
Nathan mendengar suara cekikikan, menoleh ke asal suara. Dan dia terkejut saat melihat kedua putranya tengah menahan gelak tawanya yang sebentar lagi akan meledak.
"Jangan bilang, jika ini adalah ulah kalian berdua," ucap Nathan yang mengintrogasi.
"Itu benar," sahut Al sembari tertawa di ikuti oleh El.
"Kalian sangat nakal sekali."
"Tentu saja, kami nakal ada sebabnya," jawab Al dengan santai.
"Tante itu telah mencampurkan obat ke dalam minuman Ayah, kami tidak tau itu obat apa. Yang jelas dia ingin menjebak Ayah, jika tak percaya lihat saja CCTV," tambah El.
Nathan yang tak ingin berburuk sangka, mengecek CCTV dan benar saja. Nathan menghubungi Daniel untuk mengirim Celin jauh dari keluarganya dan juga negara ini untuk di asingkan, "ternyata anakku tidak berbohong," Batin Nathan.
"Bagaimana? apa Ayah masih meragukan kami?" ucapan dari Al membuat Nathan merasa bersalah, seharusnya dia berterima kasih bukannya menuduh.
"Maafkan Ayah, untung saja kalian datang tepat waktu."
"Kenapa kalian bisa di sini?" celetuk Nathan yang mengerutkan keningnya.
"Di Mansion yang besar itu tidak ada siapa pun, kecuali para penjaga dan pelayan yang berlalu lalang. Kami memutuskan untuk kesini," ucap Al yang duduk di pangkuan Nathan.
****
Hari yang di nantikan oleh Bara dan Naina tinggal telah tiba. Naina menatap dirinya di sebuah cermin besar dan tersenyum, dia sangat senang melangkah ke jenjang pernikahan. Gaun indah berwarna putih serta rambut yang di capol indah dengan hiasan kepala dan sedikit polesan, membuat Naina terlihat sangat cantik.
Sementara Bara menggunakan jas berwarna hitam, dan membuatnya terlihat elegan dengan penuh pesona. Senyum yang tak luntur dari wajahnya, terlihat jelas di mata Zean, Nathan, dan Daniel.
"Ck, berhentilah tersenyum atau mulutmu tidak bisa terkatup," cibir Daniel.
"Katakan jika kamu iri dengan ku, karena sebentar lagi aku akan menikah," jawab Bara dengan bangga.
__ADS_1
"Untuk apa aku iri padamu? membuang waktu saja," seloroh Daniel.
"Kalian berdua kapan akan menyusul?" tanya Bara yang melirik Zean dan juga Daniel.
"Aku belum merencanakannya," ucap Daniel yang mengangkat kedua bahunya.
"Jangan tanyakan aku, aku masih ingin sendiri," sahut Zean.
"Heh, aku sangat yakin jika anu mu tidak berfungsi. Dalam artian kadaluwarsa," ledek Bara yang melirik lokasi yang di tuju.
Zean yang kesal menjitak kepala sang mempelai pria, "kurang ajar, berani sekali kamu mengejek ku."
"Memangnya kenapa? jangan mentang-mentang kamu Leader Mafia, aku tidak takut dengan mu," tantang Bara yang meremehkan. Zean yang kesal melempar bantal kecil di sofa yang mendarat mulus tepat di wajah Bara, "rasakan itu." Semua orang tertawa melihat raut wajah Bara yang cemberut.
Naina yang turun dari tangga dengan perasaan deg-degan, berjalan dengan sangat anggun. Dekorasi pernikahan yang bernuasa modern membuat sang mempelai bagai raja dan ratu. membuat semua orang kagum akan kecantikan yang dia miliki, sepasang mata tak henti-hentinya menatap kagum.
"Wah, Naina sangat cantik sekali. Kenapa acara ini berjalan sangat lama?" gumam Bara tanpa berkedip melihat mempelai wanita.
Twins L dan Abian menatap Bara dengan penasaran, "Papa oh Papa," ucap Al yang menarik pelan jas milik Bara. Karena tak menghiraukan panggilan Al, membuat El geram dan menginjak kaki Bara dengan sangat keras, hingga Bara meringis dan menatap si pelaku.
"Siap bos," jawab mereka serempak.
Bara mengulurkan tangannya saat Naina naik ke atas altar pernikahan, hingga beberapa ritual telah selesai mereka lakukan dan telah sah menjadi sepasang suami istri. Semua orang memberikan selamat dan doa, tak lupa pula hadiah dari para tamu undangan. Lilis sangat senang karena dia sebentar lagi mempunyai cucu, "akhirnya anak itu menikah juga dan aku bisa tidur dengan nyenyak."
Bara terus saja berkhayal tentang malam pertamanya, Naina sangat risih dengan tatapan Bara yang selalu menatapnya, "jangan menatapku begitu."
"Honey, kita ke kamar yuk!" bisik Bara yang terus menyalami beberapa para tamu undangan.
"Tunggu sebentar lagi."
Tak lama acara pun selesai, Bara dengan semangat 45 menuju sebuah kamar pengantin. Tapi sayang, para sahabatnya menghalangi niatnya yang ingin menikmati samudra cinta bersama Naina.
__ADS_1
"Eit, tidak perlu terburu-buru. Bagaimana jika kita melakukan sebuah permainan?" cegat Nathan.
"Tidak, jangan menganggu ku," tolak Bara yang ingin menerobos, Zean dengan cepat mencekal tangan Bara.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar ya," cibir Zean.
"Heh, kamu akan tau jika berada di posisi ku nanti. Lepaskan tanganku," ketus Bara yang kesal dengan para sahabat laknat nya.
"Baiklah, tapi sebelum itu aku memberikan sebuah hadiah yang pastinya membuat mu berterima kasih kepadaku," cetus Zean yang menyelipkan sebuah hadiah kecil di saku jas milik Bara. Zean pergi meninggalkan tempat itu, karena banyak urusan yang belum terselesaikan.
Mereka semua menatap kepergian Zean, Bara yang berharap hadiah yang di berikan Zean sebuah cek tunai, dengan cepat dia membuka bungkus kado kecil dengan wajah yang berbinar, seketika raut wajahnya menjadi redup. Sementara Nathan dan Daniel tertawa terbahak-bahak, " wah, hadiah yang sangat istimewa," cetus Daniel.
"Zean sialan, aku tidak membutuhkan tisu ini. Aku percaya dengan kemampuanku sendiri," ucap Bara yang kesal dan melempar benda yang baru saja dia terima.
"Jangan membuangnya, siapa tau kamu membutuhkannya nanti," cemooh Nathan. Bara yang merasa tersudutkan, memiting kepala Nathan dan Daniel dengan keras.
"Aku tidak selemah itu, apa kamu meragukan ku? aku bisa membuktikannya," tantang Bara.
"Jangan banyak bicara, aku pastikan kamu akan kalah," celetuk Nathan yang membalikkan keadaan.
Sementara ketiga anak kecil itu memakan Popcorn menatap aksi memiting kepala. Bara yang berhasil mendapatkan kesempatan kabur, segera menuju kamar pengantin dengan perasaan bahagia. Dengan membuka pintu yang tidak terkunci, membuatnya menerobos masuk ke dalam.
Nafas Bara naik turun saat melihat tubuh mulus dan putih yang sedang menggunakan handuk, dia mengunci pintu sambil menenguk saliva. Perlahan tapi pasti, Bara mendekati Naina berusaha untuk mendapatkan jatahnya.
"Apa kamu lupa? jika kamu tidak membolehkan mu untuk tidur denganku selama 3 hari, cepat keluar dari kamar ini," ketus Naina yang menunjuk ke arah pintu.
"Honey, ini malam pertama kita. Ayolah, kasihani suamimu yang tampan ini," bujuk Bara yang menggunakan jurus pamungkas milik twins L yaitu puppy eyes miliknya.
"Itu tidak akan mengubah keputusanku, keluar dari sini atau aku akan menambahkannya menjadi 1 minggu."
"Iya baiklah, aku akan pergi."
__ADS_1
"Ck, nasibku sangat sial. Bersabarlah Didi, nanti kamu juga akan merasakan goa itu. Untuk sekarang kita solo dulu," lirih pelan Bara yang sedih.
Sementara terdengar suara tertawa dari balik tembok, siapa lagi jika bukan Nathan dan Daniel yang bertos ria.