Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 97


__ADS_3

Daniel memasuki ruangan atasannya dengan wajah yang bahagia, dia masuk tanpa mengetuk pintu membuat Nathan kesal denga m tingkah Daniel yang suka menyelonong, "ada apa menemuiku?" ketus Natha tanpa menoleh.


"Begini, aku mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena berkat bantuan waktu itu membuat aku menikah dengan wanita yang aku cintai," tutur Daniel dengan lembut yang terselip niat tersembunyi.


"Hem, itu semua tidaklah gratis. Aku menganggapmu berhutang kepadaku," ketus Nathan yang mengetahui niat terselubung di wajah Daniel.


"Hei, ayolah. Uang segitu tidak apa-apanya dan tidak membuatmu miskin," protes Daniel.


"Heh, dengan uang itu aku bisa membuat panti asuhan ataupun panti jompo. Lunasi dengan cepat!"


Daniel mengusap wajahnya dengan kasal, "berbaik hatilah kepadaku, kamu adalah teman terbaikku. Lupakan saja uang yang tidak ada apa-apanya di hadapan mu itu," bujuk Daniel yang memasang wajah menyedihkan.


"Ck, kamu sendiri ingin mendapatkan Nurma dengan cara meminta bantuan kepadaku. Jika aku perhitungkan dengan baik, uang sebanyak itu kamu pasti mempunyainya dan bahkan lebih. Kamunya saja yang tidak ingin mengeluarkan modalnya. Dasar pelit," ucap Nathan membuat Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehe....bukan begitu. Uang yang aku miliki, akan aku jadikan modal membuka restoran. Ya....bisa di katakan sebagai sampingan," jawab Daniel membuat Nathan memutarkan bola matanya dengan jengah.


"Dasar licik," ledek Nathan.


"Ini menyangkut masa depan, bagaimana dengan permohonan ku itu?"


"Hem akan aku pikirkan, selesaikan pekerjaan mu. Pergilah keluar dari ruangan ku," usir Nathan membuat Daniel cemberut.


"Iya....iya baiklah, tidak perlu mengusirku begitu. Ya sudah aku pergi dulu, ingat yang aku katakan tadi kepadamu," seloroh Daniel yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangan presdir.


Nathan memperhatikan punggung Daniel yang menghilang di balik pintu, dia hanya menggelengkan kepala di sertai senyuman tipis di wajahnya.


****


Al dan El ahli nya dalam membujuk, hingga mudah bagi mereka dalam membujuk Zean yang seperti batu itu. "Horee, kapan kita membuatnya Paman?" tanya El.


"Aku sudah tidak sabar, bagaimana jika sekarang saja. Sepertinya Paman memiliki waktu senggang hari ini, bagaimana?" sambung Al yang mengangkat kedua alisnya ke atas.

__ADS_1


"Hem, baiklah. Hei kamu! cepat bereskan meja makan ini, selesaikan dengan cepat," titah Zean yang mengkahkan kakinya menuju laboratorium.


Twins L menatap kagum dengan laboratorium milik Zean yang sangat besar dah hampir lengkap, mereka menatap dekorasi alat-alat uji yang tersusun dengan rapi.


"Wah, laboratorium yang sangat indah Paman, apa peralatannya sangat lengkap?" ucap Al yang sangat penasaran.


"Kelengkapannya hanya 85 persen saja, karena ada beberapa alat yang langka dan sangat susah untuk di cari dan di miliki," balas Zean yang menatap Al.


"Ooh, kita memulainya dari mana, Paman?" ucap Al yang melirik Zean.


"Aku akan mengajari kalian membuat racun dari Arsenik, itu merupakan Raja segala racun dan tidak bisa terdeteksi. Bisa di katakan sebagai elemen cerita misteri," jelas Zean.


"Hem, sepertinya menarik. Bagaimana menggunakan racun itu, Paman?" tanya Al yang sangat penasaran. Sementara El menjelajahi laboratorium milik Zean dengan sangat bersemangat, membuat Zean kesal sikap El.


"Jangan berlarian, kamu bisa merusak alat laboratorium yang harga nya...." ucapan Zean terpotong karena El menabrak salah satu alat yang sangat mahal, "Langka," lanjut Zean yang menatap alat yang berisi racun yang tak lama dia buat dengan nanar.


"Wah, alat itu rusak dan juga botol dengan cairan di atasnya," celetuk El tanpa dosa.


"Bukan sepenuhnya kesalahanku, Paman. Salah sendiri, kenapa Alat itu berada di dekatku," sahut El dengan santai.


"Sialan, kutu ini membuat aku rugi besar. Aku akan minta pertanggungjawaban dari Nathan sialan itu," batin Zean dengan kesal.


Zean menatap El dengan tajam, "sudah salah, tapi tak ingin di salahkan."


"Heh, tenang saja Paman. Ayah kami orang yang sangat kaya, bahkan alat jelek mu itu akan kami ganti dua kali lipat," cetus Al yang membela sang adik.


"Jangan menilai sesuatu dari covernya saja, itu sangat mahal dan sangat sulit untuk mendapatnya," jawab Zean.


"Tenanglah, aku sangat yakin dengan kemampuan Ayah ku itu," ucap Al dengan bangga.


"Lupakan itu, ayo kita mulai membuat racun," ajak El yang berjalan mendahului Zean.

__ADS_1


"Kenapa kamu jalan mendahuluiku? ini mansion milik ZEAN," ucap Zean yang jengkel.


"Paman tenang saja, kami sudah menganggap mansion ini sebagai rumah ke empat. Setelah mansion Wijaya, rumah Papa Bara, dan sekolah." Al berlari mengejar adiknya, meninggalkan Zean dengan raut wajah yang kesal.


Zean memakaikan alat lindung kepada twins L dan juga dirinya. Awalnya dia sangat bersabar menghadapi twins L. Dia hanya menghela nafas dengan kasar, saat mengajari twins L yang sangat cerewet, hingga batas kesabarannya kian menipis. "Jangan banyak bertanya, lihat bagaimana Paman meracik beberapa racun dan juga senyawanya," ketus Zean.


"Malu bertanya sesat di jalan, Paman. Itu yang guru sekolah ajarkan, apa Paman tidak pernah mendengarkan perkataan guru sewaktu sekolah dulu?" ujar El dengan santai.


"Ya tuhan....kalian ini membuat aku hampir hilang kesabaran. Perhatikan baik-baik apa yang Paman lakukan," ucap Zean.


"Baiklah." Twins L yang sedikit bosan dengan cara Zean yang mengajar mereka membuat Al berinisiatif untuk menyentuh alat lainnya, tangan yang sedikit licin membuat alat yang seperti tabung yang berisi zat langka itu terjatuh.


"Ups," ucap Al yang membekap mulut menggunakan kedua tangannya. Zean yang langsung menoleh, saat mendengar suara alatnya yang yang terjatuh di lantai, "oh ya ampun, kalian memecahkan lagi alat laboratorium ku. Dan itu adalah zat yang sangat sulit di dapatkan," ucap Zean yang mengusap wajahnya dengan kasar.


Kesabarannya sekarang benar-benar habis, hingga dia mengambil benda pipih dari sakunya. Dan menelfon seseorang untuk memintai pertanggungjawaban dengan kekacauan di labor.


"Ada apa menelfonku? aku sekarang sangat sibuk."


"Ck, aku terpaksa menelfon mu untuk meminta pertanggungjawaban dari kekacauan di laboratorium Akibat kedua anakmu."


"Tenang saja, aku ini sangat kaya. Katakan saja berapa kerugianmu, akan aku transfer."


"Aku tidak butuh uangmu, ganti semua alat yang di rusak olek kutu itu."


Zean mematikan sambungan telfon, dengan kesal Zean mengakhiri pelatihan untuk twins L dan meminta mereka untuk segera meninggalkan mansionnya. Di sisi lain, Nathan mengusap wajahnya dengan kesal karena perbuatan Al dan El yang membuatnya pusing.


"Mereka selalu saja menyusahkan aku! oh tuhan.... ampuni kesalahanku yang lalu," gumam Nathan.


Sedangkan twins L sangat kesal saat di usir oleh Zean, "dasar Paman biadap, berani sekali dia mengusir kita," gerutu El.


"Sabarlah, masih ada di lain waktu," ucap Al yang tersenyum smirk melirik El.

__ADS_1


__ADS_2