Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 173 ~ S2


__ADS_3

Pria tampan yang duduk di kursi roda sedang menatap keluar jendela, entah apa yang dia pikirkan. Hingga lamunannya terhenti saat pintu kamar terbuka, terlihat seorang wanita cantik yang memegang nampan berisi makanan dan juga segelas air mineral.


Shena berjalan menghampiri sang suami, "ini makanlah, aku membawakannya untuk mu," ucap Shena yang menyodorkan makanan dan juga segelas air.


"Bagaimana cara aku bisa memakannya?"


"Tentu saja dengan menggunakan mulutmu," sahut Shena.


"Dasar bodoh, tanganku sedang terluka."


"Jadi?" cetus Shena yang menatap Al dengan raut wajah yang bingung.


"Suapi aku," ucap Al dengan wajah sombongnya.


"Hanya sebelah tanganmu saja yang terluka, masih ada tangan kirimu. Jadi gunakanlah tangan kirimu," jawab Shena yang memutarkan kedua bola matanya menatap Al dengan jengah.


"Tidak sopan makan menggunakan tangan kiri." Shena yang mendengar ucapan Al hanya bisa pasrah dan menghela nafas dengan kasar. Dia menyuapi Al dengan kesabaran penuh, karena Al terlalu banyak mengatur,


hingga makanan di atas piring habis tak bersisa.


Shena memberikan beberapa obat untuk kepulihan Al, tapi dia tidak tau jika itu adalah vitamin daya tahan tubuh yang sengaja di tukar oleh Al atas rekomendasikan dari Jimmy yang mendapatkan ancaman dari Al.


"Setelah semua sudah beres lebih baik aku menonton drama kesukaan ku, sudah lama aku tidak melihatnya," gumam Shena yang masih terdengar oleh Al.


"Kamu mau kemana? apa kamu tega meninggalkan aku sendirian di sini?" protes Al.


Shena menoleh menatap suaminya, "aku hanya ingin menonton drama saya, jangan terlalu dramatis!"


Al yang kesal berpura-pura kesakitan sembari memegang luka yang masih di perban dengan sangat baik, "aduh....luka ku terasa sangat sakit," ucapnya dengan penuh akting. Shena yang tampak khawatir menghampiri Al, "apa kamu salah minum obat?"


"Entahlah aku juga tidak tau, tapi sekarang sudah lebih baik. Temani aku saja, jika terjadi sesuatu maka aku akan menuntutmu ke kantor polisi," ucap Al.


"Eh, apa kesalahanku? polisi tidak akan menangkapku," sahut Shena.


"Berterima kasihlah kepadaku, aku mengorbankan nyawaku untukmu. Setidaknya kamu merawat luka ku hingga sembuh."

__ADS_1


Shena menghela nafas dengan kasar, dia tidak bisa pergi kemanapun saat Al sakit, "baiklah, aku berterima kasih kepadamu."


"Hem, mandikan aku!" pinta Al.


"A-apa? memandikanmu? bukannya kemarin kamu bisa mandi sendiri?" celetuk Shena yang sedikit kaget.


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja perintahku."


"Tidak, kamu lakukan saja sendiri," tolak Shena.


"Tidak perlu malu, bukankah kamu sudah melihat segalanya? dan aku sangat hafal di setiap inci lekuk tubuhmu itu," cetus Al yang membuat Shena tersenyum kikuk.


"Akan aku lakukan."


Shena membopong tubuh suaminya untuk menuju kamar mandi. Air yang telah tersedia, Shena memasukkan tubuh Al yang sangat berat ke dalam bathtub. Dia mulai membersihkan setiap tubuh Al tanpa ada terlewatkan, hingga kegiatannya terhenti saat di area sensitif. Al tersenyum nakal saat melihat keraguan Shena yang ingin membersihkan di bagian itu.


"Kenapa berhenti? ayo lanjutkan," seloroh Al dengan santai.


"Aku tidak ingin membersihkannya di bagian itu, lakukan sendiri saja," tolaknya.


"Jangan banyak bergerak atau kamu ingin membangunkannya?"


"Apa maksudmu?" sahut Shena yang mengerutkan keningnya, sontak dia kaget saat merasakan ada sesuatu yang menjanggal.


"Kamu membangunkannya, aku tidak akan mengampunimu," tukas Al yang mencium bibir Shena dengan penuh hasrat. Tak tinggal diam, dia juga meraba bagian sensitif dari sang istri. Awalnya Shena menolak, tetapi tidak dengan tubuhnya yang merespon setiap belaian dari sang suami. Keduanya hanyut dalam permainan panas itu, Al selalu ingin dan ingin melakukan hubungan suami istri. Hingga mereka melakukannya beberapa kali, untung saja otak Shena tidak menyadari jika Al sebenarnya telah sembuh.


****


Di saat sarapan pagi, semua orang berkumpul di meja makan. Mereka makan dengan khidmat tanpa adanya obrolan, yang terdengar hanyalah suara gesekan garpu dan pisau. Al terus saja menatap El dengan tajam, sementara yang di tatap hanya cuek seraya fokus memakan makanan dari atas piringnya.


Setelah makan, Al terus saja menatap El yang sekarang tengah memakan brownies buatan Dita. "Kenapa kamu selalu nenatapku?" ucap El yang menyadarinya sedari tadi.


"Apa kamu mempunyai salah dengan ku?" cetus Al yang menatap saudara kembarnya dengan raut wajah yang dingin.


"Aku tidak merasa begitu, katakan berterus terang dan jangan bertele-tele seperti itu."

__ADS_1


"Berani sekali kamu pergi kari kantor dan melimpahkan semua pekerjaan mu kepada Kenzi."


El melototi matanya saat mendengar penuturan dari Al, "a-apa yang kamu maksud? sungguh, aku tidak mengerti," jawab El dengan gugup.


"Kak El tidak bersalah, ada masalah di markas itu sebabnya kak El pergi dari kantor," bela Kenzi yang duduk di samping El.


"Kamu telah di bohongi oleh El, lihatlah rekaman ini!" Al memperlihatkan ponselnya, di sana terlihat jelas. Jika El menyabotase menggunakan keahliannya untuk menipu Kenzi.


"Kamu telah menipuku, KAK!" Kenzi melingkarkan tangannya ke leher El dan menjepitnya dengan sangat kuat, dia sangat geram dengan kelakuan kakak sepupunya yang telah berani menipu dan melimpahkan segala pekerjaan kantor kepadanya.


"Darimana kamu mendapakan rekaman itu?" tanya El yang berusaha melepaskan tangan Kenzi yng melingkar erat di lehernya.


"Rekaman itu aku dapatkan dari Roger dan Audrey, anggota inti Black Wolf."


"Sialan, ternyata merekalah biang keladinya. Aku akan menghukum kedua kucing itu," batin El yang kesal.


"Mereka hanya mematuhi perintahku dan jangan menyalahkan orang lain karena di sini kamu lah yang bersalah, " celetuk Al yang tau isi kepala dari saudara kembarnya.


Kenzi melepaskan tangannya yang bertengger di leher sang kakak, "aku ingin meminta keadilan kepadamu kak Al dan juga keringanan hukuman untukku. Kakak pasti tau, sebentar lagi ujian nasional, aku ingin fokus dalam pelajaran," ucap Kenzi yang menatap Al.


"Baiklah, aku akan meringankan hukumanmu, fokuslah belajar. Mulai hari ini, El akan menggantikan aku untuk sementara waktu."


"Yang benar saja?" protes El.


"Tidak ada bantahan atau aku akan menambah dua kali lipat."


"Oh ayolah Al, kamu sekarang telah mempunyai istri. Bagaimana denganku yang masih sendiri ini. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan restu jika terus mengurus perusahaan?" ucap El yang mengeluh.


"Aku tidak ingin tau dengan itu."


"Jika kamu masih menambah hukumanku, maka aku akan membongkar rahasiamu," kata El yang tersenyum kemenangan.


"Siapa yang mengatakannya?" panik Al.


"Tentu saja dengan meretas Cctv." El bahagia karena bisa melawan Al dengan kecerdasannya dalam meretas.

__ADS_1


__ADS_2