Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 177 ~ S2


__ADS_3

El pulang dengan wajah sumringah, senyuman di bibirnya menghiasi wajah yang terlihat berseri. Berjalan memasuki mansion dengan bersiul membuat Dita dan Nathan menatap bingung.


"Hai Ayah....Hai Ibu," sapa El yang berjalan mendekati kedua orang tuanya. Nathan menatap putranya dari ujung rambut sampai di ujung kaki, memeriksa sang anak yang tampak tidak biasa.


"Ada apa denganmu? apa kamu sedang sakit?" tanya Nathan.


"Tidak, aku hanya bahagia saja," sahut El yang duduk di kursi tak jauh dari jangkauannya.


"Bahagia kenapa? katakan kepada Ibumu ini," celetuk Dita dengan antusias.


"Peluk aku dulu Bu," El merentangkan kedua tangannya dan memeluk sang Ibu dengan bahagia.


"Baiklah, sekarang katakan kepada Ibu." Dita melepaskan pelukan sang anak seraya menatap El dengan penasaran.


"Ck, katakan dengan cepat. Membuat orang lain penasaran saja," cetus Nathan.


"Peluk aku dulu Ayah, setelah itu aku akan memberikan kabar yang sangat bahagia ini," seloroh El yang memeluk Nathan.


"Apa kita ini keluarga Teletubbies? hentikan pelukan ini," ujar Nathan yang sangat penasaran kabar bahagia apa yang akan di sampaikan oleh El, tetapi El selalu membuang waktu dengan cara berpelukan.


"Apa Ayah lupa? Ayah sendiri yang mengatakan jika keluarga kita adalah keluarga kecebong. Dulu aku begitu polosnya hingga tak mengetahui apa arti dari kecebong, dulu aku sangatlah naif!" ucap El yang berhasil mendapatkan reward dari sang Ayah, sebuah jitakan yang keras.


"Apa kamu ingin curhat? katakan kabar baik yang ingin kamu sampaikan itu, jangan sampai batas kesabaran ku kian menipis."


"Sebenarnya aku ingin protes dengan Ayah yang menjitak kepala ku, tapi karena kabar yang amat bahagian ini membuat aku melupakan segalanya. Aku ingin menikah," ujar El dengan sangat bersemangat.


"Wah....selamat sayang, di mana gadis itu? Ibu ingin mengenalnya."


"Hanya itu? durasi bicaramu sangat lah banyak, kenapa tidak mengatakan ketiga kata itu dengan cepat. Membuat aku penasaran saja," keluh Nathan yang mendapatkan cubitan cinta dari sang istri.


"Bukankah itu bagus? kedua putra kita telah menemukan pasangan nya masing-masing, harusnya kamu bersyukur dengan itu, bukannya mengeluh." Dita menatap mata sang suami dengan geram.


"Hehe....aku hanya bercanda, kenapa kamu sangat serius. Tenanglah, karena sebentar lagi El akan menikah dan itu artinya kita lepas tangan."


Dita hanya menggelengkan kepalanya, dia menatap putranya dengan sangat serius, "katakan kepada ibu siapa gadis itu?"

__ADS_1


"Dia Anna, anak dari pak pitak.... ups, maksudku anak dari paman Bonar pemilik dari wahana permainan itu," jawab El.


"Akhirnya kamu mendapatkan restu dari pria tua itu," sela Bara yang baru bergabung dengan mereka.


"Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang El Wijaya," sahut El yang membanggakan diri.


"Hem, Ayah dan anak sama saja, " ujar Bara yang memutarkan kedua bola matanya yang menatap dengan jengah.


"Terima kasih, aku anggap itu sebagai pujian," sahut Nathan dengan penuh percaya diri.


"Ambil saja kembaliannya," tukas Bara yang jengah.


"Kapan kamu akan memperkenalkan gadis itu kepada kami?" tanya Dita.


"Malam ini juga, aku sangat tidak sabar. Ayah, buatlah pesta pernikahan untuk ku dengan sangat meriah," ucap El yang memohon.


"Baiklah."


"Bagaimana jika resepsi pernikahan mereka bersamaan dengan Al dan Shena, aku ingin jika kedua putra ku berdampingan," pinta Dita yang menatap suaminya.


"Jangan terburu-buru, tanyakan ini kepada mereka terlebih dahulu," sela Bara.


"Kamu benar, aku akan mengurus segalanya." Dita sangat bahagia dan juga berharap jika Al juga mengumbar statusnya di seluruh publik dan media massa.


"Ayolah, lamar Anna untukku. Jika perlu sekarang kita pergi ke rumah nya," rengek El.


"Sabarlah wahai anak muda, sepertinya anu mu sudah tidak sabar yah. Bagaimana jika anu mu aku garuk saja dengan kulit durian," ledek Bara.


"Jika Papa menggaruk masa depanku, bagaimana aku bisa memberikan cucu untuk kalian?"


"Ayo kita kesana," ajak Dita dengan antusias.


"Persiapkan diri mu, dan katakan kepada seluruh keluarga untuk bersiap-siap. Malam ini kita akan pergi kerumah gadis itu," titah Nathan. El bersorak ria saat permintaan nya di kabulkan, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi salah satu nomor yang terdaftar di kontaknya.


"Kenapa lama sekali kalian untuk menganggkat telfon dari ku?"

__ADS_1


"Maaf King, kami terlalu fokus dengan memilih beras dan juga kacang hijau."


"Lanjutkan itu nanti saja, sekarang persiapkan segala nya untuk lamaran. Aku tidak ingin ada kesalahan," ujar El yang memberikan perintah.


"Baik King."


El mematikan telfon dengan sepihak, dia sangat senang karena sebentar lagi Anna akan menjadi miliknya.


Sementara di tempat lain, kedua orang itu hanya mengumpati pemimpin mereka.


"Jika saja pendapatan ku di sini sangat minim, sudah lama aku hengkang."


"Kamu benar, bahkan kedua mataku seakan memutih saat menatap beras dan juga kacang hijau ini. Dan sekarang kita di minta untuk membuatkan persiapan pernikahan," keluh Roger.


"Terima saja nasib kita," sahut Audrey dengan sedih.


****


Bonar menyambut kedatangan keluarga Wijaya yang memenuhi ruang tamunya, tak lupa dengan senyum di wajah jika dia sedang berbahagia. Perasaan itu tak pernah luntur, dia tidak percaya bisa menjadi besan dengan orang kaya nomor 1 di kota itu.


Mata bonar seakan tergiur dengan beberapa set perhiasan serta gaun yang sangat indah dari perancang Dita L boutique yang sangat terkenal di kota.


"Silahkan di makan hidangannya, maaf hanya seadanya saja," tutur Bonar yang menatap Nathan.


"Hem, tidak masalah. Ini lebih dari cukup," sahut Naina, mereka memakan beberapa kudapan yang sangat sederhana, setelah selesai Nathan kembali membicarakan lamaran.


"Begini, kami kesini untuk melamar putri mu bernama Anna dengan putra kami yang bernama El," ujar Nathan yang membuka suara.


"Sebelum nya aku berterima kasih kepada pihak keluarga Wijaya yang datang kerumah sederhana milikku, dan masalah lamaran lebih baik di bicarakan oleh keduanya. Aku menerima lamaran itu, tapi tanyakan dulu kepada Anna," kata Bonar yang menatap sang putri yang duduk di sampingnya.


"Wah, ternyata calon menantuku sangatlah cantik, sepertinya El tidak salah dalam memilih seorang istri. Bagaimana Anna? apa kamu menerima lamaran kami?" tanya Dita yang menatap Anna dengan serius.


Anna sedikit malu dengan pujian Dita, dia menganggukkan kepalanya dengan pelan, "aku menerimanya."


El berdiri dengan sorakan yang memekakkan telinga, membuat semua orang tertawa dengan aksi nya itu. Bonar sangat senang dengan putri bungsunya yang akan menikah, itu artinya jika Anna akan pergi mengikuti suaminya. Bonar menutupi kesedihannya, setelah Lolita yang mengikuti suaminya dan sekarang Anna yang akan meninggalkannya.

__ADS_1


"Sepertinya di masa tua aku akan hidup sendiri, putri keduaku akan menikah. Aku sangat bahagia, jika kehidupan Anna akan terjamin. Aku akan mendoakan kedua putriku agar selalu bahagia," batin Bonar yang menatap sang putri dengan nanar.


__ADS_2