Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 50


__ADS_3

Seseorang pria tampan dengan kemeja berwarna navi berdiri dengan badan yang tegap, kedua tangannya di lipat di depan dadanya sembari menatap lurus. Memikirkan sesuatu yang membuat tidurnya tidak nyenyak.


"Bagaimana hasilnya? apakah kamu sudah menemukan lokasi tikus kecil itu?" ucap Zean yang tidak tertarik dengan wajah Alvin.


"5 menit lagi, tuan. Sebentar lagi, alamat mereka teridentifikasi, " lapor Alvin yang di sibukkan dengan layar laptop miliknya.


"Hem.... bagus. Aku akan menunggu, jangan kecewakan aku kali ini, " imbuh Zean.


"Baik, tuan. " Kerja keras Alvin kali ini tak sia-sia, membuatnya tersenyum.


"Bagaimana?" harap Zean menatap Alvin dengan penuh harapan.


"Berhasil tuan, saya sudah menemukan lokasi nya dengan sangat akurat."


"Bagus, awasi mereka dan seret ke markas, " titah Zean yang tersenyum sangat tipis, hingga tidak di sadari oleh Alvin.


****


Dita bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan untuk semua orang. Walaupun di mansion itu sangat banyak pelayan, tapi Dita tetap kekeuh untuk memasak makanan dari tangannya sendiri, ada kebahagiaan tersendiri baginya jika semua orang memakan makanan buatannya.


Dita membangunkan twins L dan suaminya, setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sudah menjadi rutinitasnya setelah memasak, Dita juga memerintahkan salah satu pelayan untuk memanggil Wijaya, Novi, dan juga Naina untuk makan bersama.


Mereka makan dengan khidmat, tanpa obrolan. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu yang saling bergesekan.


Setelah selesai sarapan, mereka kembali menjalankan rutinitas masing-masing. Naina berangkat ke kampus, sementara Novi berdiam diri di kamarnya yang sedang menjalankan hukuman dari Wijaya. Sementara Dita meminta izin untuk pergi ke butik yang sudah lama tidak dia cek, sementara twins L mengikuti Dita kerena tidak ada yang menjaga mereka.


Daniel datang untuk menjemput Nathan yang bersial-siap ke kantor, Dita mengantarkan Nathan hingga pintu depan. Sebelum berangkat, Nathan mencium bibir Dita tepat di hadapan sahabatnya, Daniel merasa jenuh dengan tingkah Nathan yang selalu mengumbar kemesraan mereka di hadapannya.


"Bisakah lebih cepat lagi? " ucap Nathan.


"Kenapa?" sahut Nathan dengan raut wajah tanpa dosa.


"Ck, kamu menanyakan itu seperti tidak mengetahui apa yang terjadi. Maksudku, bisakah ciuman selamat pagi itu tidak di lakukan di hadapan pria tampan yang jomblo ini, " gerutu Daniel sembari menyombongkan diri.


"Jika kamu iri, maka carilah seorang wanita dan nikahilah."

__ADS_1


"Untuk saat ini aku lebih memilih sendiri. "


"Heh, bilang saja jika kamu tidak laku, " ledeknya.


Daniel mengerucutkan bibirnya, "ayo cepatlah, sebelum jalanan macet."


"Sayang, aku pergi dulu. Jaga twins L dengan baik, " ucal Nathan yang tersenyum.


"Iya, sayang. kamu yang semangat bekerjanya, " sahut Dita. Sebelum pergi, Nathan mencium kedua pipi sang istri membuat Dita bersemu merah.


****


Dita mengajak kedua putranya menuju butik. Butik yang semakin lama semakin banyak pelanggan membuat Dita dan Nurma kelimpungan untuk melayani banyaknya. Twins L yang sangat bosan di dalam ruang kerja Dita memutuskan untuk keluar dan bermain di luar.


Mereka yang asik bermain kejar-kejaran tak sengaja menubruk pria dengan tubuh yang besar dan wajah seramnya menatap twins L dan membekap mulut mereka dengan kain yang sudah di olesi bius. Twins L belum sempat melawan, tapi mereka kehilangan kesadaran dan pingsan.


Dita yang kembali ke ruangannya untuk memeriksa keadaan twins L terlihat cemas, saat dia tidak menemukan siapapun di ruangan itu. Dita meminta Nurma untuk membantu mencarikan Al dan El, bayangan kecemasan nya kian meningkat. Dita menangis dengan tersedu-sedu, di kala tak melihat twins L.


"Apa kamu sudah menemukan mereka, " desak Dita kepada Nurma.


"Anak-anak ku tidak mungkin hilang, cepat bantu aku cari mereka, " titah Dita kepada karyawannya.


Tak lupa juga, Dita menghubungi Nathan yang sedang meeting di kantor. Mendengar kabar itu, Nathan membatalkan meeting demi sang buah hati yang hilang entah kemana. Setibanya Nathan di butik, dia melihat dengan jelas, bagaimana reaksi Dita dengan penampilan Dita yang sangat berantakan, dia menghampiri istrinya seraya memeluk untuk menenangkan Dita.


"A.... aku telah gagal menjadi ibu, Nathan. Bahkan mereka di culik sebanyak 3 kali, tolong temukan anak-anak ku, " rengek Dita di sela-sela tangisannya.


"Tenang lah, untuk sekarang kamu pulang ke mansion. Biarkan aku yang mengurus segalanya. "


"Tidak, anak-anakku membutuhkan ku, aku ikut dalam pencarian ini, " kekeuh Dita.


Tak lama, Wijaya dan Novi menyusul Nathan di butik setelah laporan dari Daniel. Novi mendorong tubuh Dita hingga jatuh tersungkur, dengan emosi yang meluap.


"Dasar tidak becus, menjaga anak saja kamu tidak bisa, " bentak Novi.


"Mama jangan begitu, Dita juga tidak sengaja melakukannya, " ucap Wijaya yang membela Dita.

__ADS_1


"Tidak sengaja bagaimana, Pa? yang Mama katakan memang benarkan, " ujar Novi.


Perasaan Dita menjadi semakin kacau dengan dirinya yang di sudutkan oleh Novi, dia hanya bisa menangis sambil menyalahkan perbuatannya yang lalai.


Nathan menatap Daniel, membuat nya Daniel mengerti dengan tatapan itu. Dia segera menelfon bawahannya untuk mencari keberadaan twins L yang di culik.


"Maafkan aku, Ma, " ucap Dita yang bersimpuh di kaki Novi.


Novi menepisnya dengan kasar dan dengan sigapnya Nathan memegang tubuh sang istri agar tidak jatuh tersungkur. "Cukup, Ma. Jangan sesekali Mama melakukan kekerasan dengan istriku, jika ini terjadi lagi maka jangan salahkan aku, yang bisa berbuat nekat, " ancaman Nathan membuat Novi terdiam dan bungkam, dia sangat tau karakter dari anaknya yang bernama Nathan.


****


Al dan El mengerjapkan mata, mereka menelusuri setiap inci ruangan di sekelilingnya, mereka saling melirik. "Kita ada di mana? " ucap El.


"Aku juga tidak tau, tapi yang pasti kita harus keluar dari sini, " ucap Al.


"Apa kamu punya ide?" tanya El yang penuh harapan.


"Entahlah, aku belum memikirkannya. Siapa yang berani menculik kita? " ujar Al yang melirik El.


"Aku sangat yakin, ini ada hubungannya dengan perusahaan luar negeri yang pernah kita retas, " asumsi El.


"Kamu benar, bagaimana ini? kita dalam masalah besar, " jawab Al.


"Tidak perlu cemas, nikmatilah dengan tenang tangan yang di ikat ini, " pasrah El.


"Dasar bodoh, ini taruhannya nyawa kita, apa kamu ingin menyerahkan nyawamu secara percuma, " geram Al.


Terdengan bunyi sepatu yang semakin dekat menghampiri mereka, twins L menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas wajah pria tampan yang menuju ke arah mereka.


"Siapa kamu? " ucap twins L kompak.


"Akhirnya, aku bisa melacak kalian dan juga menculik. Aku akui kalian sangat hebat dalam IT, TIKUS KECIL. "


Twins L terkejut, ternyata yang menculik mereka adalah salah satu pemilik perusahaan yang mereka retas.

__ADS_1


__ADS_2