Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 67


__ADS_3

Nathan mengembalikan laptop dan ponsel twins L, tentu saja Al dan El sangat bahagia. Sekian lama tidak memegang benda pipih itu membuat mereka menjadi anak normal lainnya. Mereka duduk di ruang tengah, yang sama-sama sibuk dengan ponsel dan juga laptop yang berada di tangan mereka. Al mencoba membuat program yang telah dia pelajari dari sang Ayah, sementara El memeriksa keamanan sistem kediaman Wijaya.


El mengerutkan keningnya saat menatap layar laptopnya, "ada yang tidak beres di sini," gumamnya yang masih terdengar oleh Al.


"Ada apa?" Al yang sangat penasaran segera. menghampiri El.


"Aku menemukan kejanggalan dengan sistem keamanan kita, di saat aku menelitinya dan hasilnya nihil, tapi tidak bisa terdeteksi."


"Bagaimana jika kita memberitahukan kepada Ayah," usul El.


"Itu bagus, cepat hubungi Ayah," Titah Al.


Sesuai perkataan Al, El menelfon Nathan yang tengah berada di rumah sakit karena hari ini jadwal terapi Dita.


"Hallo."


"Kapan Ayah pulang?" sahut El.


"Dalam setengah jam lagi, ada apa? tumben menelfon Ayah mu ini? "


"Heheh.... cepatlah pulang, ada yang ingin kami katakan kepadamu, Ayah. "


"Katakan saja lewat telfon."


"Tidak, aku akan mengatakannya jika Ayah sudah kembali nanti. "


"Hem, terserah kalian saja."


El memutuskan sambungan telfon dan kembali menatap layar tipis di hadapannya, dengan tatapan fokusnya dan juga teliti. Tak lama, Nathan dan Dita telah berada di Mansion. Setelah mengantar sang istri untuk beristirahat di dalam kamar, dia menuju ke ruang tengah.


"Sekarang Ayah sudah pulang, cepat katakan ada apa?" ucap Nathan yang menatap twins L dengan penasaran.

__ADS_1


Al dan El mendongakkan kepala menatap asal suara, "Duduk lah," sambut Al.


Ketiga pria tampan itu duduk di sofa empuk sembari memainkan jari-jari nya dengan sangat cepat, menekan tombol keyboard. "Ini lihatlah," ujar El yang memperlihatkan layar laptopnya.


Nathan membesarkan pupil matanya, melihat serangan sistem yang tidak dia ketahui sedikit pun. Twins L hanya diam sambil memperhatikan raut wajah Nathan yang tampak sedikit terkejut dan juga bingung.


"Apa Ayah mengenal serangan itu?" tanya Al.


"Serangan sistem kita sangatlah kuat, jika dia menerobosnya, sudah pasti dia sangat ahli. Tapi serangan ini bukanlah dari Zean sialan itu, Ayah baru melihat ini."


Nathan sangat penasaran sengan serangan mendadak dari alamat surel yang tak dia kenal, serangan untuk mengambil alih perusahaan milik keluarganya. Sudah pasti Nathan tak tinggal diam, melawan orang yang sudah mengusiknya, di bantu oleh twins L.


Sementara di tempat lain, Zean berusaha mempertahankan perusahaan nya yang di retas oleh orang yang tidak di kenalnya. Membalas serangan tiada henti. Dia sangat yakin, jika serangan itu bukanlah dari Nathan ataupun twins L. Perusahan milik Zean dan Nathan hampir di ujung kebangkrutan, hingga berita itu tersebar dengan sangat cepat, mereka sangat frustasi dengan kejadian itu.


Sesuai saran dari Daniel, jika Nathan dan juga Zean harus bekerja sama serta melupakan dendam pribadi. Nathan awalnya menolak dengan keras usulan itu, Daniel terus membujuk Nathan agar melupakan egonya.


"Bagaimana jika pria sialan itu tidak ingin bergabung?" cetus Nathan.


Mengambil benda pipih yang ada di saku celananya, menghubungi Zean dan mengajaknya untuk bertemu.


Zean menerima ajakan Nathan yang ingin mengajaknya untuk bertatap muka, dia hanya pergi sendiri tanpa Alvin di sisinya. Menyinhkirkan ego demi menghancurkan musuhnya yang lain.


Daniel bisa melihat ketegangan di antara dua penguasa yang saling bertatap tajam satu sama lainnya. "Bisakah kalian menghentikan saling menatap?" seru Daniel yang menatap Zean dan Nathan dengan jengah.


"Untuk saat ini, lupakan dendam pribadi. Karena perusahaan kita sebentar lagi akan bangkrut," ucap Zean yang mencairkan suasana.


"Ck, jika saja tidak terpaksa, aku sangat malas menjadi rekanmu. Pria perebut istri orang," cetus Nathan.


"Dan dalam mimpi pun, aku tidak pernah memikirkan ingin bekerjasama dengan mu dan aku hanya merebut apa yang seharusnya menjadi milik ku," sahut Zean.


"Oh ayolah, hentikan semua ini. Lupakan ego kalian, kita mempunyai musuh yang sama," ujar Daniel yang bosan melihat pertikaian yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Baiklah, apa rencanamu?" tanya Nathan yang menatap Zean.


"Apa kamu lupa? yang ahli dalam strategi adalah kamu," ketus Zean yang melirik Nathan.


"Jangan menatapku begitu, atau mata itu tidak berada di posisinya," sahut Nathan yang tak kalah ketusnya.


"Ck, aku tidak takut dengan mu."


"HENTIKAN," ucap Daniel yang meninggikan suaranya. Zean dan Nathan seketika menjadi diam dan menatap Daniel dengan tajam.


****


Dita yang merasa jenuh di kamar, meminta pelayan untuk membawanya ke taman bunga yang berada di samping mansion. Taman bunga yang sangat indah, menyegarkan mata dan membuat kejenuhannya menghilang dengan cepat.


Tak sadar, jika Dita hampir 1 jam berada di taman, di saat dia ingin kembali ke mansion, tiba-tiba dua orang berbaju hitam membekap mulut Dita dengan sapu tangan yang sudah di olesi bius. Mereka membawa Dita untuk masuk ke dalam mobil dan pergi dari kediaman Wijaya. Walaupun penjagaan di mansion begitu ketat, tapi mereka dengan sangat mudah menerobosnya, karena lawan dan musuh dari Nathan dan Zean sudah muncul.


Twins L yang baru saja pulang dari sekolah sangat terkejut melihat mansion yang berantakan, ada beberapa penjaga tewas dan mengalami cedera.


"El, cepat cari keberadaan Ibu," ucap Al dengan tegas. El tidak banyak bicara, dia berlari mengelilingi mansion untuk mencari keberadaan Dita. Sementara Al menanyai salah satu penjaga yang masih bertahan, "katakan Paman, apa yang terjadi?" desak Al yang sangat cemas.


"Kami di serang oleh orang berbaju hitam, jumlah mereka sangat banyak, hingga kami kalah telak. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga nyonya Dita," ucap salah satu prajurit.


El berlarian menghampiri Al, "ada yang mengatakan kepadaku, jika Ibu di bawa oleh orang berbaju hitam. Al, bagaimama ini?"


"Tenanglah dulu, aku akan menghubungi Ayah," ucap Al yang menghubungi Nathan.


****


Kedua pria yang bersitenggang itu sangat terkejut dengan kabar yang baru saja di katakan oleh Al. Nathan sangat marah dengan kejadian itu, apalagi Zean yang tak henti-hentinya mengumpat orang yang berani menculik Dita.


"Kenapa semua orang ingin menculik istriku, " ketus Nathan yang melirik Zean.

__ADS_1


"Singkirkan pandangan itu." Mereka bergegas pergi untuk mencari keberadaan Dita yang lagi-lagi di culik.


__ADS_2