Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 48


__ADS_3

Wijaya sangat marah dengan kelakuan dari istrinya, sangat malu akan perbuatan licik Novi yang ingin menjebak anak kandungnya.


"Ada apa denganmu, JAWAB! " teriak Wijaya yang menatap wajah sang istri.


"Maaf, Pa. Mama khilaf, " jawab Novi dengan kepala yang tertunduk.


"Kamu bilang ini khilaf? khilaf yang bagaimana, yang tega menjebak anaknya sendiri, " geram Wijaya.


"Papa, aku mengakui kesalahan ku. Tapi, aku mohon pengampunan darimu, " bujuk Novi yang memegang pergelangan tangan suaminya.


"Baik, aku akan mengampuni mu. Tapi, semua fasilitasmu, aku cabut hingga 1 bulan kedepan, " ucap Wijaya menatap dalam manik mata Novi.


"Papa, hukum yang lain saja. Jangan mencabut fasilitasku. " Novi terus saja membujuk suaminya agar memaafkan kesalahannya, hidup bergelimang harta membuatnya tak bisa menjauh dari semua fasilitas lengkap yang sudah menjadi rutinitasnya.


"Kamu tidak di ijinkan untuk keluar dari kamar ini, renungkan semua kesalahanmu, " ucap Wijaya yang meninggalkan Novi di dalam kamar yang sedang menangis, dia menghela nafas dengan kasar.


****


Nathan menyusuri setiap ruangan untuk mencari keberadaan twins L, dia tidak ingin malam pengantinnya di ganggu oleh kedua anak kembar itu. Mengintip dari balik pintu, untuk memastikan keberadaan twins L di kamarnya. melihat jika twins L sudah tertidur di kamar mereka, Nathan tersenyum dengan senang, sembari mengelus dadanya.


"Akhirnya, mereka tertidur juga. Akan aku pastikan, mereka tidak akan mengacaukan malam pengantinku" batin Nathan tersenyum.


Langkah kaki panjangnya berjalan menuju kamar utama, kamar yang di tempati olehnya dan juga Dita. Dengan membuka pintu, Nathan masuk ke dalam kamar dan mendekap tubuh sang istri yang sedang bercermin menatap wajahnya yang bersemu merah.


"Kamu sangat cantik, sayang, " bisik Nathan yang menggoda, Dita tersenyum dengan menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Nathan membalikkan tubuh sang istri berhadapan dengannya, mencium bibir ranum milik Dita dengan sangat lembut. Hingga malam panas mereka kali ini berjalan dengan mulus tanpa gangguan dari twins L.


Nathan tidak tau, jika twins L berpura-pura tidur saat itu. Mereka hanya mengelabui Ayahnya, karena keadaan yang sangat mendesak. Twins L sangat waspada, karena mereka mengetahui pemilik dari perusahaan dari luar negeri yang mereka retas sudah melacak mereka.


Al dan El membuka mata mereka dan kembali menatap layar laptop milik mereka, dengan wajah yang sangat serius dan jari-jari yang sangat cepat bergerak menekan keyboard pada laptop.


"Bagaimana ini, El. Kita sudah di ketahui oleh pemilik perusahaan itu, " ucap Al yang melirik El dengan sekilah.


"Kami benar, sepertinya mereka lawan yang cukup berat. Buktinya, kita bisa terlacak oleh mereka, " sahut El tanpa menoleh.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana kita menghadapi mereka? " Al menyergitkan keningnya menatap adiknya.


"Terpaksa kita harus menghadapi mereka. " Al dan El kembali fokus dengan pekerjaan mereka.


"Oh.... tidak, " ucap El yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ada apa? " Al menatap bingung.


"Coba kamu lihat ini, mereka berhasil menemukan merusak sistem kita, itu artinya sebentar lagi kita akan terlacak, " penjelasan El membuat Al sangat khawatir.


"Senjata makan tuan, kita terjebak dengan rencana kita sendiri. Apa ada solusi? " tatapan Al dengan penuh harapan.


"Hanya ada satu, " sahut El.


"Apa itu? "


"Kita harus membalas serangan ini. "


"Ini akan sangat menyenangkan, " tambah El dengan senyum di wajahnya.


Tanpa babibu, mereka kembali fokus menatap layar laptop dan jari-jari yang sangat cepat menekan keyboard. Wajah tegas mereka terlihat jelas yang melihat lawannya kali ini hampir sepadan dengan mereka, selain Nathan.


"Wah, sepertinya kita mendapat lawan yang keahlian IT nya hampir seimbang, " ujar Al melirik El dengan raut wajah tersenyum.


Di sisi lain, seseorang sedang berkutat dengan laptop nya, membalas balik penyerangan dari orang yang telah mengambil alih perusahaannya.


"Bagaimana hasilnya, apa sudah di temukan?" ucap Zean dengan wajahnya yang dingin.


"Sebentar lagi tuan, sepertinya mereka menyerang sistem kita dan memasukkan beberapa virus, " penjelasan dari tangan kanannya, Zean mengepalkan tangannya karena geram.


"Kenapa kalian sangat lamban, hah. Apa perlu waktu yang sangat lama untuk melacak tikus kecil itu, " ucap Zean yang meninggikan suaranya.


"Maaf, tuan. Mereka sangat ahli dalam bidang ini, hingga kami mengalami sedikit kesulitan. " Alvin menundukkan kepala.

__ADS_1


"Minggir, aku akan menangani ini, " Zean mengusir Alvin dengan kasar, dan memulai aksinya.


"Kalian tidak akan bisa lari dariku, tikus kecil, " gumam Zean tersenyum smirk.


Malam yang sangat panjang bagi kedua insan yang di mabuk asmara. Kebetulan air di atas nakas habis, dengan langkah gontai, Nathan yang merasa sangat haus ingin mengambilnya di dapur, sekalian mengecek keadaan kedua putra kembarnya.


Tak sengaja Nathan melihat dari balik cela pintu kamar twins L yang tidak berada di tempat tidurnya, membuat Nathan khawatir dengan twins L. Dengan langkah cepat, membuka pintu dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar anak-anaknya.


"Kalian sedang apa, " ucap Nathan yang menatap anaknya satu persatu dengan menyelidik.


"Hehe.... Ayah, kenapa bisa kesini? " ucap Al menggaruk telinga yang tidak gatal.


"Kenapa kalian tidak tidur? itu tidak baik untuk kesehatan kalian, " nasehatnya, sembari menolak pinggang. Tak sengaja Nathan melirik laptop twins L dan membesarkan pupilnya, karena dia sangat paham apa yang di lakukan oleh twins L.


"Cepat jawab! apa karena ini kalian tidak tidur? dan kenapa kalian meretas perusahaan orang lain? " Nathan tidak bisa membayangkan nasib kedua putranya yang menjadi buronan.


"Maaf, Ayah. Kami hanya membantu para orang miskin, karena itulah kami meretas perusahaan yang melakukan kecurangan dan juga korupsi, " jawan Al menundukkan kepala , sementara El mengangguk.


"Ayah tidak marah dengan kalian. Ayo, kita lakukan pekerjaan ini dengan cepat. Sebelum ibu bangun dari tidurnya. " ucapan Nathan membuat ekspresi twins L berubah menjadi ceria.


"Ayah tidak marah? " ujar twins L yang kompak.


"Tidak, untuk apa Ayah memarahi kalian. Ayah bahkan bangga dengan ini, kita uji kemampuan masing-masing. " jawab Nathan tersenyum.


Ketiga pria tampan itu memulai aksi mereka dengan keahlian masing-masing, Nathan sangat bangga dengan IQ twins L yang sangat genius. Mereka sangat fokus dengan layar laptop di hadapannya, di sela-sela kesibukan itu, mereka sesekali mencengkrama bersenda gurau.


Nathan membesarkan pupil matanya, saat melihat alamat surel yang dia kenali. Hingga kejadian beberapa tahun lalu, membuat dia teringat kembali.


"Tidak salah lagi, aku sangat mengenal serangan ini. Wah, sepertinya ini sangat seru, " batin Nathan tersenyum sangat tipis tanpa di sadari oleh twins L.


Di sisi lain, Zean merasa ada yang janggal dan menghentikan penyerangan itu. Dia mengembalikan dan memulihkan semua virus yang dia kirimkan lewat surel.


"Sepertinya aku mengenal serangan ini, " batinnya yang menyenderkan punggungnya di kursi.

__ADS_1


__ADS_2