
Al sangat bersyukur karena tidak merasakan mual lagi, kandungan Shena sudah masuk trimester ke dua. Dia sangat senang akan hal itu, tapi ada satu hal yang membuat semua orang melongo dengan permintaan Al yang nyeleneh.
"Apa kamu yakin akan hal itu?" tutur El yang menatap saudara kembarnya yang di balas anggukan kepala oleh Al dengan cepat.
"Benar, aku menginginkan hal itu. Cebat hubungi Ben, Roger, dan Audrey untuk segera mencarikannya untukku," ucap Al dengan santai.
"Aku bahkan sangat malu untuk mengatakan hal itu dan bagaimana kita bisa menemukan pakaian dalam berwarna pink dengan gambar doraemon?" ucap El yang gak habis pikir dengan permintaan Al.
"Mana ada gambar doraemon dengan nuasa pink, pakaian dalam pria pula. Aku rasa itu tidak ada yang menjualnya," sambung Naina yang menahan tawanya.
"Bukankah kamu tidak menyukai warna pink? ada apa denganmu sekarang?" tutur Bara yang cekikikan.
"Situasinya sangat berbeda dengan yang dulu Pa," sahut Al dengan santai tanpa ada rasa malu sedikitpun.
El mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mencari nomor para bawahan nya untuk meminta mereka bertiga datang ke mansion utama Wijaya. Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai, melangkahkan kaki menuju mansion.
"Ada apa Tuan memanggiku?" sambut Ben yang menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Ada apa King?" celetuk Roger dan Audrey dengan serempak.
"Aku tugaskan kepada kalian bertiga untuk mencari pakaian dalam pria yang bergambar doraemon dengan nuasa pink dan yang pasti ukuran dewasa."
Ketiga bawahan yang menunduk itu pun menoleh menatap Al, mata mereka seakan berkedut dan tak percaya dengan semua itu, "itu sangat mustahil adanya Tuan," ucap Ben yang berusaha menahan tawanya.
"Aku rasa itu bisa kita pesan langsung dari pabriknya, dan itu sangat murah dengan motif sesuai pilihan. Hanya saja...." ucap Roger terputus membuat Al sangat jengkel, Roger dan Audrey berusaha menahan tawanya saat di depan Al yang menatap mereka dengan serius.
"Ck, jangan banyak bicara. Langsung saja ke intinya," cetus Al yang melempar Roger dengan kue kering, Roger tersenyum dan segera menangkap kue kering yang sangat enak itu hingga masuk ke dalam mulutnya.
"Hap....dapat!" seloroh Roger yang mengunyah kue kering membuat Naina dan Dita menggeleng dengan polah dari anak-anak mereka dan juga asisten. Sifat yang hampir sama-sama somplak.
__ADS_1
"Cukup sulit untuk memesannya dari pabrik, karena kita harus memesan setidaknya satu kontainer," sela Audrey.
"Aku tidak peduli akan hal itu, carikan saja keinginanku. Aku berikan kalian waktu hingga minggu depan, jika kalian tidak memberikannya kepada ku maka tamatlah riwayat kalian," ancam Al yang menatap Roger dan Audrey secara bergantian dengan manik mata elang.
Mereka berdua hanya menelan saliva dengan susah payah yang juga di ikuti oleh Ben, karena tatapan Al mengarah kepadanya. "Bukan hanya mereka saja, tapi kamu juga ikut andil dalam pencarian pakaian dalam ku."
"Baik Tuan, laksanakan!" sahut Ben dengan cepat dan mencarikan permintaan Al yang sangat aneh.
"Baiklah, kalian bertiga pergilah dari sini." Al mengusir ketiga pria malang itu.
Bara dan Nathan tak kuasa menahan tawa mereka dengan permintaan Al, "apa ini? pakaian dalam pria dengan warna pink? cukup sulit untuk menemukannya," tutur Nathan.
"Memangnya kenapa, bukankah itu bagus kombinasi doraemon dengan warna pink sangat jarang?" tukas Al yang akhir-akhir ini menyukai semua benda berwarna pink itu, padahal dulu dia sangat membenci warna yang menurutnya sangat norak. Sedangkan Shena tidak menyukai warna pink melainkan warna abu-abu, nuasa kamar mereka kombinasi dari keduanya. Bedanya sekarang mereka bagai tertukar kesukaan dan kegemaran.
"Jangan tidur di dekatku saat kamu memakai warna yang sangat jelek itu," cetus Shena yang menatap suaminya dengan kesal.
"Cup....cup, jangan menangis lagi! aku akan memberikanmu es krim, bagaimana?" bujuk El sembari menepuk-nepuk punggung Al.
Al mengelap ingusnya di baju El membuat sang empunya dan semua orang menatap jijik, "sialan, kamu mengotori baju yang baru saja aku beli," sewot El yang hanya di balas dengan cengiran kuda tanpa merasa bersalah.
"Tidak ada rotan akar pun jadi, tidak melihat tisu baju pun jadi." El mendengus kesal dengan ucapan Al tanpa bersalah itu.
"Aku ingin makan rujak," sela Anna yang menatap suaminya.
"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk membuatkannya untukmu."
"Tidak, aku hanya ingin kamu sendirilah yang membuatkan ku," pinta Anna dengan nada sedikit manja.
"Aku? aku tidak bisa melakukan hal apapun di dapur," tolak El dengan mengatakan yang sebenarnya
__ADS_1
"Ayolah, aku sangat menginginkan hal itu," bujuk Anna yang menggoyangkan lengan suaminya. El menghela nafas di sertai anggukan kecil, dia berjalan membuat bumbu rujak.
"Walaupun aku tidak pernah memasak, tapi aku sangat yakin akan berhasil," gumam El dengan yang mengandalkan video online untuk membantunya dalam membuat rujak yang enak.
Cukup sulit baginya dalam menentukan bumbu yang terlihat sama di mata El, hingga dia mencampurkan bumbu yang sama persis itu.
Tak butuh waktu yang lama bagi El membuat rujak, dia menyuapi Anna yang makan sangat lahap, "aku sangat yakin jika buatanku sangat lezat, hingga kamu memakannya sangat lahab sekali," ujar El yang tersenyum senang.
"Aku tidak terlalu memperdulikannya rasanya, ini sangat menyenangkan." Semua mata menyorot Anna yang sangat lahab, memakan rujak spesial buatan El hinggga Al hampir saja meneteskan air liurnya.
"Aku sangat penasaran dengan rasanya," ucap Al menyerobot rujak yang ada di atas piring. Betapa terkejutnya Al dengan tatapan mata terbelalak dan mengipasi lidahnya yang terasa membakar itu.
Shena yang merasa kasihan, memberikan suaminya segelas air susu di dalam gelas.
"Kenapa rasa rujakmu sangat pedas sekali?" pekik Al yang terus mengipasi lidahnya.
"Padahal aku hanya menggunakan beberapa cabe saja," sahut El dengan santai. Al yang kesal itu pun menyuapi mulut El beberapa suap dan benar saja, seketika wajahnya berubah menjadi warna merah.
"Oh ya tuhan, ini sangat pedas sekali. Sayang, hentikan untuk memakan rujak itu. Aku sangat takut jika kamu akan diare saat mengkonsumsi nya."
"Tidak," tolak Anna yang terus memakan rujak pedas itu.
"Cabe apa yang kamu gunakan?" tanya Dita yang menatap putranya dengan seksama.
"Aku hanya menggunakan cabe setan dan menggunakannya setengah ons saja, sahut El dengan santai.
"Oh ya tuhan, lain kali jangan melakukan hal itu lagi," sahut Dita yang terkejut.
"Pantas saja," sambung Naina yang tertawa.
__ADS_1