Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 86


__ADS_3

Nathan berniat membawa keluarga kecilnya untuk berlibur di Villa yang berada tak jauh dari pantai berpasir putih, serta membawa Abian karena merasa kasihan dengan anak yang kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Ketiga anak laki-laki itu, menyambut liburan panjang dengan bahagia. Pemandangan indah dengan suara ombak yang terdengar di telinga, membuat pikiran menjadi lebih tenang.


"Kenapa Mobil ini jalannya sangat lamban? bahkan kura-kura bisa lebih cepat dari ini," cetus El yang tidak sabar.


"Biar pelan asal selamat, duduk diam dan jangan menggerutu," balas Nathan yang fokus mengemudikan mobilnya.


Hanya beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah Villa yang sangat terawat milik keluarga Wijaya. Mobil berhenti, di sambut baik oleh twins L dan juga Abian. Mereka berlari menuju pantai pasir putih, "ayo kejar aku," teriak Abian yang di kejar oleh Al dan El. Dita tersenyum saat melihat anak-anaknya, dia bahkan juga menganggap Abian sebagai putranga sendiri, sedangkan Nathan menatap senyum indah yang menghiasi wajah cantik istrinya, walau kandungan Dita sudah membesar membuat postur tubuh Dita melebar.


Nathan tersenyum menghampiri Dita, mencium perut yang membuncit dan mengelusnya dengan perlahan.


"Ayah sudah tidak sabar dengan kehadiran mu, jangan membuat Ibu mu kesulitan. Ayah sarankan, agar tidak mengikuti jejak kedua kakakmu yang sangat nakal itu," ucap Nathan yang berbicara dengan bayi yang masih di dalam perut istrinya.


"Ibu, kami sangat lapar," rengek Al dengan mata yang memelas.


"Oho, anak Ibu sangat lapar ya? apa El dan Abian juga lapar? ayo masuklah, kita makan sama-sama." Dita menggandeng Al dan Abian, sedangkan El di gendong oleh Nathan.


Makan kali ini, sengaja di buat oleh Dita khusus untuk semua orang. El dan Nathan menatap piring yang sama, yaitu ayam bakar favorit mereka berdua. Hingga terjadi rebutan ayam bakar yang tersisa 1 potong.


"Ayah, mengalahlah dengan anakmu," ucap El yang berusaha menahan ayam bakar berada di atas piringnya.


"Jangan serakah, kalian sudah mendapatkan bagian masing-masing," kekeuh Nathan yang tak ingin mengalah. Dita menatap suaminya dengan penuh perhatian.


"Jangan ada yang rebutan, ini punya Ibu untuk El saja ya. Sayang, kamu itu panutan untuk mereka," ucap Dita dengan tersenyum.


"Iya Sayang."


Mereka sangat kompak, keluarga utuh dan bahagia. Ada tersirat rasa iri di hati Abian yang melihat kebersamaan keluarga kecil yang harmonis. Tidak ada yang tau, jika dia meneteskan air matanya.


Keesokan harinya, Dita mengurus suami dan juga ketiga anak-anaknya, Al, El, dan juga Abian. Pagi hari yang mereka lewati sangat lah indah, Dita mengurus semua orang dengan sangat baik.

__ADS_1


"Sayang, di mana handuk untukku?" teriak Nathan dari dalam kamar mandi.


"Iya sebentar," ucap Dita yang mengulurkan handuk kepada suaminya. Tak lupa pula menyiapkan pakaian Nathan dan melihat ketiga anaknya yang sudah menunggu di meja makan.


"Sayang, dimana jam tangan ku dan juga ponsel?" pekik Nathan membuat Dita menghampiri suaminya.


"Kalian makanlah dulu, Ibu ingin menyusul Ayah kalian," ucap Dita yang tersenyum, dan pergi meninggalkan meja makan.


"Sayang cepatlah. "


"Iya sebentar." Pintu terbuka membuat Nathan menoleh dengan cepat, "dimana letak barang-barangku?" keluh Nathan dengan manja.


"Aku sudah menyusunnya dengan rapi, ada di laci meja rias itu. Tunggu sebentar, akan aku ambilkan." Setelah memberikan jam tangan dan juga ponsel, Nathan memeluk Dita dengan sangat erat.


"Terima kasih telah hadir di hidupku, aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak ada di sisiku."


"Mulai lah belajar dari sekarang! jika aku tak ada, setidaknya kamu bisa mandiri tanpa aku. Mengurus ketiga putraku, serta bayi yang aku kandung ini," lirih Dita yang membalas pelukan itu.


Nathan melepaskan pelukan itu, menatap dalam sepersekian detik dan kembali memeluk Dita sangat erat, "apa yang kamu katakan, hah? jangan katakan hal apa pun lagi. Apa jadinya aku tanpa mu, berjanjilah padaku untuk tidak mengatakan hal itu lagi," ucap Nathan yang sangat khawatir.


"Masakanmu selalu enak, membuat aku tidak bisa berpaling," sahut Nathan yang mengikuti Dita dengan wajah tersenyum.


Dita tersenyum melihat suami dan ketiga anaknya makan dengan sangat lahab, hingga makanan itu habis tak tersisa.


Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, mengabadikan moment indah dan kenangan yang bermakna. Bahkan, Abian sekarang lebih sering tersenyum karena keluarga barunya yang sangat harmonis. Waktu berlalu dengan sangat cepat, membuat keluarga kecil yang bahagia itu kembali ke mansion Wijaya.


****


Bara dan Naina pulang dari honeymoon, membuat twins L spontan sangat senang. Hingga mereka memeluk erat Bara dengan sangat erat, "Papa," teriak twins L yang di ikuti oleh Abian seraya berlari.


"Bagaimana dengan kabar kalian?" tanya Bara yang memeluk twins L.

__ADS_1


"Kami baik, bagaimana perjalanannya, Papa?" tutur Al.


"Sangat menyenangkan, dan Papa juga membawakan kalian oleh-oleh untuk semua orang, terutama untuk Al, El, dan Abian."


"Eh, aku juga dapat?" ucap Abian yang kaget.


"Tentu saja, kamu sekarang telah menjadi bagian dari keluarga ini."


"Boleh aku memelukmu Papa?" ucap Abian yang meneteskan air matanya yang terharu akan ucapan Bara.


"Tentu saja, aku sangat senang! sekarang, aku mempunyai 3 orang anak laki-laki yang sangat tampan seperti kalian," ucap Bara yang mengelus kepala Twins L dan juga Abian.


"Apa Papa melupakan sesuatu?" ucap Al yang menatap Bara dengan dalam.


"Papa tidak melupakan apa pun," jawab Bara yang berusaha mengingat sesuatu.


"Jangan berpura-pura, Papa berjanji akan membawakan kami seorang adik. Mana dia? El tidak melihatnya," ucap El yang celingukan. Bara hanya cengegesan sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Hehe....tunggu lah sebentar lagi. Dia akan hadir di sini, bersama kita," jawab Bara yang mengedipkan matanya ke arah Naina.


"Baiklah, kami akan menunggunya," jawan twins L dengan sangat kompak.


"Kalian sudah pulang?" Dita berjalan menuju Naina dan memeluknya.


"Iya, kak. Perjalanan kami sangatlah menyenangkan," ucap Naina dengan antusias.


"Syukurlah."


Twins L dan Abian menatap perubahan kepada Naina, "Kenapa ada bekas gigitan nyamuk di leher, Nana?" ucap Al yang sangat penasaran. Sementara semua orang tersenyum menatap pasangan pengantin baru.


"El sangat yakin, jika di sana banyak nyamuk. Untung saja kami tidak ikut," cetus El yang lebih tertarik dengan oleh-oleh dari Bara.

__ADS_1


"Apa di sana nyamuknya besar? bekasnya sangat besar sekali," sambung Abian dengan polos.


Nathan dan Dita tertawa dengan tingkah polos ketiga bocah itu, sementara Naina dan Bara tersenyum dengan pipi yang bersemu merah.


__ADS_2