
Bara membantu Naina untuk naik dari kolom renang, mereka saling menatap dalam. Mereka merasakan getaran seperti tersengat listrik, terselip kecanggungan dan kegugupan. "Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu!" tutur Bara tanpa menoleh, karena dia sangat gugup kali ini. Sangat berbeda saat bersama dengan para teman kencannya.
"Bicara saja, aku akan mendengarkannya," ucap Naina yang tak kalah gugup.
"Kamu sangat mengetahui, jika aku seorang playboy. Tapi, aku tidak pernah merasakan sesuatu kepada mereka. Lain halnya denganmu, seperti ada sengatan listrik ketika aku memelukmu," jujur Bara yang menatap Naina penuh harap.
"Heh jangan becanda, sudah banyak pria yang aku temui seperti diri mu. Hanya berkata manis," jawab Naina dengan sinis.
"Tunggu, ada sesuatu yang harus aku berikan kepada mu, tutuplah mata mu dulu," pinta Bara.
"Jangan macam-macam dengan ku," sarkas Naina yang menunjuk Bara.
"Kamu ini sangat lucu, aku hanya satu macam. Ikuti saja apa yang aku perintahkan tadi." Naina dengan patuhnya menutuo kedua matanya, karena sangat penasaran apa yang akan di berikan Bara untuknya.
"Apa aku boleh membuka mata?"
"Hem, bukalah."
Naina dengan perlahan membuka matanya, dia sangat terkejut dengan apa yang di berikan oleh Bara, "sebuah kalung?" ucapnya menautkan kedua alisnya.
Sebuah kalung yang sangat indah, dan terdapat liontin di tengahnya. Liontin berbentuk bulan sabit yang sudah di rancang oleh Bara khusus untuk Naina.
"Begini, aku tidak tau sejak kapan mulai menyukaimu. Jika kamu menyukaiku, maka pakailah kalung bulan sabit ini. Dan jika menolak, maka lemparkan dengan keras ke wajah ku," tutu Bara yang menyodorkan kalung itu. Sedikit ada keraguan di wajah Naina, setelah berperang dengan pikirannya, akhirnya dia menerima kalung itu.
"Iya, aku juga menyukaimu," jawabnya dengan malu-malu. Bara berjingkrak senang dan memasangkan kalung bulan sabit di leher jenjang milik Naina.
"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Bara penuh harap.
Sementata Naina hanya mengangguk yang menyembunyikan rona wajahnya yang memerah.
****
3 bulan kemudian
__ADS_1
Entah kenapa Dita sangat malas melakukan hal apa pun selain berbaring di tempat tidur yang terasa sangat empuk. Ketika Nathan bangun dari tidurnya, mengerjapkan mata dan melihat sang istri masih terlelap dengan tidurnya. Dia memeluk dan mencium wajah Dita secara bertubi-tubi untuk membangunkannya.
"Sayang, bangunlah. Ini sudah pagi, apa kamu tidak menyiapkan sarapan?" kata Nathan.
"Memangnya kenapa? bukan kah di mansion ini banyak pelayang! minta saja mereka yang buatkan, hari ini aku tidak ingin melakukan hal apa pun," jawab Dita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Eh, bukankah kamu sendiri yang mengatakan ingin memasak sarapan untuk semua orang. Apa yang terjadi sekarang, ayo bangunlah."
"Tidak, jangan ganggu tidurku," ketus Dita yang menarik selimut.
Nathan menghela nafas sebanyak 3 kali, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Terlihat perut sixpack seperti roti sobek milik Nathan dengan handuk yang melingkar di bagian pinggang ke bawah.
Memakai parfum dan juga setelan jas untuknya pergi ke kantor, "Sayang, bangun. Sudah cukup untuk tidurnya hari ini, sekarang kamu sarapan dulu dan lanjutkan tidur." Nathan mengelus pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang dan mencium bibir sang istri.
Dita terkejut dan dengan tergesa-gesa melangkahkan kaki nya menuju toilet, Nathan sangat khawatir dengan kondisi Dita saat ini. Menyusul Dita yang memuntahkan seluruh makanan tadi malam, "ada apa? apa kamu masuk angin?" celetuk Nathan yang memijat pelan di leher Dita.
"Menjauh dariku, kamu sangat bau," ketus Dita yang mendorong Nathan.
"Tidak, kamu sangat bau. Apa yang kamu pakai?" tutur Dita yang menutup hidungnya.
"Parfum seperti biasanya."
Dita tak tahan, mengeluarkan sisa-sisa makanan tadi malam. Badannya sangat lemas, tidak bisa menompang tubuhnya sendiri. Nathan melempar jas yang baru saja dia kenakan ke sembarang arah, dan dengan sigapnya menangkap tubuh sang istri yang tampak kelelahan.
Menggendong Dita ala bridal style, menuju kasur empuk milik mereka. Nathan melakukannya dengan sangat hati-hati. Mengambil ponsel yang berada di saku celananya, untuk mencari kontak yang akan dia tuju.
"Hallo."
"Datang ke mansion sekarang, aku butuh bantuanmu."
"Aku akan datang dalam waktu 1 jam lagi."
__ADS_1
"Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, cepatlah kemari! ini sangat darurat," desak Nathan.
"10 menit lagi aku akan menjalankan operasi, dan melakukannya dengan cepat."
"Baiklah, masih banyak dokter lain yang akan mengantikanmu dengan cepat, dan jangan lupa untuk membawa suster bersama mu. Aku tak ingin jika istriku terkontaminasi dengan virus di tangan mu," ucap Nathan dengan nada yang mengancam.
Sambungan telfon terputus membuat seorang dokter mengumpat Nathan dengan menyebut nama beberapa hewan lainnya.
"Dasar Nathan sialan, jika saja dia pria miskin dan bukan temanku. Heh, sudah lama aku melemparnya ke dasar samudra Atlantis," gerutu pria tampan yang memakai jas dokter.
Dokter tampan itu memasuki kediaman Wijaya dengan sangat elegan, twins L melihat sang dokter berlarian membuat mereka sangat penasan dan mengikuti pria berjas putih itu.
Pintu terbuka mengalihkan perhatian Nathan, "periksa istriku, CEPAT!" tekan Nathan. Dokter tampan itu ingin memeriksa keadaan Dita, dengan cepat Nathan menepis tangannya.
"Hei, ayolah. Aku hanya memeriksa pasienku," keluh dokter tampan.
"Sudah aku bilang, kamu boleh memeriksa tapi tidak menyentuhnya atau jari-jarimu itu akan rontok nanti," ancam Nathan. Sementara dokter tampan itu menghela nafas dengan kasar, "ayo sus, periksa pasien," perintah Dokter tampan. Dia adalah teman sekaligus kepala rumah sakit Wijaya, bernama Antoni.
"Bagaimana hasilnya?" desak Nathan yang sangat cemas. Antoni tersenyum membuat Nathan geram, "jangan senyum, cepat katakan! apa ini sangat serius?"
"Yah, kamu benar. Mulai sekarang, kamu harus menjaga istrimu selama 24 jam."
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti. Bicaralah dengan jelas," tutur Nathan dengan wajah nya yang dingin.
"Istrimu sedang hamil, usia kehamilannya menginjak 2 bulan. Selamat, karena sebentar lagi kamu mempunyai anggota baru," ucap Antoni yang memeluk Nathan beberapa detik.
Nathan hanya terdiam tanpa mampu mengeluarkan kata-kata, lidahnya seakan keluh untuk berbicara. Air mata yang menetes dari pelupuk matanya yang tajam menjadi saksi bisu kebahagiaannya.
"A-aku tidak percaya ini, aku berhasil membuat kecebong baru." Antoni mengerutkan kening dengan perkataan yang baru saja terdengar olehnya.
"Apa itu hamil?" ucap Al dan El yang sedari tadi mengintip di balik pintu.
Nathan menghampiri kedua putranya dan memeluk dengan sangat erat. "Hamil itu artinya sebentar lagi kalian menjadi kakak."
__ADS_1
"Apa kami mempunyai adik?" ucap Al dengan mata berbinar yang di iyakan oleh Nathan.
"Horee, keluarga kecebong akan bertambah," teriak El yang sangat senang. Sementara Antoni menatap mereka dengan bingung, "apa yang mereka maksud?" batin nya.