Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 55


__ADS_3

Nathan merutuki nasib sialnya, di saat dia mempunyai ide untuk menghindari twins L untuk tidak menggangu keromantisannya dengan sang istri, dengan terpaksa dia kembali menidurkan junior dengan bermain solo.


"Ck, gagal sudah mempunyai Nathan junior berikutnya, " gumam Nathan. Tak lama kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi setelah menjinakkan juniornya, Dita menghampiri suaminya seraya menenangkannya.


"Ini tidak lama, Sayang. Hanya 1 minggu saja, " bujuk Dita.


"Juniorku akan menderita, 1 minggu terasa sangat lama, " jawab Nathan yang mengusap wajahnya dengan kasar.


Sudah waktunya Nathan dan Dita menjemput kedua anaknya, mereka kembali menuju taman kanak-kanak dan menunggu. Twins L berlari menuju kedua orang tuanya, dan memeluk Dita dan Nathan secara bergantian.


"Bagaimana dengan kelas baru kalian? " tanya Nathan yang berjongkok, menyamakan tinggi anaknya.


"Aku tidak suka dengan taman kanak-kanak nya, bisakah Al langsung masuk ke tingkat Sekolah Dasar? " pinta Al.


"Benar, El juga tidak menyukainya. Sangat membosankan, apakah tidak ada sekolah yang mengajarkan ilmu retas, " gerutu El yang menghela nafas dengan kasar.


Nathan menatap satu persatu putranya dengan menautkan alisnya, "taman kanak-kanak tidaklah buruk, kalian bisa menambah pertemanan. "


"Tapi tetap saja, benar-benar membosankan. Pindahkan kami ke jenjang yang lebih tinggi, " pinta Al. Nathan melirik istrinya yang mengangguk saat menatapnya. Dengan berat hati, Nathan menyetujui permintaan kedua putranya.


"Hem, baiklah. "


"Horee," sahut twins L dengan kompak.


Di malam harinya, di ruang kerja miliknya, Nathan sedang berkutat dengan laptop dan juga ponsel, mengutak-atik dengan jari-jari dengan sangat cepat dan juga lihai. Mata yang tetap fokus menghadap le layar laptop.


"Aku sangat mengenal Zean dengan sangat baik, dia pasti merencanakan sesuatu untukku dan juga keluarga ku. Untuk saat ini, aku akan memperkuat sistem di mansion ini dan juga menyembunyikan data keluarga Wijaya," monolog Nathan.


Pintu terbuka mengalihkan perhatian Nathan," sedang apa kalian di sini? "


"Tidak ada, kami hanya bermain dan tak sengaja membuka pintu ini, " jawab Al yang masuk ke dalam ruang kerja Nathan.


"Apa yang Ayah lakukan? apa itu pekerjaan dari kantor? " El menghampiri sang Ayah dan duduk di sebelahnya, sementara Al juga mengikuti El untuk duduk di sebelah Nathan.


"Untuk apa Ayah memperkuat sistem rumah ini? " Al yang sedang fokus di layar laptop dan melirik Nathan.


"Ayah sangat yakin, jika Zean tidak akan membiarkan kita hidup tenang. Cepat bantu Ayah untuk menutupi data Ibu kalian, sementara ayah akan memperkuat sistem keamanan di mansion ini," titah Nathan dengan cepat di setujui oleh twins L. Ayah dan anak itu, sama-sama sibuk dengan urusan mereka hingga malam. Dita yang sedang mengelilingi mansion mencari keberadaan Suami dan juga anak-anaknya.

__ADS_1


"Mereka kemana ya? aku sudah mencarinya dari tadi, " gumam Dita yang celingukan. Dita menepuk pundak salah satu pelayan yng sedang membersihkan ruangan, "iya nyonya, ada apa? " ucap pelayan itu yang menundukkan kepalanya.


"Apa kamu melihat suami dan juga Al dan El? "


"Mereka ada di ruang kerja, tuan Nathan nyonya, " jawab pelayan itu.


"Baiklah, terima kasih. " Dita tersenyum dan pergi meninggalkan tempat itu.


Al melihat hasil pekerjaannya El, "bagaimana hasilnya? "


"Sebentar lagi. "


"Dasar lamban, bisakah kamu mempercepat ini? " gerutu Al.


"Jangan mengurusiku, fokus saja dengan program mu, " jawab El.


"Aku sudah selesai, cepat lah sedikit," ucap Al. Nathan tidak menghiraukan drama yang terjadi di dekatnya, situasi yang sangat darurat itu membuatnya tetap fokus.


"Apa kalian sudah selesai, " ujar Nathan.


"Sudah Ayah, " sahut mereka kompak.


"Rahasia aman, ayah, " jawab El yang cengengesan.


"Seriuslah sedikit, jangan sampai Ibu tau akan hal ini. Jika tidak, Ibu akan sangat khawatir. " Al menyentil kening adiknya.


"Apa kalian menyembunyikan sesuatu? "celetuk wanita cantik dari balik pintu ruangan.


"Tidak," sahut ketiga pria itu yang menggelengkan kepala.


"Kalian sangat kompak, Ibu semakin mencurigai ini. "


"Itu hanya kebetulan saja, tidak ada apa pun yang kami sembunyikan dari ibu. Ada apa ibu menyusuk kami? " ujar Al.


"Eh, Ibu sampai lupa ingin mengatakan untuk turun ke bawah dan makan malam bersama. "


"Baiklah, kami akan menyusul, " sela Nathan.

__ADS_1


****


Pria tampan dengan seragam lorengnya, duduk bersandar dengan tangan yang menompang dagu. Tatapan lurus dengan pikiran yang melamun. Dia menghembuskan nafas dengan kasar, memikirkan bagaimana rencana yang akan dia lakukan nanti. Meluluhkan hati wanita sangat lah mudah baginya, tapi wanita yang satu ini sangatlah berbeda dengan wanita yang selalu dia kencani.


"Akan aku pastikan, Naina Wijaya akan bertekuk lutut di hadapanku. Pasti sangat menyenangkan mempermainkan wanita itu, tapi bagaimana caranya? " monolog Bara.


Lamunannya terhenti saat ada tepukan pelan di bahunya, "apa yang kamu pikirkan? "


"Sejak kapan ibu di sini? " ujar Bara.


"Baru saja, apa kamu memikirkan twins L?" praduga Lilis.


Bara tersenyum sumringah saat mendengar twins L, "Ibu benar, yasudah aku pergi ke mansion Wijaya untuk menemui mereka, " ucap Bara yang sangat antusias.


"Baiklah, titip salam Ibu untuk Dita dan twins L. "


"Hem, nanti aku sampaikan. " Bara bergegas pergi menuju mansion Wijaya, di sepanjang perjalanan Bara selalu tersenyum. Tujuan utama Bara datang ke mansion Wijaya dengan harapan dapat meluluhkan Naina dengan pesona yang dia miliki dengan alasan ingin bertemu dengan twins L.


Makan malam dengan suasana tenang itu terganggu dengan kedatangan Bara. Twins L menyambutnya, "Papa di sini? " Al dan El menghampiri Bara dan memeluknya dengan sangat erat, Bara membalas yang juga memeluk mereka.


"Bagaimana keadaan kalian? Papa sangat merindukan kalian. Semenjak kalian di sini, kalian melupakan Papa Bara yang sangat tampan dan mempesona ini, " tutur Bara yang menyombongkan diri membuat twins L menatap dengan jengah.


"Mana mungkin kami melupakan Papa, " seloroh Al.


"Ayo masuklah, kita makan bersama. " Al menuntun Bara menuju meja makan.


Nathan mengalihkan perhatiannya, "ada apa kamu datang kemari?"


"Tentu saja aku merindukan kedua putraku," sambung Bara.


"Ck, mereka putra ku. Selera makan ku menjadi hilang setelah melihat mu, " cetus Nathan yang tidak di hiraukan Bara.


"Ayo duduklah, kita makan bersama, " sela Wijaya dengan wajah yang ramah.


"Itulah tujuanku yang kedua untuk datang, tuan. " Bara duduk di kursi dan mengambil makanan. Sementara Naina menatapnya Bara dengan tajam, "siapa yang menyuruh mu untuk duduk di sampingku. Cari kursi kosong lainnya, " ketus Naina.


"Tidak boleh ketus dengan orang lain, tamu adalah raja. Jadi biarkan saja, " tegas Wijaya. Bara menyunggingkan senyuman kemenangan di wajahnya dan berkedip ke arah Naina.

__ADS_1


"Pria ini sangat kurang ajar, lihat bagaimana aku akan mengerjaimu nanti, tunggu saja, " batin Naina yang tersenyum menyeringai.


__ADS_2