Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 142 ~ S2


__ADS_3

Al berusaha menarik klien yang ingin memutuskan kerja sama dengan perusahaannya, mencoba untuk melacak dalang dari semua ini. Al membuka laptop dan mengutak-atik dengan begitu lihainya, mencoba untuk menemukan sang pelaku. Tak butuh waktu yang lama, Al tersenyum menyeringai saat menemukan pelakunya, "ck, ternyata dia dalangnya. Selalu saja ingin ingin menjatuhkan perusahaan ku," gumam Al.


Tidak tinggal diam, Al mengerahkan seluruh kemampuan IT nya dan mulai menyerang si pelaku. Terjadi aksi saling menyerang data di perusahaan masing-masing, membuat Al tersenyum kemenangan.


Seseorang di luar sana sedang mengumpat, karena dia tidak bisa menumbangkan perusahaan Wijaya dengan sangat mudah.


"Sial, ternyata dia mengetahui jika pelakunya adalah aku. Kenapa aku selalu kalah dengan nya, Al selalu hebat dalam segala hal tentang pekerjaan," ucap pria itu dengan kesal.


Al yang kelelahan dengan pekerjaan kantor dan menyelesaikan dengan tuntas, dia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher sembari menyenderkan punggung di kursi kebesarannya.


Memegang ponsel untuk menghubungi sang asisten, tak butuh waktu lama, Ben datang dengan sangat cepat menghampiri sang atasan.


"Iya Tuan, ada apa?"


"Katakan jadwal hari ini," ucap Al yang menatap jam yang melingkar di tangan.


"Kita ada meeting dengan tuan Saga pemilik dari Saga Company," ucapan Ben membuat Al tersenyum.


"Kapan waktunya?"


"Satu jam lagi Tuan," sahut Ben.


"Hem, pergilah dan atur semuanya."


"Baik Tuan."


****


Shena dan Vivian berada di sebuah Cafe, mereka merencanakan untuk menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya mereka ingin mengajak Lea, tapi tidak menemukannya di mansion.

__ADS_1


"Apa Lea sudah membalas pesannya?" celetuk Shena.


"Tidak kak, dia tidak membalasnya. Entah kemana Kak Lea sekarang," sahut Vivian.


"Ya sudahlah, kamu pesankan makanan dulu. Aku ingin ke toilet dulu," pamit Shena kepada Vivian yang hanya mengangguk seraya melihat-lihat menu.


Shena melangkahkan kaki nya menuju toilet, panggilan alam membuatnya menuntaskan nya. Di saat dia ingin mencuci tangannya di wastafel, dan merapikan rambutnya yang tergerai indah.


Di saat ingin keluar toilet, tak sengaja dia menubruk orang lain dan membuatnya terjatuh. "Oh ya ampun, pantatku sangat sakit. Apa yang baru saja aku tabrak?" monolog Shena yang berdiri.


Dia mendongakkan kepala dan menatap orang itu, dia yang ingin memaki orang yang telah menghalangi jalannya. Walaupun di sini dialah yang salah, "oh sial, karena ulah mu membuat aku jatuh," pekik Shena yang mengatur nafasnya, sambil mengeluarkan cermin kecil dari tas seraya menatap dirinya, "syukurlah wajahku masih tetap cantik," gumam Shena yang masih terdengar oleh orang itu yang sedari tadi melihat kejadian unik di depannya.


"Apa wajahmu baru saja operasi plastik?" tutur pria itu membuat Shena jengkel.


"Oh hello Paman, wajahku itu sudah cantik. Kenapa aku harus operasi," cetus Shena.


"Aku bukanlah Paman mu," ucap pria itu.


Sementara sang asisten dari pria berjas itu tertawa melihat aksi berani gadis itu. "Jangan tertawa atau gigimu akan aku rontokkan," ancam sang atasan.


"Baru kali ini ada orang yang berani denganmu, apalagi dia hanyalah seorang gadis," ujar Gery sang asisten.


"Aku penasaran dengan gadis itu, cepat kamu cari tau semua data tentangnya," titah Alan.


"Baiklah, hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Hendrawan yang sebentar lagi akan di mulai," sahut Gery cepat.


"Baik, persiapkan semuanya."


****

__ADS_1


Caroline dengan susah payah berhasil membujuk Zean untuk mengadakan perayaan kecil saja, karena dia tidak ingin jika Zean merasa tersinggung.


"Ayolah, ini hanya perayaan kecil saja. Kamu tau? dia sangat sedih saat mendengar ucapan mu di Mall."


"Aku sudah mempersiapkannya, kamu kira apa?"


"Eh, bukankah kamu tidak setuju dan mengaitkannya dengan kematian istrimu?" ucap Caroline yang sangat bingung.


"Mulai sekarang aku akan memperhatikan Lucifer, dan bahkan aku sudah menyiapkan hadiah untuknya."


Caroline menatap kepergian Zean dan tersenyum, "inilah yang aku inginkan," gumamnya.


Zean sudah mengatur seluruh acaranya, acara ulang tahun anak semata wayangnya di lakukan dengan sangat meriah dan juga mewah. Tak lupa juga, Zean mengundang ke empat sahabatnya. Walau acara ulang tahun Lucifer sudah terlewat 1 hari, tapi Zean tetap melakukannya.


Saat di Mall, Zean sebenarnya tidak pergi melainkan mengikuti Lucifer dan Caroline setelah mendengar ucapan mereka. Hati Zean luluh saat mendengar perkataan Lucifer, hingga dia memutuskan untuk mengubur perasaan sedihnya dan kembali menata hidupnya. Apalagi di saat Zean melihat tawa lepas dari anaknya bersama Caroline saat bermain wahana permainan.


Pesta yang sangat mewah dan juga meriah, dengan beberapa warna dan dekorasi yang sangat cocok. Lucifer dan Zean berjalan beriringan dengan jas dengan warna yang senada membuat mereka terlihat sangat tampan dan juga mempesona.


Lucifer celingukan mencari keberadaan Lea, hingga matanya terhenti melihat seorang gadis yang sibuk memakan cake yang telah tersedia. Dia ingin menghampiri Lea, tapi dengan cepat di cegat oleh Zean.


"Jangan pergi kemana pun, ada yang ingin Daddy berikan kepadamu. Sebuah hadiah yang sangat kamu sukai, karena menurut Caroline kepribadian gandamu jarang sekali muncul. Dan Daddy berharap agar altar jahat bernama Max itu segera lenyap dari tubuhmu, selamat ulang tahun!" ucap Zean sambil memeluk anaknya yang hanya beberapa detik.


Zean mengambil sebuah mikrofon, "selamat malam semuanya, aku sangat senang dengan kehadiran kalian untuk memeriahkan pesta ulang tahun anakku. Selamat ulang tahun untuk putraku satu-satunya yang bernama Lucifer," kata Zean yang menunjuk Lucifer. Para tamu undangan bertepuk tangan dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang di tuntun oleh Zean sendiri.


"Terima kasih atas partisipasinya untuk kalian semua dan juga kepada ketiga sahabatku Nathan, Daniel, dan Bara yang telah hadir di sini. Kini tibalah saat nya untuk pemberian kado ulang tahun dari ku untuk anakku," sambung Zean yang memanggil Lucifer untuk berada dekat dengannya.


Lucifer melirik Caroline yang menganggukan kepalanya dengan sangat antusias, Lucifer menghampiri ayahnya dan semua orang kembali bertepuk tangan dengan meriah.


"Jujur saja, aku hanyalah Ayah yang buruk untuk anakku. Semenjak kematian sang istri tercinta membuat aku bagai mayat hidup, tapi seseorang telah menyadarkan aku apa artinya kasih sayang dan juga perhatian untuk anakku. Di ulang tahun putraku yang ke 17 tahun, aku ingin memberikan sebuah hadiah. Mulai sekarang dan selanjutnya, nama Lucifer aku ganti menjadi RAYYAN. Nama itu aku ambil dari gabungan nama Raya dan juga Zean."

__ADS_1


Perkataan Zean membuat Lucifer memeluk ayahnya dengan erat, karena nama yang selama ini dia gunakan berasal dari Nanny. Lucifer sangat bahagia dengan namanya yang baru, semua orang tersenyum sembari bertepuk tangan.


__ADS_2