
Lea dan Vivian menghabiskan waktu bersama, mereka menonton serial drama dari negeri gingseng sambil memakan keripik kentang dan di temani sejelas jus.
"Kakak tau, aku sangat senang dengan suasana seperti ini. Apalagi kak twins L tidak berada di mansion," celetuk Vivian yang menatap Lea dengan sangat antusias.
"Andaikan mereka pergi dari mansion untuk waktu yang sangat lama, aku sangat bahagia. Kita juga terbebas dari hukumannya kak Al," ujar Lea yang bersemangat.
"Itu benar, ayo kita rayakan kebebasan ini, bersulang!" ucap Vivian yang mengangkat jusnya dan di ikuti oleh Lea.
"Bersulang." Mereka meminum jus di dalam gelas hingga habis tak bersisa dan kembali menonton sereal drama yang sangat membuat mereka lupa waktu.
Lea menepuk keningnya saat melihat jam di layar ponsel yang menunjukkan waktu sudah sore.
"Ada apa kak?" tanya Vivian yang melirik Lea dengan sekilas.
"Apa kamu lupa? Ibu meminta kita ke butik."
"Hah, aku baru mengingatnya. Ayo kita kesana sebelum Ibu Dita menunjukkan taringnya," cetus Vivian yang bersiap dengan cepat. Lea mengambil tas dan juga ponselnya, begitupun dengan Vivian. Mereka masuk ke dalam mobil yang di kendarai supir, "antar kami ke butik, Paman!" ucap Vivian.
"Baik nona."
"Untung saja kakak mengingatnya, jika tidak kita akan terkena masalah. Tapi kenapa Ibu Dita meminta kita untuk pergi ke butik?" tutur Vivian yang menatap Lea yang sedang fokus mengarahkan pandangannya di luar jendela mobil.
"Kenapa kakak melamun?" Vivian menguncangkan tubuh Lea yang seketika sadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa, berhenti Paman," sahut Lea sembari memerintahkan supirnya
"Baik Nona," sahut pak supir yang menepikan mobil mencari tempat pemberhentian.
"Ada apa kak?" tanya Vivian yang menatap Lea dengan bingung.
"Kamu lihat di seberang jalan sana," tunjuk Lea.
"Yang mana?"
"Lihatlah ada seorang wanita dan juga anaknya sedang membutuhkan pertolongan."
__ADS_1
"Kakak benar, mereka dalam masalah. Apalagi di jalanan ini termasuk rawan begal," ungkap Vivian.
"Ayo kita kesana! Paman jangan kemana-mana, tunggu di sini saja," ucap Lea yang turun dari mobil dan di ikuti oleh Vivian.
"Baik Nona," sahut pak supir dengan patuh.
Pria itu terus menodongkan senjata tajam ke arah wanita yang sedang bersama anaknya, jalan yang mereka lewati merupakan jalanan sepi dan rawan kejahatan.
"Cepat serahkan seluruh hartamu atau aku akan melenyapkan anak ini," ancam pria begal itu yang memegang tangan anak dari targetnya.
"Baiklah, tapi aku mohon serahkan anakku," rengek wanita itu.
"Heh, kamu pikir aku bodoh? cepat berikan atau aku akan melenyapkan anak ini," ancamnya.
"Mommy tolong aku....hiks," ucap gadis itu yang menangis karena ketakutan.
"Tenangkan diri mu Sayang," ucap sang Ibu dengan perasaan kalutnya.
Tiba-tiba pria yang menodongkan senjata tajam tersungkur karena Lea yang menghantam punggungnya dengan sangat keras. "Dasar tukang begal, berani sekali kalian memeras seorang wanita," ucap Lea dengan wajah yang garang.
"Sialan, cukup besar juga nyalimu. Tapi itu bagus, aku akan menjual organ kalian di pasar gelap, kami sangat di untungkan dengan itu hahaha," sahut begal itu sembari berdiri tegak, dia menatap ke empat wanita yang sangat cantik.
"Tentu saja, ayo mendekatlah."
Salah satu pria itu mendekat, dia tersenyum nakal sambil membuka baju dengan penuh hasrat. Suasana jalanan yang sepi dan di sisi kiri kanan hanya terdapat hutan membuat nya lebih leluasa.
"Ck, sudah jelek di tambah dengan perut buncit itu, lebih seperti ikan buntal," cibir Lea yang menatap pria itu dengan tatapan jijik, sedangkan Vivian mengambil ancang-ancang untuk menyerang begal ke 2.
"Aku akan membungkam mulutmu," geram pria itu yang mendekati Lea, namun dengan cepat Lea memukul wajah pria itu dengan sangat keras. Begal kedua yang melihat hal itu terpaksa melepaskan tawanannya demi menolong partner. Lea dan Vivian saling melirik dan tersenyum tipis, mereka menikmati suasana yang sangat mereka rindukan yaitu bertarung.
"Ini pasti sangat seru," ujar Vivian yang bersemangat.
"Sudah lama aku tidak meregangkan otot-otot ku ini," sambung Lea.
Mereka berdua menjadi partner yang sangat hebat, menghajar, memukul dan juga menendang tanpa memberi celah sedikitpun. Tidak butuh waktu yang lama untuk mereka menyelesaikan kedua begal itu yang sekarang terkapar tak berdaya, "ayo berdirilah dan lawan aku," pekik Vivian.
__ADS_1
"Ampun....tolong ampuni kami," ucap kedua begal itu yang menyatukan kedua tangannya sambil bersimpuh di kaki Lea dan juga Vivian.
"Karena aku sedang berbaik hati, maka aku akan mengampuni dengan satu syarat," ucap Lea yang menatap kedua pria itu dengan tatapan tajam.
"Baiklah, katakan apa syarat yang harus kami lakukan."
"Mudah saja," sahut Lea yang mengkode Vivian.
"Katakan saja Nona."
"Berlarilah dengan sangat kencang."
"Itu sangat mudah," kata kedua pria itu yang mengikuti perkataan Lea.
Baru beberapa meter mereka berlari, Vivian membidik dengan sebuah jarum. Alat itu di buat khusus oleh El berukuran sangat kecil yang di berikan oleh sang kakak di saat ulang tahunnya. Seketika kedua begal itu pingsan membuat wanita dan anak nya terkejut.
"Wah, ternyata alat itu sangat berguna ya," celetuk Vivian yang menyombongkan dirinya.
"Tentu saja," sahut Lea, mereka mendekati kedua ibu dan anak itu.
"Apa ada yang terluka?" tanya Vivian.
"Tidak, terima kasih telah menolong kami."
"Aku tidak pernah melihat Nyonya dan juga anakmu, apa kalian baru di sini?" celetuk Lea yang memiringkan kepalanya.
Wanita itu tersenyum menatap kedua gadis yang telah menyelamatkan nyawanya, "kamu benar sekali, nama ku Kinan dan ini putriku Melodi," ucapnya.
"Salam kenal nyonya, aku Lea dan ini adikku Vivian."
"Kalian mau kemana? kenapa berhenti di jalanan sepi ini?" tanya Vivian.
"Kami ingin pergi ke L Boutique tapi mobilnya mogok di jalanan sepi, aku sudah menghubungi beberapa nomor kontak tetapi tidak ada yang datang dan kami sudah menunggunya sangat lama," penjelasan Kinan.
"Wah kebetulan Nyonya, kami juga ingin pergi ke sana. Bagaimana jika kita berangkat bersama, mobil kami ada di seberang jalan," jawab Vivian dengan antusias.
__ADS_1
"Kalian baik sekali," tutur Kinan yang tersenyum ramah. Mereka berjalan menuju mobil yang tengah di parkiran di seberang jalan. Di sepanjang perjalanan, mereka menghabiskan waktu berbincang untuk saling mengenal.
Kinan merupakan seorang janda yang mempunyai anak bernama Melodi, setelah perceraian nya dengan sang suami. Dia mendapatkan hak asuh anak semata wayangnya, mereka memulai kehidupan baru di kota yang baru. Usia Kinan sebaya dengan Dita, sedangkan Melodi berumur 17 tahun.