Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 57


__ADS_3

Suasana pagi ini nampak begitu cerah. Saat pertama membuka jendela, angin pagi yang segar langsung berhembus perlahan masuk memenuhi tiap ruangan, membuat hati terasa sejuk dan nyaman. Cahaya matahari seketika masuk melalui celah-celah di dinding rumah, namun tidak menyilaukan mata sedikitpun. Terlihat titik-titik air yang kecil membasahi bunga dan dedaunan hijau. Wanita itu menghirup dalam-dalam udara yang segar memberi samangat baru di hari yang baru.


Dengan bergegas, Dita melakukan rutinitas seperti biasa. Memasak sarapan untuk semua orang, bertempur dengan alat-alat dapur dengan begitu lihainya. Menata makanan di atas meja makan makan di bantu oleh pelayan. Setelah selesai, Dita kembali kemar dengan membersihkan dirinya terlebih dahulu, membangunkan suami dan juga kedua anaknya.


Di meja makan, tidak ada obrolan. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling bergesekan. Dita dan Nathan mengantarkan twins L ke Sekolah Dasar, sesuai permintaan Al dan juga El. Setelah itu, Nathan mengantarkan istri tercintanya menuju butik.


"Jaga dirimu, Sayang. Aku pergi dulu, " ucap Nathan yang mencium kening sang istri. Dita tersenyum dan mengangguk, "Hati-hati di jalan. "


Dita berjalan menuju butik, dan di sambut oleh beberapa karyawannya. Tak terkecuali Nurma, "pagi Ibu bos, " sapa Nurma tersenyum yang memperlihatkan gigi yang rapi nan putih .


"Pagi juga, apa kamu sudah mengantarkan pesanan para pelanggan?" tutur Dita yang menatap Nurma.


"Tidak semua, hanya beberapa yang telah di antarkan."


"Silahkan bekerja, aku masuk dulu. " Dita melangkah menuju ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya itu. Mengambil kertas dan juga pensil, melukis beberapa gaun permintaan dari pelanggan setianya.


Dita baru saja menyelesaikan 1 desainnya, pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya, terlihat wanita cantik yang masuk dengan tergesa-gesa.


"Ada apa? kenapa kamu terburu-buru, " kata Dita yang menautkan alisnya.


"Ada tamu yang ingin menemuimu, " jawab Nurma.


"Tamu? tapi siapa?"


"Aku." Nurma yang ingin menjawab langsung disela oleh seseorang dari balik pintu. Dita melihat asal suara dan memandang orang itu dengan ekspresi yang sulit di artikan oleh sahabatnya. Nurma keluar dari ruangan itu, tanpa ingin mengganggu privasi Dita.


"Mau apa anda datang ke butik ini? " jawab Dita dingin.


"Tentu saja aku ingin menemui putriku sendiri, apa itu tidak boleh?" sahut pria paruh baya itu yang melenggang masuk ke ruangan itu tanpa tau malu.

__ADS_1


"Putri? sepertinya anda lupa. Biar aku ingatkan kembali, anda sendirilah yang memutuskan untuk tidak mengakuiku. Tapi apa yang terjadi sekarang?" cibir Dita.


"Sudah lupakan saja, Yang lalu tetaplah berlalu. Lagian Papa hanya emosi sesaat saja, " ucap Hardi.


"Cepat katakan, mau apa menemuiku? "


"Bukankah sudah aku katakan untuk menemui mu, dan aku ingin mengenalkan mu dengan seseorang. "


"Pintunya ada di sebelah sana dan aku tidak tertarik bertemu dengan siapapun, pergilah dari sini, " usir Dita.


"Akan aku kenalkan, kamu pasti kaget melihat nya. Ayo masuklah, " panggil Hardi.


Dita melihat dengan jelas pria tampan yang baru saja masuk ke ruangannya, pria itu tersenyum saat melihat Dita. Ketampanan pria itu sampir sebanding dengan Nathan, suaminya. Dita membesarkan pupil matanya saat melihat pria itu, "sepertinya aku mengenalnya, tapi di mana? ah iya, aku baru ingat. Jika aku bertemu dengannya saat liburan ke pantai, " batin Dita.


"Hai, bagaimana kabarmu? " sapa pria itu dan duduk di sofa yang tak jauh dari sana.


"Kamu pria di pantai itu, bukan? " ucap Dita yang hanya melihat kedua pria di hadapannya yang sangat nyaman duduk di sofa itu.


"Maaf, sepertinya aku tidak mengenalmu. "


"Aku maklumi kamu lupa dengan ku, karena kita tidak bertemu setelah 20 tahun. " Dita mengerutkan keningnya, karena merasa tidak mengenal pria di hadapannya. Hardi yang melihat kebingungan di wajah Dita mencoba untuk menjelaskannya, " Dia adalah Zean Anderson, teman masa kecilmu. Kalian sering bermain bersama, apa kamu melupakannya?"


Dita kembali memutar kenangannya di saat dia berusia 5 tahun, dimana dia pernah tenggelam di sungai saat berlibur dengan kedua orang tuanya. Di saat itu, kedua orang tuanya sedang berada di Villa yang tak jauh dari sungai, Dita bermain air tanpa pengawasan. Hingga dia tercebur dan meminta tolong, tak ada satupun orang yang berada di sana, di saat Dita mulai pasrah dan menerima nasibnya. Sayup terdengar suara air, seperti ada yang melompat dari sungai itu. Dan akhirnya Dita selamat berkat bantuan pria tampan berumur 9 tahun.


Sejak hari itu, Dita dan pria itu menjadi teman dan sangat akrab.


"Kamu yang menolongku saat tercebur di sungai itu?" ucap Dita.


"Benar, sayang sekali kamu melupakanku, " lirih pelan Zean yang membuat Dita merasa bersalah.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak berniat untuk melupakan mu. Tapi kejadian itu sangat lama sekali, " tutur Dita.


Hardi melihat interaksi kedua orang yang berlawanan jenis itu, terlihat senyuman menyeringai di wajahnya. Dia sangat senang karena sebentar lagi akan kembali kaya berkat Zean yang akan menikahi Dita.


"Bagus, sebentar lagi aku akan hidup bergelimang harta. Heh, ternyata anak sialan ini ada gunanya juga, " batin Hardi.


"Baiklah, kalian silahkan lanjutkan mengobrolnya. Papa mau keluar dulu, " sela Hardi yang ingin memberikan ruang kepada Zean dan Dita. Tak henti-hentinya Zean menatap wajah cantik Dita, hingga dia lupa untuk berkedip.


"Kenapa kamu melihatku begitu? " tanya Dita.


"Tidak, hanya saja kamu sangat cantik, " pujinya dengan tersenyum.


"Jangan memujiku. "


"Bagaimana jika kita merayakan pertemuan ini dengan makan siang bersama? " ajak Zean dengan penuh harapan.


"Maaf, sepertinya aku tidak bisa. Lain kali saja ya, " tolak Dita dengan halus. Zean sedikit kecewa dengan jawaban Dita, tak membuat semangatnya kian memudar.


"Kamu sangat hebat, bisa memiliki butik ini. "


"Aku bekerja keras untuk ini, aku ingin melanjutkan pekerjaanku dulu. Apa tidak masalah dengan mu?" ucap Dita yang menatap Zean.


Maksud hati ingin mengkode Zean untuk pergi dari ruangannya, karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman dengan Nathan, suaminya.


"Aku akan menunggumu, " kekeuh Zean yang tidak ingin beranjak dari sofa itu. Dita jengkel dengan Zean, tapi dia menutupinya dengan senyuman.


"Terserah padamu. " Dita berjalan menuju kursi kebanggaan dan kembali melakukan rutinitasnya, Zean terus saja menatap Dita dan sesekali memotret.


"Dia sangat cantik, sudah lama aku jatuh hati dengannya, sepertinya aku sudah tergila-gila dengan mu, Tata. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku, Dita hanya untuk Zean seorang," batinnya.

__ADS_1


Dita sangat risih dengan Zean yang tidak pergi dari ruangannya, "kapan dia akan pergi? " batin Dita yang kesal.


__ADS_2