
Abian dan Lea tidak berminat untuk pergi keluar rumah, mereka menghabiskan waktu berdua dengan merawat diri. Lea memaksakan kehendaknya untuk memasang masker wajah pada Abian, "ayolah, ini tidak akan lama!" rengek Lea.
"Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, kamu saja yang pakai masker itu." Abian menolak tak membuat Lea berputus asa, dia duduk di pangkuan Abian dengan wajah yang berhadapan.
"Ayolah, ku mohon!" bujuk Lea yang membuat Abian menghela nafas.
"Baiklah, berikan aku kiss terlebih dahulu." Abian memajukan wajahnya dan memegang tengkuk leher Lea dengan tatapan syahdunya. Lea yang tidak siap menggeplak wajah sang suami, "apa kesalahanku padamu?" tutur Abian yang memegang pipinya.
"Jangan membodohiku, aku tau kamu akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Untuk kali ini aku tidak akan tertipu lagi, awalnya hanya kiss tapi lama-kelamaan ciuman yang menuntut dan aku sangat lelah melakukan itu," terang Lea dengan tatapan jengahnya.
"Mau bagaimana lagi? kamu seperti candu bagiku dan aku juga ingin Abian junior hadir di tengah-tengah kita," jawab Abian dengan santai sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Selalu saja begitu," gerutu Lea sembari membuka kancing baju Abian karena ingin mencuci mata dengan perut sixpack dan dada bidang milik Abian yang sangat seksi tak bisa membuat Lea berpaling. Sedangkan Abian menikmati belaian tangan Lea dan membuat hasrat nya bangkit, "kamu harus tanggung jawab akan hal ini."
"Aku? apa salahku?" jawab Lea yang menatap mata Abian.
"Kamu membuat sesuatu di bawah sana berdiri, ayo tidurkan dia. Ini tidak akan lama, sebentar saja," bujuk Abian.
"Lagu lama, sebentar apanya? bahkan kata sebentar tidak ada di dalam kamus mu," cetus Lea yang ingin berdiri dari pangkuan suaminya, namun dengan cepat Abian mengeratkan pelukannya.
Di saat Abian ingin mencium bibir merah merekah dari istrinya terganggu karena tiba-tiba Lea merasa mual, Lea segera turun dari pangkuan Abian dan berlari menuju kamar mandi. Mengeluarkan seluruh isi perutnya membuat Abian sangat cemas dengan keadaan Lea yang tampak lemas.
Abian berinisiatif untuk memijit tengkuk leher Lea, "aku rasa kamu tidak memakan apapun yang aneh, keluarkan semuanya," kata Abian yang terus memijit tengkuk leher sang istri.
"Aku sangat lemas sekali," keluh Lea, Abian menggendong istrinya dan menuju tempat tidur membaringkannya dengan sangat lembut.
"Sebaiknya kamu istirahat," ucap Abian yang mengenggam tangan Lea.
Baru saja Lea berbaring, tapi keadaanlah yang membuatnya harus berlari menuju kamar mandi. Lea terus merasa mual membuat Abian tampak khawatir, hingga dia menghubungi dokter.
"Apa yang terjadi? apa kamu salah makan?" tanya Abian yang mendekati Lea yang hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Sontak Abian membesarkan pupil matanya dan menatap Lea kemudian memeluknya dengan sangat erat, "apa jangan-jangan kamu hamil?"
"A-apa? aku hamil?" sahut Lea dengan tatapan lurusnya.
__ADS_1
"Aku sangat yakin, bukankah ciri-ciri hamil merasakan mual? aku melihat tanda-tanda itu pada Al," praduga Abian.
"Mana bisa di samakan dengan kak Al, itu sangat berbeda."
"Aku sangat yakin akan hal itu, akhirnya aku mempunyai Abian junior," sela Abian yang bersorak gembira, suasana itu terganggu karena nada dering ponselnya.
"Halo Tuan!"
"Hem."
"Saya sedang terjebak macet parah, mungkin akan memakan waktu sedikit lama untuk sampai ke sana."
"Baiklah."
Abian mematikan telfonnya dan kembali menatap Lea dengan tangannya yang mengelus perut rata istrinya dengan sangat lembut.
"Siapa?" tanya Lea yang mengerutkan dahinya seraya menatap netra mata Abian.
"Aku menghubungi dokter dan dia sedang terjebak macet saat dalam perjalanan ke sini," jawab Abian yang hanya di balas dengan ber"oh" ria saja.
"Kamu istirahatlah dahulu," titah Abian yang di turuti oleh Lea.
"Ada apa? apa yang ingin kamu katakan sekarang," ujar El.
"Apa yang ingin kamu pamerkan sekarang?" tambah Al.
"Aku ingin mengatakan dan membagikan kabar yang sangat menggembirakan ini," tutur Abian yang tersenyum memperlihatkan gigi rapi nan putihnya.
"Jika kamu hanya membuat penasaran, maka lupakan itu dan simpan sendiri," cetus Al yang sedang menatap Abian dengan video call.
"Apa kamu akan selalu tersenyum begitu? cepat katakan ada apa?"
"Kabar baiknya iyalah Lea tengah hamil anakku dan kalian berdua akan menjadi Paman," seru Abian yang membuat twins L terkejut dan juga bahagia dengan kabar baik itu.
"Apa kamu tidak sedang bercanda?" tanya Al dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Tidak dan aku yakin akan hal itu.".
"Wah....wah ternyata kecebongmu sangat ampuh ya," cibir El.
"Tentu saja, aku akan memeriksanya dulu." Abian mematikan sambungan telfonnya dan kembali menuju kamar untuk melihat keadaan Lea yang sekarang tengah tertidur. Abian tersenyum dan mengecup pucuk kening Lea dengan sangat lembut, "aku sangat bahagia tentang kabar ini, aku mencintaimu."
Setelah menunggu cukup lama barulah sang dokter datang dan memeriksa Lea yang juga baru saja terbangun, sang dokter memeriksa dengan sangat teliti dan raut wajah yang tidak bisa terbaca oleh Abian.
"Bagaimana hasilnya Dok?" desak Abian yang sangat penasaran dengan hasilnya.
"Apa aku hamil?" tanya Lea yang memiringkan kepalanya menatap sang dokter dengan sangat teliti.
****
El dan Al sangat senang dengan kabar bahagia itu, "Ibu....Ayah!" panggil El yang berteriak membuat sang empunya datang menuju sumber suara.
"Ada apa? kenapa kamu berteriak?" cetus Dita yang menghampirinya asal suara di ikuti oleh semua orang.
"Cepat katakan ada apa? hingga kamu berteriak begitu." Dita menatap kedua putra kembarnya secara bergantian.
"Tebak kabar apa yang aku berikan kali ini," tutur El.
"Ck, cepat katakan. Aku sangat penasaran," sela Vivian.
"Sebentar lagi aku akan menjadi paman," ucap El.
"Kami tau akan hal itu, Shena dan Anna tengah hamil."
"Bukan itu Nana, anggota Wijaya akan bertambah dengan kehadiran cucu baru," ujar Al membuat semua orang terkejut.
"Apa Lea tengah hamil?" ujar Dita dengan tatapan sendunya.
"Benar, Abian baru saja menghubungi kami dan mengatakan bagaimana keadaan Lea yang akan menjadi seorang ibu."
"Itu benar," tukas Al yang mengangguk. Bara dan Nathan saling memeluk dan tanpa sadar Nathan meneteskan cairan bening yang hinggap di salah satu sudut matanya.
__ADS_1
"Baiklah, kalian semua bersiap-siaplah dan kita akan berangkat ke Amerika hari ini juga," titah Nathan.
Mereka mematuhi perintah Nathan dan mulai mengemasi beberapa keperluan dan juga hadiah untuk Lea dan juga Abian. Untung saja helikopter milik keluarga Wijaya ada beberapa yang bisa mengangkut seluruh anggota keluarga.