
1 bulan kemudian
Dita sangat bersyukur karena dia bisa berjalan dengan normal, kehidupannya sangatlah bahagia. Novi menerimanya dengan baik, begitupun seluruh keluarga Wijaya menyayanginya. Kesabaran serta keikhlasan nya menjalani hari-hari yang sulit berbuah dengan manis.
Nathan tak menyangka mempunyai seorang istri dan juga dua orang anak akibat ulah kecerobohan Daniel, tapi dia sangat bahagia. Dan masih tak menyangka jika seorang penderita mysophobia sepertinya bisa hidup normal.
Seperti biasa, Dita mengambil alih dapur dan memasak makanan untuk semua orang. Novi pernah protes dengan Dita yang ingin memasak sendiri, karena banyak pelayan yang ada di mansion. Memasak sarapan pagi dengan sangat lihai dan cekatan layaknya seorang Chef profesional, menata rapi makanan yang sudah matang ke atas meja makan yang tersusun dengan sangat rapi.
Setelah menyelesaikan semuanya, Dita kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan membangunkan suaminya yang masih terlelap dengan tidurnya. Dita tersenyum menghangat saat menatap wajah tampan Nathan, dia tersenyum jahil dengan mengibaskan rambut basahnya ke arah Nathan.
Nathan mengerjapkan matanya dan menarik tangan Dita hingga berada dalam pelukannya, " kamu sangat nakal, aku akan menghukum mu untuk ini," ucap Nathan dengan berbisik dan menggigit pelan telinga Dita.
"Tidak, tadi malam kita sudah melakukannya. Cepat mandilah dan pergi ke kantor," tolak Dita yang tau jalan pikiran sang suami.
"Sekali lagi ya! ku mohon, " bujuk Nathan yang meniru jurus andalan twins L, memperlihatkan puppy eyes miliknya. Dita seakan luluh dan Nathan tersenyum ke menangan, mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir yang sangat menggoda.
Hanya berjarak 1 inci, pintu kamarnya terbuka dengan lebar, Nathan menoleh dengan wajah yang sangat kesal. "Ayah sedang apa?" tanya El yang memiringkan kepalanya yang sangat penasaran.
"Ini masih pagi, kenapa kalian di sini?" ketus Nathan.
"Kami kesini untuk mengajak Ayah lari pagi. Ayolah, ini akan membuat Ayah berkeringat," ajak Al.
"Tanpa berlari pun Ayah tetap berkeringat, kalian saja yang selalu menganggu." Penuturan Nathan membuat Dita melototinya.
"Benarkah? apa itu cara yang praktis?" ucap El.
"Lebih efektif dan juga praktis, " jawab Nathan yang mendapat cubitan cinta dari Dita.
"Jangan mengatakan apa pun lagi, mereka hanya anak-anak. Pergilah dengan mereka," cetus Dita.
"Lain kali saja, Ayah harus ke kantor."
"Ya sudah," sahut twins L serempak dan pergi dari tempat itu.
****
__ADS_1
Pria yang sedang menatap cermin dengan senyum yang menghiasi wajahnya, tampilan yang sangat sempurna dan menyemprotkan parfum sebagai sentuhan akhir.
"Sangat tampan untuk memikat Naina Wijaya yang sangat bar-bar itu. Aku sangat yakin jika dia akan jatuh ke dalam pesonaku," gumam Bara di dalam hati.
Lilis sangat penasaran dengan sikap Bara yang akhir ini sangat aneh, "kamu mau kemana?" tanya Lilis yang menautkan kedua alisnya.
"Aku akan pergi ke mansion Wijaya, entah apa yang di lakukan twins L. Aku sangat merindukan mereka," jawab Bara.
"Sangat mencurigakan," ucap Lilis dengan ttapan menyelidik.
"Walaupun mereka selalu mengerjai ku, tetap saja mereka kedua putra angkatku Bu," cetus Bara yang pergi tanpa menghiraukan teriakan Lilis yang memenggil anaknya.
Bara tersenyum, karena dia mempunyai alasan agar selalu bisa masuk ke mansion yang sangat di jaga dengan ketat. Alasan yang logis itu akan membawanya menemui Naina, dia melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Menikmati suasana di pagi hari yang membuatnya bersemangat, dalam artian bersemangat mengerjai Naina.
Mobil terhenti di mansion Wijaya, turun dari mobil dengan langkah yang penuh percaya diri. Tapi sayang, niat nya terhenti saat twins L mengerjainya dengan tepung. Yah, twins L mengetahui jika Bara berkunjung ke mansion, bahkan mereka juga tau alasan Bara untuk datang.
Bara mengepalkan kedua tangannya dengan geram, "Papa tau, jika ini adalah kerjaan kalian. Keluarlah, dasar anak nakal." Twins L yang bersembunyi akhirnya keluar dan tertawa terbahak-bahak.
"Wow, penampilan Papa kali ini sangat perfect yang seperti ulat pisang," ledek El.
"Kami tau maksud dan tujuan Papa yang ingin menemui Nana," ujar Al.
"Eh, kalian mengetahuinya?" celetuk Bara yang menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Tentu saja, terlihat jelas dari raut wajah Papa."
"Benarkah?"
"Tapi bohong, " ujar twins L yang berlari dengan jurus seribu langkah untuk menghindari Bara.
"Sialan, kalian mengerjai Papa! hei, jangan lari kalian," teriak Bara yang mengejar twins L.
"Ayo kejar kami, Papa sangat lamban," cibir El yang menjulurkan lidahnya mengejek Bara.
"Kesabaran Papa sudah habis, sini kalian!" Bara dan twins L bermain kejar-kejaran membuat para pelayan menahan tawa akibat wajah Bara yang penuh dengan tepung.
__ADS_1
Bara yang hanya fokus mengejar Al dan El bertubrukan dengan Naina, "Aduh, kalau jalan pakai mata," ketus Naina yang menatap orang yang baru saja menabraknya dan seketika membuat matanya membesar.
"Aaaaa....hantuuu," pekik Naina yang menutup mata dengan kedua tangannya.
"Aaaaa....kuntilanak," teriak Bara yang terkejut melihat wanita berpakaian putih dan juga memakai masker di wajahnya.
Mereka sama-sama berteriak membuat Al dan El menghentikan langkahnya, berjalan menghampiri asal suara.
"Oh ayolah, mana ada hantu di pagi hari," ucap Al yang menatap drama yang ada di hadapannya. Bara menatap wanita yang baru saja dia tabrak, "Naina?"
"Ck, kamu lagi! pagi hari ku menjadi rusak olehmu. "
"Aku merindukan anak-anak angkatku." Bara menyunggingkan senyum yang sangat tipis, dan tidak ada yang melihatnya.
"Terserah, jangan menganggu ku," ketus Naina yang pergi dari tempat itu.
"Papa harus ke toilet untuk membersihkan ulah kalian ini."
"Ya sudah."
Saat di meja makan, posisi Bara berhadapan dengan Naina. Semua orang makan dengan tenang, tapi tidak dengan Naina yang selalu di ganggu oleh kaki Bara yang menyenggol kakinya. Dia menatap tajam ke arah Bara dan menginjak kaki Bara dengan sangat keras, hingga suara Bara terdengar dan menjadi sorotan semua orang.
"Ada apa dengan mu?" ketus Nathan yang terusik.
"Bukan apa-apa, hanya saja kaki ku sedikit kram." Naina tersenyum mengejek, membuat Bara sedikit kesal. Dia kembali memainkan kakinya untuk mengganggu Naina, Nathan menghentikan makannya dan melihat ke bawah meja makan.
"Kenapa kamu menyenggol kaki ku? apa kamu ingin menggoda ku? dasar homo," ucap Nathan yang menatap tajam Bara.
"Eh, apa aku salah sasaran?" batinnya.
"Hei, aku ini masih normal dan pria tulen," protes Bara yang tak terima.
"Sampai sekarang kamu belum menikah, aku sangat yakin dengan perkiraan ku tadi." Bara yang tak terima menghampiri Nathan, merangkul leher Nathan menggunakan tangannya. "Bagaimana? rasakan ini," ucap Bara yang membenamkan wajah Nathan ke arah ketiaknya.
"Hei, singkirkan ini. Berani sekali kamu memperlakukan ku begini."
__ADS_1
"Aku tidak takut dengan mu," ucap Bara tanpa ampun. Hingga suasana pagi hari mereka di rusak dengan kegaduhan Bara dan Nathan, sementara yang lain hanya geleng-geleng kepala.