Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 69


__ADS_3

Nathan menatap bangunan yang sudah terbakar, seketika dia baru menyadari jika Al dan El tidak berada bersamanya. Perasaannya menjadi kacau dan juga kalut, di saat Nathan ingin mencari keduanya terhenti saat mendengar suara yang memanggilnya.


"Ayah mau cari siapa?" ucap El, Nathan menoleh dan menghampiri kedua anaknya.


"Syukurlah kalian selamat. Terima kasih telah melindungi anak-anakku, " ujar Nathan yang menatap Bara dengan tulus.


"Tidak perlu berterima kasih, mereka juga putraku."


Nathan tersenyum dan celingukan mencari keberadaan Daniel, "apa kalian melihat Daniel?"


"Terakhir aku melihatnya, dia berlari ke posisi kalian yang sedang bertarung. Dan setelah itu, aku tidak mengetahuinya," tutur Bara.


"Apa kamu yakin?" tanya Nathan yang mengerutkan kening menatap lawan bicaranya.


"Aku sangat yakin."


"Aku tidak melihat nya, apa jangan-jangan dia masih di dalam dan tidak selamat?" praduga Nathan.


"Apa kamu menyumpahi ku mati?" keluh seorang pria yang menuju ke arah mereka.


Nathan seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dia melihat Daniel yang sedang membopong tubuh Zean yang sedikit cedera, dan menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Aku tak percaya ini, kamu selamat," ucap Nathan yang menatap Zean dan Daniel bersamaan.


"Ck, aku tidak akan mati dengan cara seperti itu," jawab Zean yang menatap Nathan dengan jengah.


"Bagus, semuanya selamat. Keadaan Ibu sangat buruk, ayo kita bawa ke rumah sakit," ujar Al yang menatap keempat pria tampan dengan mendongakkan kepala.


Tanpa membuang banyak waktu, mereka menuju ke rumah sakit yang tak jauh dari sana. Dokter menangani Dita yang butuh pertolongan, dan Daniel mengabari kabar mereka terhadap Wijaya dan Novi.


Nathan menatap Nanar pintu ruangan tempat sang istri di rawat, dia menoleh ke arah Zean yang juga melakukan hal yang sama dengannya. "Aku minta maaf kepadamu," ucap Nathan dengan tulus.


"Kenapa baru sekarang?" sahut Zean yang menoleh ke arahnya.


"Maafkan aku yang salah paham dengan mu. Aku tidak menyangka, jika Alvin lah dalang dari semua kekacauan ini."

__ADS_1


"Jangan menyebut nama itu lagi, sudah lupakan yang lalu. Aku juga minta maaf, karena pernah menculik Dita dari mu."


"Eh, apa itu artinya kita berbaikan?"


"Benar, mulai saat kita menjadi sahabat." Zean memeluk Nathan yang hanya beberapa detik, Nathan sangat senang jika masalahnya teratasi dengan sangat baik.


"Apa kamu masih tetap dengan obsesi mu itu?" ucap Nathan yang mengintrogasi Zean.


"Pantang bagiku untuk merebut istri dari sahabatku sendiri," jawab Zean yang membusungkan dadanya dengan bangga.


"Heh, jangan lupakan jika kamu pernah menculik istri ku," ketus Nathan.


"Jangan salahkan aku jika posisinya saat itu kita adalah musuh, dan dia juga wanita yang sangat aku cintai."


Twins L yang melihat perdebatan Nathan dan Zean juga tak mau kalah, "jangan memperebutkan Ibu ku," ketus Al yang menatap tajam kedua pria dewasa itu.


Hampir saja Zean melupakan keberadaan Al dan juga El, dia menoleh dan menatap tajam twins L. "Kedua putra mu ini sama-sama menyebalkan, sama seperti mu," cetus Zean tanpa menatap Nathan.


"Tentu saja, mereka adalah anak-anakku."


"Apa aku salah bicara?" bisik El kepada Al.


"Tidak, Ayah sering memanggil kita dengan sebutan anak kecebong," Balas Al yang juga berbisik.


"Astaga....apa yang telah kamu ajarkan kepada kedua anakmu?" ucap Bara di sela-sela tawanya.


"Benar, tapi....apa itu kecebong?" tanya El dengan polos.


"Kamu Ayah yang sangat buruk," racau Zean yang menggelengkan kepala. Nathan dengan geram membekap mulut El yang selalu mempermalukannya.


Zean menatap ruangan tempat Dita di rawat, menatap dengan sendu. Hati nya sedikit terhenyu saat melihat twins L yang sangat menggemaskan yang menyayangi Ibunya, anak yang hampir saja dia bunuh yang tak lain adalah anak dari wanita yang sangat dia cintai.


Dokter keluar dan mengatakan jika Dita tidak mengalami masalah yang serius, bahkan lukanya telah di rawat dengan sangat baik. Nathan yang ingin masuk ke dalam ruangan terhenti saat melihat wajah Zean yang menatap sendu. Memegang pundaknya dengan pelan, "ayo masuklah, " ajak Nathan.


"Tidak, lebih baik aku di sini dan tidak masuk ke dalam, " tolak Zean.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku takut tidak bisa melepaskan Dita dan mengambilnya lagi darimu. Tolong sampaikan maafku kepadanya, dan juga perlakukan Dita dengan baik, jika sampai kamu menyakitinya! jangan salahkan aku yang akan merebutnya darimu, " tutur Zean yang sedikit mengancam.


"Tenang saja, aku sangat mencintainya dan tidak akan memberi mu cela sedikit pun. Berbicara mu seakan pergi jauh saja," cibir Nathan.


"Kamu benar, aku berusaha melupakan istrimu itu. Aku harus kembali ke negara ku," jawab Zean.


"Syukurlah, Paman tidak berniat mengambil Ibu ku," ketus Al yang membuat semua orang tersenyum dengan tingkah polah twins L yang sangat menggemaskan.


"Itu sebabnya Paman ingin pergi dari negara ini. Oh ya, untuk kalian berdua, jangan sesekali meretas data perusahaan orang lain, itu sangat berbahaya," nasehat Zean yang membuat twins L jengah.


"Dan kami sarankan, agar Paman tidak mengambil hak orang lain."


"Ya baiklah, mulai sekarang Paman tidak akan melakukannya lagi. Anak cabang yang telah kalian retas ambillah dan anggap sebagai hadiah dariku." Zean memeluk Bara, Daniel, Nathan, dan juga twins L. Melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah sakit, mereka menatap kepergian Zean yang mulai menghilang dari pandangan.


"Aku doakan, semoga kamu menemukan wanita lain yang akan mengganti posisi Dita di hatimu," gumam Nathan di dalam hati.


Tak lama, Wijaya dan Novi datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar. Dengan langkah yang tergesa-gesa, mencari ruangan tempat Dita di rawat.


Hingga akhirnya Mereka menemukan ruangan Dita dan di sambut oleh twins L dengan pelukan.


"Omah dan Opah di sini?" tanya El yang berada di gendongan Wijaya.


"Iya Sayang, " jawab Wijaya yang mencium pipi El.


Novi menghampiri Dita dan memeluknya dengan sangat erat, "bagaimana dengan keadaanmu?"


"Aku sangat baik, Ma. Terima kasih telah mengunjungiku," sahut Dita yang menyunggingkan senyuman.


"Jangan berterima kasih, cepat sembuh ya," ucap Novi yang mengelus pucuk kepala Dita dengan sangat lembut.


"Sebaiknya kami pergi dari sini, kalian lanjutkan saja," celetuk Daniel yang di iyakan oleh Bara. Karena sedari tadi mereka hanya melihat drama keluarga Wijaya dan tidak ingin menganggu.


"Kenapa tidak dari tadi heh," ketus Nathan.

__ADS_1


Bara dan Daniel sudah kebal dengan ucapan Nathan, mereka tidak menghiraukan dan pergi meninggalkan ruang rawat.


__ADS_2