
Daniel menyiapkan mental dan juga batinnya, demi tugas yang di berikan oleh atasannya. Berurusan dengan twins L membuatnya sedikit kesulitan, mereka sangat pintar dan juga nakal. Menghentikan mobilnya dan mengawasi twins L dari kejauhan, twins L sedang mengutak atik ponsel mereka yang tak jauh dari perkarangan rumah.
"Mereka sangat sibuk dengan ponselnya, ini kesempatan yang baik untukku, " gumam Daniel yang turun dari mobilnya. Tanpa di sadari Daniel, sebenarnya twins L sedang mengawasinya dari layar ponsel mereka, "untuk apa paman jelek itu mengendap-endap?" ucap El.
"Dia terlihat seperti pencuri, " tambah Al.
"Apa kamu tau apa yang ada di otakku Al, " ucap El yang tersenyum jahil.
"Aku sudah tau, sebelum kamu memikirkannya, " sahut Al.
"Jalankan rencana," titah El.
Daniel yang mengendap dan bersembunyi, "eh, kemana mereka pergi? " gumamnya. Seseorang menarik celananya dengan pelan, merasa terganggu, Daniel menoleh dengan ekspresi terkejut.
"Kamu di sini?"
"Paman jelek sedang apa? kenapa jalannya mengendap-endap?" El menginterogasi layaknya polisi.
"Tidak ada. " Daniel menggaruk telinganya yang tidak gatal.
"Mencurigakan." tatapan El sangat menyelidik.
Al menghampiri Daniel dan juga El, menggenggam sebuah tali pengikat anjing. Yah, Al membawa anjing kesayangan Bara untuk ikut bersamanya.
"Untuk apa Paman mengawasi kami?" tambah Al.
Daniel melirik seekor anjing besar yang sedang menatapnya, dia sangat trauma dengan seekor anjing akibat ulah twins L tempo dulu, "Bukan apa-apa, Paman membawakan kalian cemilan. "
"Mana? kami tidak lihat. " El celingukan.
"Ada di mobil, akan Paman ambilkan. " Daniel bergegas menuju mobil dan mengambil satu kantong besar yang berisi cemilan.
"Ini cemilan kesukaan ku, terpaksa aku memberikan semuanya pada kedua anak nakal itu. Untung saja aku membelinya tadi, " batin Daniel.
"Apa rencananya kita jalankan?" ucap Al yang menoleh ke adiknya.
"Kita tunggu saja dulu, jika dia berbohong, lepaskan saja Molly dari ikatan di lehernya, " jawab El dengan santai.
"Ini ambillah." twins L mendongakkan kepala dan tersenyum senang saat melihat cemilan satu kantong besar, Daniel menyerahkan itu di tangan El.
__ADS_1
"Ternyata paman tidak berbohong, " ujar El.
"Apa paman boleh bergabung dengan kalian?" Daniel menatap twins L dengan penuh harapan.
"Duduk saja, kami tidak keberatan. " Al membuka plastik dan menyuapi ke mulutnya.
"Sekarang aku tau kelemahan mereka, hehe ini sangat bagus untuk kedepannya, " Daniel sedikit tersenyum.
"Katakan kepada kami, kenapa Paman mengendap-endap?" El mengalihkan perhatiannya menatap Daniel.
"Paman hanya ingin berdamai dengan kalian, " jawab Daniel dan mencari celah untuk mengambil rambut twins L.
"Untuk sekarang kita berdamai, " ujar Al yang santai.
"Bisakah kalian menjauhkan anjing itu? " Daniel menunjuk anjing yang terlihat galak.
"Baiklah, akan aku masukkan si Molly di dalam kandangnya. " sesuai perkataan Al yang sudah mengurung anjing kesayangan milik Bara.
"Sering-sering lah datang kesini, Paman," ucap El dengan mulut manisnya, sementara Daniel menatap El dengan jengah.
Cukup lama Daniel menatap twins L yang mampu menghabiskan semua cemilan, dia menatapnya dengan nanar, "seperti nya paman harus pergi, ada urusan yang harus di selesaikan, " Daniel pergi meninggalkan twins L. Dia tersenyum tipis, saat mendapatkan rambut dari twins L.
****
Seorang pria tampan dengan kemaja putih yang melekat dalam tubuh tegapnya, terlihat sedang menatap ke arah jendela. Kedua kakinya dia silangkan dengan punggung bersandar ke kursi semakin terlihat begitu menawan. Namun, pandangan matanya menatap keluar jendela dan terlihat kosong. Seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan di dalam otak miliknya.
Lamunannya terpecahkan saat pintu itu terbuka, "bisakah kamu masuk dengan mengetuk pintu?" Nathan menoleh dan melihat dengan jelas pelakunya adalah Daniel.
"Aku sangat bersemangat kali ini, " sahut Daniel yang berjalan dengan santai.
"Ada apa? sampai kamu tidak mengetuk pintu".
"Kamu tau, aku seakan mendapat jackpot setelah kerja keras ku, " Daniel menepuk dadanya dengan bangga.
"Apa yang terjadi?" Nathan berdiri dan menatap sahabatnya.
"Hampir saja aku di kerjai oleh dua kutu itu, untungnya aku mempunyai kartu As. " Daniel tersenyum dengan penuh percaya diri.
"Hem, aku tidak ingin bagian yang itu. Ceritakan bagian intinya saja. "
__ADS_1
"Aku berhasil membawa rambut mereka dan sudah aku cek, ini laporannya. " Daniel menyodorkan Hasil tes DNA, Nathan mengambil hasil tes dengan sangat bersemangat. Daniel melihat ekspresi dari wajah sahabatnya, raut wajah yang berubah-ubah, "apa hasilnya?".
"Oh tuhan....aku tidak menyangka, ternyata mereka adalah anak kandung ku, " tanpa sadar air mata Nathan menetes dengan sendirinya, tangan yang memegang kening, dengan bibit yang tersenyum.
"Pantas saja wajah dan sifat mereka mirip, kenapa aku baru menyadarinya sekarang, " gumam Daniel pelan. Nathan menghampiri Daniel dan memeluknya dengan erat, "kamu tau, aku sangat senang dengan berita ini. "
"Bisakah lepaskan pelukan ini? apa yang orang lain pikirkan tentang ini. " Daniel terus meronta, dia ingin Nathan melepaskan pelukan.
"Ck, aku masih normal, bahkan tanpa menikah aku sudah di karuniai dua anak sekaligus." dengan cepat Nathan melepaskan pelukan itu dan seketika raut wajahnya berubah dingin dan juga angkuh.
"Heh, apa yang di banggakan dengan itu?" cibir Daniel.
"Lihat lah wajah dan juga keahlian mereka sama seperti ku. "
"Aku percaya akan hal itu, dan jangan lupakan sifat mereka menurun dari mu. Mereka selalu saja mengerjaiku, bahkan mereka sangat pintar membaca keadaan. "
"Tentu saja, karena akulah ayah mereka. Kamu kerjakan semua itu, mata ku sakit melihat semua berkas yang menumpuk. " tunjuk Nathan ke arah berkas yang menumpuk.
"Jika aku mengerjakannya, lalu apa tugasmu?" Daniel menatap tajam atasannya.
"Di sini aku lah bosnya, terserah aku mau mengerjakannya atau tidak. Untuk apa aku menggajimu, jika kamu terus saja mengeluh, " ucapan telak Nathan membuat Daniel bungkam.
"Astaga, aku bahkan mengurusi 10 anak cabang kantor, apakah itu belum cukup?" protesnya.
"Memangnya kenapa?" ucap Nathan dengan wajah tanpa dosa.
"Ya tuhan, jangan memasang wajah bodoh mu itu, biarkan aku libur sehari, bukankah aku memberimu kabar baik tadi. " Daniel menarik rambutnya yang kesal dengan Nathan.
"Kamu sudah cukup untuk berlibur, saat aku memecatmu waktu itu."
"Apa itu masih bisa di sebut dengan liburan?"
"Kerjakan semuanya dengan lapang dada dan jangan mengeluh, aku pergi dulu, " ujar Nathan.
"Kamu mau kemana?"
"Menemui dua anak kecebong itu. "
"Ayah seperti apa kamu ini, menyebutkan anak sendiri dengan kecebong. Jika mereka anak kecebong, berarti kamu ayahnya kecebong. "
__ADS_1
Nathan tak menghiraukan ucapan Daniel, dia bergegas pergi meninggalkan Daniel yang Mengumpat dengan sumpah serapah, "Dasar sialan, apa begini cara dia berterima kasih. "