Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 116 ~ S2


__ADS_3

Karena luka yang tidak serius, Lea di perbolehkan untuk pulang ke mansion. Tapi dia sangat bingung, kenapa Lucifer ikut serta mengantarkannya. Dan dia juga kaget mendengar penuturan sang Ibu yang mengatakan jika Lucifer tinggal bersama dengan keluarga Wijaya. Dia kesal dengan keputusan Dita yang terlalu terburu-buru membawa orang asing untuk tinggal bersama keluarganya.


Karena rasa bersalah, Lucifer ingin merawat Lea hingga sembuh. "Bu, apakah aku boleh merawat Lea?" ucap Lucifer dengan penuh harap.


"Tidak boleh," tolak Al dengan cepat. Lucifer tidak menghiraukan Al, dia hanya memohon untuk di beri kesempatan kepada Dita. "Baiklah, kamu boleh merawatnya."


"Ibu!!" rengek Al dan juga El.


"Biarkan saja, dia hanya merasa bersalah dan biarkan Lucifer merawat Lea hingga sembuh. Ini hanya untuk beberapa hari saja," ucap Dita yang pergi meninggalkan ketiga pria tampan itu.


Twins L menatap Lucifer dengan tatapan tajam, "jangan sampai altar burukmu mencelakai adikku," ancam Al.


"Dan jika adikku tergores sedikit saja, maka aku tidak akan mengampuni diri mu," tambah El yang menunjuk wajah Lucifer.


"Aku tidak akan mengecewakan dan mengkhianati kepercayaan kalian, KAKAK!" jawab Lucifer yang tersenyum pepsodent.


"Ck, terdengar menggelikan saat kamu memanggil kami begitu," ujar El yang pergi dari depan kamar Lea.


"Ingat, aku selalu mengawasi adikku. Jangan macam-macam atau aku akan membunuhmu," sambung Al yang mengikuti El. Sementara Lucifer tersenyum tipis, saat dia bisa bersama dengan wanita yang membuatnya tertarik.


Sudah satu minggu Lucifer berada di mansion Wijaya, dan seminggu pula penderitaan yang di jalani oleh Lea. Saat weekend tiba, Lea lebih tertarik tidur hingga siang hari. Lucifer yang mengetuk pintu kamar pun tidak membuat Lea terbangun, karena khawatir, dia mendobrak pintu dengan sangat keras.


Sungguh tidak bisa di percaya, Lucifer tidak menyangka dengan objek yang ada di depannya. "Apa ini? dia tertidur layaknya sedang berperang. Bahkan suara keras tidak membangunkannya," gumam Lucifer. Dia mendekati Lea dan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Lea, menatap wajah yang sangat cantik dan juga natural membuat terpesona. Hingga seseorang berdehem membuatnya gelagapan, dan mengubah posisinya dengan cepat sembari menatap asal suara.


"Apa yang kamu lakukan di kamar Lea?" ucap Kenzi yang melipat kedua tangan di depan dadanya, dan menyenderkan bahunya di depan pintu.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya," sahutnya dengan santai.


"Hem, jangan berbuat macam-macam, karena banyak pasang mata yang mengawasimu," tegas Kenzi yang pergi.


Lucifer menunggu Lea yang akan bangun dengan sendiri, sedangkan dia lebih tertarik dengan sebuah laptop yang berada di meja belajar Lea. Walaupun laptop itu di password, tetap saja di buka dengan mudah oleh Lucifer.


Dia membelalakkan matanya dengan mulut yang menganga, "astaga....apa ini? dia mengoleksi foto pria yang bertelanjang dada," batin Lucifer yang membuka baju yang dia kenakan dan memperhatikan bentuk perut sixpack miliknya di depan cermin.


"Heh, perutku tidak kalah sixpack dari foto di dalam laptop itu, bahkan wajahku saja lebih tampan dari foto pria yang menurutku sangat jelek," gumamnya, tanpa menyadari seseorang memperhatikannya.


Bantal melayang mengenai punggung Lucifer, "apa yang kamu lakukan di kamarku," ucap Lea yang melirik perut kotak-kotak milik Lucifer.


"Wah, bentuk perutnya sangat sempurna. Bahkan lebih sempurna dari foto dari koleksiku, pantang bagiku untuk menyukai pria yang lebih muda dariku," batin Lea yang bimbang.


"Apa kamu menyukai perut sixpack ku?" tanya Lucifer dengan sangat antusias.


Lucifer dengan mudah lolos dari cekikan itu, dan memutuskan untuk berlari menghindari Lea yang mengejarnya. Tak kehabisan akal, Lea melempar sandal tepat mengenai kepala Lucifer.


"Rasakan itu," pekik Lea yang tertawa kemenangan.


****


Abian melepaskan pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran, walau dia tidak tau bagaimana cara menghadapi Caroline nantinya. Dia lebih fokus dengan perusahaannya, hasil keringat dan kerja kerasnya selama ini.


Abian melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya, pekerjaan yang melelahkan itu. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemen, beristirahat adalah salah satu pelepas kepenatan usai menjalani rutinitas yang sangat menumpuk.

__ADS_1


Baru 3 langkah Abian memasuki apartemen, matanya terbelalak saat melihat orang yang tidak dia ingin kan dan yang sangat dia benci. Mengepal tangan dengan sempurna dengan mata tajam yang menyorot dua objek di hadapannya, "sedang apa kalian berada di apartemenku?" ucap Abian dengan raut wajah yang dingin.


"Nak, ternyata kamu pemilik apartemen ini," tutur Farel yang mendekati Abian.


"Diam di sana dan jangan maju lagi. Jadi, dia orang tua mu yang bangkrut itu?" tanya Abian kepada Angela di sertai cibiran mengejek.


"Benar, tapi bagaimana tuan mengenali orang tua saya? karena selama ini kami tinggal di Amerika," tanya Angela yang sangat penasaran.


"Karena laki-laki tua itu adalah Daddy ku, aku benci mengatakan kata itu," jujur Abian dengan suara yang menggema.


"Apa? ternyata dia kakak tiriku? bagaimana mungkin? apa aku harus mengubur perasaanku ini?" batin Angela yang sangat terkejut dengan kenyataan yang ada.


"Daddy terlalu banyak salah denganmu, Nak. Maafkan segalanya dan kita mulai membuat lembaran baru, menjadi keluarga utuh dengan penuh kehangatan," bujuk Farel.


"Bagaimana cara ku untuk melupakan segalanya? orang tua yang menelantarkan seorang anak yang berusia 6 tahun, menyiksa siang dan malam tiada henti. Dan setelah bangkrut barulah kamu menyadarinya," kata Abian yang menatap tajam penuh kebencian kearah pasangan suami istri di hadapannya.


Farel bersimpuh di kaki Abian seraya memohon untuk memberinya tempat berteduh yang layak, karena Mona tidak menyukai tinggal di kontrakan. Saat anak nya bekerja, membuatnya ingin berharap lebih untuk bisa tinggal di apartemen milik majikan Angela.


"Berbaktilah kepada Daddy mu, berikan kami tumpangan hanya sementara waktu saja," ujar Mona yang memohon.


Abian menghempaskan tubuh Farel hingga tersungkur, Farel berusaha berdiri dan ingin memeluk Abian langsung di sambut dengan bogeman mentah di pipinya dan mengeluarkan sedikit darah segar di sudut bibirnya. "Jangan pernah memelukku dengan tubuh kotormu itu," ketus Abian.


"Kakak, aku tau mereka bersalah. Tapi, berikan sedikit rasa iba dan simpati mu untuk kami. Biarkan kami menginap di sini, dan aku akan menjadi pelayan untukmu," ucap Angela yang bersimpuh di kaki Abian.


Abian sedikit luluh mendengar ucapan dari adik tirinya, menghela nafas dengan kasar dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


"Baiklah, tapi ingat ini! jangan pernah mengurusi privasiku," ucap Abian yang berjalan meninggalkan mereka yang menatap kepergiannya.


Mona tersenyum tipis, "sepertinya Angela bisa meluluhkan hati Abian, aku harus memanfaatkan situasi ini. Dan aku juga melihat, bagaimana Angela menyukai anak itu, kesempatan emas yang tidak akan aku lewatkan," batinnya.


__ADS_2