Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 203 ~ S2


__ADS_3

Semua orang sangat terkejut dengan perkataan Abian yang ingin menetap ke Amerika, terutama Lea yang sangat syok dengan keputusan suaminya. Dia menatap wajah Abian dengan serius, "apa kamu serius dengan itu?" tukas Lea yang di balas dengan anggukan kepala oleh Abian.


"Bukankah kamu akan pergi hanya dua minggu saja?" tanya El.


"Ada masalah di perusahaan ku dan dengan terpaksa aku ke Amerika dalam waktu yang cukup lama," jawab Abian.


"Bukankah perusahaan mu di luar negeri telah di pindah kan kesini? apa yang terjadi sekarang?" ujar Al dengan tatapan menyelidik.


"Hehe....itu perusahaan warisan dari nenek ku," kata Abian yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal di iringi cengiran kuda menatap Al.


"Bagaimana jika Ayah meminta orang lain saja untuk mengurus perusahaan mu," sela Nathan yang memberi saran kepada menantunya.


"Tidak Ayah, aku ingin mengurusnya sendiri saja. Tujuanku ke Amerika ialah agar bisa hidup mandiri bersama istriku," pinta Abian yang menatap Nathan.


Abian melirik Al dan juga El, "lebih tepatnya agar terhindar dari dua kutu itu dan tidak merusak suasanaku," batin Abian yang tersenyum samar.


"Baiklah, Ayah menerima keputusanmu. Tapi, jika terjadi masalah jangan sungkan untuk mengatakannya kepada Ayahmu yang sangat kaya ini, bahkan kekayaan keluarga kita tidak akan habis dalam tujuh keturunan," ucap Nathan yang kembali menyombongkan diri membuat Bara jengah.


"Jangan memikirkan seberapa kekayaan mu yang tidak bisa di bawa mati," sahut Bara.


"Terserah kepadaku, kenapa kamu yang repot." Bara menghela nafas dengan kasar. Sementara Naina dan Dita hanya menggeleng melihat interaksi dari suami mereka yang kekanak-kanakan.


"Aku tidak ingin pergi kemana pun," ucap Lea yang meninggikan suaranya dan pergi meninggalkan semua orang menuju kamarnya.


Semua orang menatap kepergian Lea, Abian ingin mengejar Lea tapi di cegat oleh Dita. "Serahkan ini kepada Ibu yang akan mencoba membuatnya mengerti, dan kamu persiapkan saja semuanya," ucap Dita yang berjalan menuju kamar putrinya.


Abian menghela nafas dengan berat, twins L mendekatinya. "Serahkan kepada Ibu, kamu tenang saja jangan memikirkan hal apapun lagi," ucap Al yang menatap Abian.


"Hem, kamu benar."


"Tapi bagaimana dengan keadaanmu yang masih lemah itu? bahkan wajah tampan mu sekarang hanya tersisa 50 persen akibat kejadian kemarin," ujar El.


"Luka di wajahku akan sembuh nanti dan jangan mempermasalahkan ketampanan ku," jawab Abian.

__ADS_1


"Cepat sembuhkan luka di wajahmu atau adikku Lea akan kembali melakukan hobi nya, kamu tau sendiri bagaimana Lea jika melihat pria tampan," tukas El membuat Abian sedikit khawatir dan dengan cepat menutupinya.


Dita mengetuk kamar Lea yang terbuka setengah itu, "apa Ibu boleh masuk?" tanya Dita yang mendapatkan anggukan kepala oleh Lea. Dita berjalan mendekati putrinya yang sedang duduk sembari memeluk bantal guling, dia mengusap pucuk kepala putrinya dengan sangat erat.


"Sayang kenapa kamu merajuk?" tanya Dita dengan lembut.


"Ibu, aku tidak ingin pergi meninggalkan semua orang. Di sinilah keluarga ku," keluhnya.


"Tidak boleh berkata begitu, memang sangat berat untuk meninggalkan keluarga. Tapi sudah menjadi kewajiban seorang istri yang mengikuti kemanapun suaminya pergi," jelas Dita.


"Jika dia ingin pergi silahkan, aku tidak ingin pergi kemanapun," cetus Lea.


Dita tersenyum karena mengetahui dan memahami perasaan dari putrinya, "tidak boleh begitu, Abian adalah suamimu dan sudah menjadi tanggung jawabmu untuk mengikutinya," ucap Dita.


"Tapi aku tidak ingin berpisah dengan kalian semua," tutur Lea yang meneteskan air matanya.


"Dasar konyol, gunakan ponsel atau laptop untuk mengubungi kami. Dan jika di perlukan, kami akan kesana untuk mengunjungi mu," sela El yang menghampiri mereka.


"Kenapa aku tidak memikirkannya?" gumam Lea yang masih terdengar oleh El dan Dita.


"Bagaimana Nak?"


"Baiklah Bu, aku akan pergi mengikuti Abian," jawab Lea dengan pasrah.


"Bagus, sekarang bicaralah kepada suamimu. Lihat! dia ada di tepi pintu.


Lea menatap Abian yang juga menatapnya, berjalan masuk ke kamar untuk mendekati Lea. Sedangkan Dita dan El keluar dari kamar itu dan membiarkan sepasang suami istri untuk menyelesaikan permasalahan mereka.


****


Abian dan Lea berpamitan dengan semua orang, kali ini mereka pergi menggunakan helikopter milik keluarga Wijaya untuk menghindari kejadian yang sama terulang kembali. Sebenarnya Abian menolak hal itu, tapi twins L dan Nathan memaksanya untuk menyetujui.


"Kabari Ibu jika kalian telah sampai ke Amerika," ucap Dita yang memeluk putrinya.

__ADS_1


"Baik Ibu, jaga diri Ibu dengan baik." Lea memeluk Dita dengan sangat erat, dia mendekati Nathan dan juga memeluknya dengan erat, "Ayah, aku pasti merindukan mu."


"Ayah juga akan merindukanmu," sahut Nathan yang melepaskan pelukan itu.


Mereka berpamitan dengan semua orang, Lea melambaikan tangan kepada semua orang dan masuk ke dalam helikopter.


Lea menangis haru dan menghabiskan banyak tisu untuk mengelap air matanya, "jangan menangis lagi, bagaimana jika aku membelikan mu es krim?" bujuk Abian yang duduk di samping istrinya.


"Ini juga karena dirimu yang memisahkan aku dari keluargaku, hiks....dan aku bukanlah anak kecil yang bisa di sogok dengan satu es krim saja," ucap Lea yang mengelap ingusnya di jaket mahal milik Abian karena kehabisan tisu.


"Bagaimana dengan dua es krim?" tawar Abian yang membujuk Lea dan membiarkan istrinya berbuat apapun tanpa merasa jijik.


"Ck, aku ini bukan anak kecil. Kenapa kamu terus membujukku," sahut Lea yang menatap mata Abian.


"Baiklah, tiga es krim atau tidak sama sekali," sambung Lea dengan seksama sembari menyodorkan tiga jarinya di hadapan Abian yang tersenyum samar saat menatap raut wajah Lea yang sangat menggemaskan.


"Baiklah, jika perlu kita memborongnya."


"Baiklah, aku akan berhenti menangis." Lea tersenyum seakan melupakan kejadian yang baru saja dia lewati.


"Hehe....ternyata ini sangat mudah, aku kira akan sulit membujuk istri kecilku ini," batin Abian yang tersenyum.


Tak lama mereka sampai di sebuah rumah mewah milik Abian, rumah peninggalan sang nenek untuknya. Rumah dengan nuasa modern dan klasik membuat tampak indah, apalagi di kelilingi beberapa pohon buah dan juga bunga yang bermekaran indah. Lea sangat senang saat menatap rumah itu, "apa kamu menyukainya?" tanya Abian.


"Hem aku menyukainya."


"Bagus, ayo kita masuk."


"Wah, sepertinya kita mempunyai tetangga baru." Belum sempat mereka masuk ke dalam rumah mewah itu, tiba-tiba di kejutkan dengan suara dan membuat mereka menoleh.


"Kalian siapa?" tanya Abian yang mengerutkan keningnya menatap sepasang suami istri yang bergandengan mesra.


"Aku James dan ini istriku Berliana, kami tinggal di sebelah rumahmu dan itu artinya kita bertetangga. Bagaimana jika nanti malam kami datang kerumah kalian," celetuk James yang mendekati Abian layaknya teman lama.

__ADS_1


"Atau kalian datang saja ke rumah kami dan kita akan makan malam bersama, bagimana?" seru Berliana dengan antusias.


"Oh ya tuhan, cobaan apalagi ini? terlepas dari dua kutu dan terjebak dengan sepasang undur-undur," batin Abian yang menghela nafas dengan kasar.


__ADS_2