Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 120 ~ S2


__ADS_3

Twins L menaiki mobil dengan kecepatan tinggi, melewati beberapa kendaraan yang sangat menganggu jalannya. Al mengemudikan mobil dengan sangat lihai, sementara El mengutak atik ponsel untuk mencari informasi.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di markas Black Wolf. Turun dari mobil dan segera masuk ke dalam markas, bahkan sapaan dari bawahan tak di hiraukan oleh Al maupun El dengan langkah yang tergesa-gesa.


El memeriksa data dari markas, sementara Al memeriksa perlengkapan senjata di gudang persenjataan.


Al memeriksa setiap senjata dan menghitung kembali senjata yang baru mereka produksi dengan sangat terbatas. "Ada beberapa senjata yang telah di monopolikan dan aku sangat yakin jika pelakunya sangatlah pintar," batin Al seraya.


Al keluar dari gudang senjata, kembali menyusul El yang berada di ruangan kerjanya. "Bagaimana hasilnya? apa kamu telah menemukan pelakunya?" ucap Al yang menatap El.


"Aku belum menemukan pelakunya, dan bagaimana dengan mu?"


"Aku menemukan beberapa senjata yang baru kita produksi tidak ada di gudang senjata, kita masih memiliki kode rahasia di dalam senjatanya kan? coba di periksa," titah Al.


"Aku masih menyelidiki pelakunya, jangan memerintahku," ketus El dengan raut wajah yang kesal.


Al menghela nafas dengan kasar sembari membuka laptop dan mengutak-atik nya dengan kecepatan jari yang sangat lincah.


Setelah 30 menit pencarian pelaku, Al tidak menemukan pelakunya, membuat nya sangat frustasi. El terkejut saat melihat data senjata yang telah di ambil alih, "Al lihatlah," ucap El. Dengan cepat Al melihat layar laptop dengan seksama, "bagaimana bisa mereka mengklaim, jika senjata yang kita produksi ini sebagai milik mereka?" ujar Al yang melirik El.


"Entahlah, tapi setelah aku telusuri mereka hanya membelinya dari orang yang tak di kenal."


"Apa kamu mengetahui sesuatu?" desak Al.


"Tidak ada jejak nya, pelaku itu sangat pintar dalam menghilangkan jejak. Bahkan aku sendiri pun tidak menemukannya," jawab El yang fokus.


"Sial, mereka telah mencuri hasil dari kerja keras kita," ucap Al yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sudah, lupakan saja! anggap saja kita sedang berbaik hati, kita akan memproduksi senjata terbaru dan juga lebih canggih dari itu," ujar El yang menepuk pelan pundak Al.


"Hem, kamu benar."

__ADS_1


"Aku akan memperketat sistem nya, sementara kamu buatlah program yang lebih canggih lagi."


"Baiklah, sesuai perkataanmu," jawab Al yang mengangguk pelan.


Di sisi lain, seseorang tertawa dengan aksinya yang sangat luar biasa. "Hahah....aku sangat tidak sabar dengan rencana berikutnya. Rencana yang telah begitu matang dan sangat sempurna, mereka tidak akan menyadari dari setiap langkah dan pergerakanku," ucapnya dengan tertawa bahagia, sambil meneguk alkohol.


****


Seorang pria tengah melempar ponselnya dengan kasar, perasaan yang begitu gelisah membuatnya semakin tersulut emosi. "Ini sangat mendadak, aku sangat yakin jika dia mempunyai misi di sini. Apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin jika Mom Caroline datang ke indonesia," gumam Abian yang menarik rambutnya dengan kasar. Karena dia sangat mengenal Caroline, jika dia telah turun tangan maka sangat membahayakan dengan masalah yang sangat serius.


Abian terus mencari penyebab Caroline datang untuk menemuinya, tapi dia tidak menemukan apa pun. Abian mengambil benda pipih dari saku celananya, sambil mencari nomor kontak yang ada di ponsel itu.


"Hallo!"


"Iya Tuan."


"*T*angani perusahaan ini. Aku ingin menjemput Mom,"


"Baik tuan, saya segera ke sana."


Caroline berjalan dengan sangat elegan, mendekati Abian yang sedari tadi dia tunggu. Caroline memeluk anak angkatnya sembari tersenyum indah, walau umurnya terlihat lebih tua, tapi wajahnya tidak terlihat tua. Banyak yang mengira jika Caroline dan Abian adalah pasangan kekasih.


"Hai Mom, begaimana keadaanmu?"


"Seperti yang kamu lihat," jawab Caroline yang memutarkan tubuhnya.


"Itu bagus, ayo kita ke apartemen," ajak Abian.


"Baiklah," sahut Caroline antusias.


Abian memerintakan asistennya untuk membawa koper bawaan sang ibu angkat, mengajak Caroline untuk masuk ke dalam mobil. Awalnya Caroline sangat bersemangat dengan kediaman yang baru, tapi setelah melihat hanya apartemen jelek dan juga kecil membuat Caroline marah.

__ADS_1


"Aron, sepertinya kita salah alamat. Tidak mungkin kamu membeli apartemen yang jauh dari kata layak," ucap Caroline yang menyelusuri setiap ruangan yang menurutnya sangat tidak layak.


"Kita tidak salah alamat, aku sudah membeli apartemen ini. Cukup untuk kita beristirahat menghilangkan kepenatan, " sahut Abian dengan santai.


"Kamu tau kan, jika Mommy tidak menyukai suasana seperti ini!" ujar Caroline yang meninggikan suaranya. Sedangkan Abian menutup kedua matanya beberapa saat.


"Hanya sementara waktu saja Mom."


"Tidak, dasar tidak berguna. Aku akan membeli mansion sesuai dengan keinginan ku," Cetus Caroline yang menelfon agen dan memesan sebuah mansion dengan sangat cepat.


Abian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat sikap sang Ibu yang tidak bisa hidup sederhana.


Tak butuh waktu lama, Caroline mendapatkan mansion atas namanya. Membawa Abian dan Devis sang asisten untuk mengikutinya, perjalanan yang hanya setengah jam untuk sampai ke lokasi.


Caroline sangat bersemangat saat melihat mansion yang baru dia beli lebih mewah dari mansion yang sebelumnya dia tempati. "Ini baru layak di sebut rumah, apartemen mu lebih mirip seperti kandang ayam. Dan bagaimana dengan misi mu? ku dengar kamu membatalkannya," tutur Caroline yang melirik Abian.


"Hem, aku tidak menyukai misi itu."


"Kenapa?"


"Aku tidak bersemangat dengan misi yang tidak penting itu, sudalah Mom! ayo kita masuk," kata Abian yang mengalihkan perhatian.


Sekarang Abian benar-benar di buat pusing, apalagi Caroline sudah berada di indonesia. Raut wajahnya yang kusut terlihat jelas oleh sang Ibu angkat.


"Katakan ada apa Aron," tanya Caroline yang memegang lengan putranya.


"Tidak, aku hanya merasa sedikit letih dan butuh istirahat," kilah Abian menuju salah satu kamar dengan secara acak.


Caroline melihat punggung Abian hingga menghilang di balik pintu, dia tersenyum tipis.


"Aku tau penyebabmu yang sangat gelisah itu, tapi tenanglah! ini hanya sebentar saja, jika sudah selesai urusanku, maka kita akan kembali lagi ke Paris," gumam Caroline di dalam hati.

__ADS_1


"Devis, antarkan barang-barangku di kamar atas. Dan minta pelayan yang baru kamu pekerjakan itu untuk menghampiri ku di kamar," perintah Caroline yang menaiki tangga dengan sangat elegan.


"Aku harus mengetahui alasan Mom Caroline datang kesini, apa dia tau jika aku berhubungan baik dengan twins L? aku akan menyembunyikan mereka, agar terhindar dari bahaya," gumam Abian yang menatap langit-langit kamarnya.


__ADS_2