Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 148 ~ S2


__ADS_3

Anna sangat terkejut dengan penuturan dari El, bukan hanya terkejut dia bahkan syok mendengar jika El adalah pemimpin mafia yang paling di takuti.


"Apa kamu takut dengan ku? dan menjauh dariku?" ucap El.


"Kenapa kamu berkata jujur padaku, bisa saja aku membongkar identitasmu atau menjualnya kepada orang lain."


"Aku hanya jujur kepada wanita yang sangat aku cintai, setelah mengetahui kebenarannya. Apa kamu takut kepadaku?" ucap El dengan serius.


"Kamu pikir apa hah? tentu saja aku takut kepadamu, tapi aku salut dengan kejujuranmu."


"Anna, setelah kamu mengetahui segalanya, apakah kamu menerimaku sebagai kekasih mu? aku sangat mencintaimu," ucap El yang memegang kedua tangan Anna dan menatap matanya dengan dalam.


"A-aku belum tau bagaimana perasaan ku padamu," jawab Anna dengan gugup yang menahan rasa gejolak dan desiran di hatinya yang dia sendiri tidak mengetahuinya.


"Tidak perlu menjawabnya sekarang, tidak perlu terburu-buru dalam hal itu. Tapi aku ingin mendapatkan jawaban dari mu setelah aku pulang dari Swiss, YA atau TIDAK. Jika jawabanmu TIDAK? aku akan menjauh dari kehidupanmu dan tidak akan menganggumu lagi, kita akan menjadi orang asing saja," kata El yang membuat Anna sedikit terkejut.


"Apa maksudmu dengan orang asing?"


"Aku akan berusaha melupakanmu, jangan diam saja! makanlah sesuatu," tutur El yang menyuapi Anna.


Anna hanya membuka mulut menerima suapan dari El, dia hanya duduk diam terpaku menatap wajah El.


"Apa aku tampan?" ujar El yang tersenyum.


"Sangat tampan," gumam Anna tanpa sadar, dan setelah beberapa detik dia baru tersadar membuat El terkekeh melihat tingkah Anna yang sangat menggemaskan.


****

__ADS_1


Lea sangat senang, karena dia bisa terbebas dari kedua pria yang sangat menyebalkan baginya. Kali ini dia ingin menggunakan motor sport miliknya sendiri, motor sport berwarna merah yang di berikan oleh Bara saat ulang tahunnya.


Memakai celana Jeans dan jaket kulit berwarna coklat serta sepatu sneakers berwarna putih, membuat penampilan Lea sangat memukau. Mengemudikan motornya dengan kecepatan penuh bagai seorang pembalap, menyalip beberapa kendaraan yang berjalan sangat lamban.


Tak butuh waktu lama bagi Lea sampai ke tujuannya yang sekarang berada ke destinasi wisata, dengan membawa kamera untuk mencari objek para pria yang masuk kedalam kategorinya sebagai pria tampan.


Lea tersenyum saat melihat objek pertamanya yang sedang duduk sendirian, dia mencoba mencoba untuk memotret punggung pria itu.


Pria itu tau jika Lea sedang mengambil fotonya secara diam-diam, dia tersenyum dan berbalik. Betapa terkejutnya Lea, ternyata pria itu adalah Rayyan dan sekarang berjalan mendekati Lea.


"Jika kamu menginginkan fotoku kenapa tidak mengatakannya saja, ayo foto aku!" ucap Rayyan yang telah berpose elegan di hadapan Lea.


"Sial, ternyata aku salah objek. Kenapa dia seperti Setan yang ada di mana-mana, dan hampir sama dengan Abian si Jailangkung itu," batin Lea yang mengumpat.


"Eh, kenapa kamu diam saja. Ayo foto aku," tutur Rayyan.


"Ya sudah, jangan lama-lama atau aku akan mencarimu."


"Baiklah," sahut Lea yang tersenyum tipis.


Dengan cepat dia pergi sejauh mungkin menuju destinasi wisata yang lain, dia menghirup udara dengan dalam dan mengeluarkan secara perlahan, kembali memegang kamera untuk mencari objek lainnya.


Di saat Lea mendapatkan objek yang sesuai dengan kriteria nya, dia memotret dengan sangat fokus. Tapi fokusnya hilang saat seseorang menepuk pundaknya, Lea sangat kesal dan memarahi orang itu.


"Bisakah kamu tidak menggangguku?" ketus Lea yang membulatkan matanya saat melihat orang itu yang tak lain Abian yang tengah tersenyum, menampakkan gigi putih nan rapinya.


"Tidak baik memotret orang lain tanpa seizin sang empunya, daripada kamu memotret yang tidak jelas, bagaimana jika kita berfoto dan menikmati suasana yang masih asri ini?" ajak Abian.

__ADS_1


"Kenapa kalian selalu saja ada di mana-mana, kenapa kamu mengikuti ku? aku menginginkan privasi, pergilah dari sini," usir Lea yang mendorong tubuh Abian.


Dengan cepat Abian menarik tangan Lea, hingga mereka terjatuh dengan posisi yang intim. Tatapan mata dari keduanya membuat perasaan keduanya bergejolak, tanpa memikirkan sekitarnya. Tatapan yang hanya beberapa detik saja. Abian mengambil kesempatan itu dan mencium bibir ranum milik Lea yang terkejut dengan tindakan Abian yang sangat mendadak. Otak Lea seakan traveling dan membuah iman yang dangkalnya goyah akan ciuman itu dan hanyut dalam permainan dari Abian. Dengan cepat Lea berdiri, memulihkan raut wajahnya dengan cepat dan meninggalkan Abian. Dia terus mengikuti Lea membuat Lea sedikit canggung dengan itu.


"Jangan mengikutiku," cetus Lea.


"Kenapa? ciumanmu sangat kaku, apa itu first kiss mu? jika begitu aku pria yang sangat beruntung," sahut Abian dengan bangga.


Lea yang sangat malu itu tidak bisa menghentikan tangannya yang gatal untuk memukul Abian yang hanya pasrah saja, karena hari ini dia sangat senang menjadi pria pertama bagi Lea.


Akhirnya Lea pasrah dengan keberadaan Abian yang selalu mengekorinya, karena dia sudah mencoba berbagai cara agar bisa kabur dari sana. Tetapi Abian bukanlah orang yang mudah di tipu.


****


Lain halnya dengan Shena, dia merencanakan untuk membentur kepala Al agar bisa melupakan kejadian itu. Walau dari riset yang dia temukan tidak akan berhasil, apa salahnya untuk mencoba, begitulah yang di pikirkan oleh gadis itu.


Al berjalan menuju kamarnya, karena sangat capek dengan urusan kantor yang menguras tenaganya dan juga pikiran. Dia berjalan dengan sangat elegan, saat memegang ganggang pintu untuk membukanya, wajah Al di sambut dengan bantal besar yang terus memukul kepalanya.


"Hei hentikan ini, siapa kamu yang berani memukul wajahku menggunakan bantal?" ucap Al yang menarik batal itu dan membuangnya ke sembarang arah, dia sangat terkejut melihat seorang gadis itu, siapa lagi jika bukan Shena yang juga menatapnya dengan kesal.


"Apa kamu melupakan kejadian itu?" tanya Shena dengan pelan.


"Belum, memangnya kenapa?" jawab Al dengan polos membuat Shena kembali beraksi.


Shena mengambil kursi yang tak jauh darinya untuk menyamakan tingginya dengan Al. Al hanya melihat aksi Shena yang menurutnya sangat barbar dan juga bodoh.


"Apa yang kamu lakukan? dan kenapa kamu bisa berada di kamarku?" tanya Al. Shena tidak menjawab pertanyaan itu, dia menarik rambut Al dan membenturkan kepala Al ke pintu. Karena kesal Al menendang kursi yang menjadi pijakan Shena dan membuat gadis itu terjatuh menimpanya, bibir mereka saling bersentuhan membuat pikiran Al kembali mengingat tubuh Shena yang polos serta benda kenyal yang menimpanya.

__ADS_1


__ADS_2