohon menahan tawanya yang sebentar lagi akan pecah, karena rencananya berhasil dengan mulus. Yah, El telah mencampurkan bubuk kecubung ke dalam minuman Jojo yang sekarang tengah halusinasi.
Anna mencoba untuk mengetuk kepala Jojo berharap supaya cepat sadar, di luar dugaannya, Jojo tiba-tiba berlari dengan sangat cepat dan kembali lagi menghampiri Anna.
"Kamu kenapa bertingkah sangat aneh?" kata Anna yang sangat kebingungan.
"Aku ingin pulang tapi dinosaurus mengejarku," sahut Jojo yang mengatur nafasnya tidak beraturan.
"Apa dia sudah gila?" batin Anna, dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencari nomor kontak untuk dia hubungi. Tak lama kemudian, mobil jemputan Jojo datang dan membawanya menuju Rumah Sakit Jiwa.
El keluar dari persembunyian untuk menghampiri Anna, "eh, kamu di sini?" ucap El yang berpura-pura.
"Hem, kenapa kamu bisa di sini?" sahut Anna yang menautkan kedua alisnya.
"Aku hanya kebetulan berkunjung di sini, apa kamu sendirian?" ujar El yang celingukan.
"Tadinya berdua dengan Jojo, tapi entah mengapa dia sangat aneh. Kamu tau? dia mengumpul dedaunan kering dan memasukkannya ke dalam saku dan yang lebih anehnya, dia mengatakan di kejar dinosaurus. Karena khawatir, aku menghubungi pihak rumah sakit jiwa untuk memeriksa keadaannya, " kata Anna yang di iyakan oleh El dengan sangat antusias.
"Aku rasa dia bermasah dengan kejiwaan, kamu melakukan hal yang sangat tepat. Lupakan itu, bagaimana jika aku mengajakmu jalan-jalan menggunakan motorku," decit El yang menarik tangan Anna untuk mengikuti langkahnya.
"Baiklah, tapi kamu akan membawaku kemana?" ucap Anna.
__ADS_1
"Ke suatu tempat, aku yakin kamu akan menyukainya nanti," sahutnya.
Anna pasrah dengan El yang mengajaknya ke suatu tempat, sedangkan El sangat bahagia bisa membawa Anna menuju tempat romantis yang telah dia persiapkan.