
Akhirnya Daniel mendapat cuti walau hanya sehari saja, tapi dia tetap bersyukur akan hal itu. Setelah membersihkan diri dan berpakaian casual serta beberapa semprotan parfum yang selalu dia pakai, dengan percaya diri menuju kontrakan milik Nurma.
Mobil mewahnya memasuki komplek yang sangat sempit, hingga Daniel memarkirkan mobil nya agak jauh. Daniel menjadi sorotan para ibu-ibu komplek dan sesekali menggodanya, dia tidak menghiraukan semua itu.
Menghirup nafas yang sangat dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, berfungsi untuk membuatnya tetap tenang dan mengetuk pintu.
Nurma membuka pintu dengan wajahnya yang datar, "mau apa kesini? kita tidak ada urusan, pergilah!" usir Nurma yang kembali menutup pintunya. Terlambat, Daniel lebih dulu mengganjal pintu menggunakan kakinya.
"Aku sudah sampai di sini, cepat bersiaplah. Aku ingin mengajakmu pergi untuk jalan-jalan."
"Aku sibuk," ketus Nurma.
"Pergi atau kamu akan kehilangan pekerjaan."
"Kamu mengancamku?" Nurma menunjuk dirinya sendiri.
"Begitulah, pilihan ada di tangan mu."
"Hem, 5 menit." Nurma masuk ke dalam kontrakannya tanpa mempersilahkan Daniel untuk masuk ke dalam. Bukan Daniel namanya jika tak menerobos untuk masuk ke dalam kontrakan.
Matanya menyusuri setiap inci dari kontrakan yang kecil dan juga sangat sederhana. Melihat beberapa foto Nurma yang tersenyum cantik yang menghiasi dinding, "dia sangat cantik jika tersenyum, tapi kenapa ekspresi nya selalu jutek kepadaku?" lirih pelan Daniel.
"Ehem." Suara dehaman mengalihkan perhatian Daniel dan menoleh, kecantikan Nurma yang di poles tipis dengan make up membuat Daniel tak berkedip.
"Ibu dari anak-anak ku sangat lah cantik," batin Daniel yang berkhayal.
"Hallo, apa yang kamu lamunkan?" ucap Nurma yang melambaikan tangannya di hadapan wajah Daniel.
"Eh, maaf. Ayo pergi," celetuk Daniel yang menyiapkan tangannya untuk menggandeng Nurma dengan romantis.
__ADS_1
"Kita bukan pasangan, berjalan seperti biasa saja," ketus Nurma.
"Baiklah, terserah mu saja."
Di sepanjang perjalanan, Daniel selalu mengajak Nurma mengobrol. Tapi sikap cuek yang Nurma tunjukkan membuat Daniel sedikit kesulitan untuk menaklukkan wanita yang berada di sebelahnya.
Mobil berhenti di parkiran yang tak jauh dari Cafe, Daniel ingin membukakan pintu agar terlihat romantis. Lagi dan lagi di tolak oleh Nurma dengan sinis, "tidak perlu membukakan pintu, aku bisa sendiri."
Daniel tidak menjawab, karena dia sangat lelah dengan sikap Nurma yang selalu jutek dan juga cuek kepadanya, hingga makan malam romantis berubah sepi.
Seseorang menepuk pundak Daniel dengan senyum di wajahnya, "Daniel? kita bertemu lagi setelah sekian lama ya," ucap wanita itu yang duduk di samping Daniel. Mereka cipika-cipiki membuat Nurma mengalihkan perhatiannya melihat kedua orang di hadapannya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin cantik," puji Daniel yang tersenyum bahagia.
"Kamu juga semakin tampan. Oh ya, siapa wanita yang kamu bawa itu," tunjuk wanita cantik yang duduk di sebelah Daniel.
"Aira, wanita bersamaku bernama Nurma. Dan Nurma dia adalah Aira," ujar Daniel yang mengenalkan mereka.
"Nurma, aku hanya temannya saja." Nurma merasa sesak dengan kedekatan Daniel dan juga Aira yang bersenda gurau, menjadikannya nyamuk di antara mereka.
Rasa kesalnya membuat Nurma meletakkan sendok dan garpu dengan kasar di atas piring, menghentikan aktivitas Daniel dan Aira. "Kalian lanjutkan saja, aku harus pergi dulu," ucap Nurma dengan langkah tergesa-gesa sembari menahan sesak di dadanya.
"Apa yang terjadi dengan ku? kenapa rasa ini sangat sakit sekali," lirih pelan Nurma.
Sementara Daniel tersenyum dengan penuh arti menatap kepergian Nurma
****
Twins L sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah, karena mereka ingin bertemu dengan temannya yang bernama Abian. Walau pertemanan singkat, membuat Al dan El menyukai keberadaan Abian.
__ADS_1
Mereka melihat dengan sangat jelas, dimana Abian yang duduk bersender di bawah pohon yang rindang sambil membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya. "Tidak biasanya dia begitu? ada apa dengan Abian?" ucap El yang melirik Al.
"Entahlah, sepertinya dia punya masalah yang sangat besar. Apa pun itu, kita hampiri saja," jawab Al yang menghampiri Abian dan di ikuti oleh El dari belakang.
"Abian, kenapa kamu di sini? apa kamu punya masalah?" lirih El yang duduk di samping Abian.
Dengan cepat, Abian menghapus air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di antara sahabatnya, namun sayang, air mata itu terlihat jelas oleh twins L.
"Ceritakan saja, ada apa? bukankah kita ini sahabat." Al menepuk pundak Abian dengan pelan. Abian tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, memeluk Al dengan sangat erat. Al dan El merasa bingung dengan sikap temannya yang menjadi cengeng.
"Mommy dan Daddy ku sekarang pisah rumah, aku tinggal sendirian di mansion itu. Aku tak sengaja mendengar mereka bertengkar hebat membuat ku ketakutan. Dan juga, mereka membawa koper dan meninggalkan aku sendiri," ujar Abian di sela-sela tangisnya.
"Cup....cup tenanglah, kami tidak akan meninggalkan mu," celetuk El yang mengusap punggung Abian dengan lembut.
"Jika kamu tidak ingin sendirian, kamu boleh menginap di mansion milik kami. Aku akan membicarakan dengan Ayah dan Ibu ku, agar kamu tidak kesepian lagi." Solusi dari Al yang di anggukkan kepala oleh El. Abian menghapus air matanya dan tersenyum, mereka berpelukan satu sama lainnya.
Sesuai perkataan dari Al, sekarang Abian menginap di mansion milik Wijaya selama beberapa hari atas persetujuan Nathan tentunya. Abian sangat senang berada di lingkungan anggota keluarga Wijaya yang menyayanginya, apalagi Dita juga ikut memanjakannya.
"Di mana kalian, sarapan sudah siap," ucap Dita yang memanggil semua orang.
Setelah mereka semua berkumpul Dita melayani Nathan, setelah itu Al dan El juga Abian dengan penuh kasih sayang.
"Ayo, makan lah yang banyak," tutur Dita yang mengelus pucuk kepala Abian dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Tante sangat baik padaku. Padahal aku hanyalah orang asing," lirih Abian yang menundukkan kepalanya, cairan bening di pipinya mengalir begitu deras, karena selama ini dia hanya di asuh oleh Nanny.
"Sayang, jangan menangis ya. Mulai sekarang kamu boleh memanggil Ibu seperti Al dan juga El, anggaplah kami keluarga mu juga." Abian yang mendengar penuturan dari Dita langsung turun dari kursinya, serta memeluk erat tubuh Dita.
Twins L sangat sedih dan juga kasihan melihat keadaan sahabatnya yang kurang kasih sayang, karena pernikahan paksa kedua orang tuanya membuat mereka saling membenci dan memutuskan bercerai di saat umur Abian 6 tahun, sesuai surat perjanjian pranikah.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu ya, Ibu sangat senang jika Abian menginap di sini. Ingatlah, pintu rumah ini terbuka lebar untukmu," sahut Dita yang menyamakan tingginya dengan Abian. Twins L yang melihat itu, ikut bergabung memeluk Dita.