
Sambungan telfon yang terhubung membuat Al sangat senang, karena sebentar lagi dia akan meluapkan amarahnya kepada adik kembar nya.
"Temui aku di taman dalam waktu 10 menit."
"Katakan saja lewat telfon, aku sedang sibuk sekarang."
"Ini sangat penting."
Al mematikan sambungan telfon membuat El sangat jengkel, "dia selalu saja begitu, memerintahku semaunya," gerutu El yang terpaksa menunda untuk bertamu di rumah Pak pitak.
Tak butuh waktu lama bagi El untuk sampai di taman, dia menghampiri Al yang berdiri tegap membelakanginya, El menepuk bahu Al dan di balas dengan pukulan di wajahnya.
"Kenapa kamu memukulku?" keluh El yang memegang wajahnya.
"Itu akibat karena kamu sudah mengkhianati aku."
"Apa maksudmu? mengkhianati siapa?" tanya El yang menautkan alisnya.
"Aku melacak identitas dari senjata yang aku produksi itu, serta data perusahaan yang sekarang hampir bangkrut," kata Al yang meninggikan suara.
"Tunggu dulu! jangan menyalahkan aku tanpa bukti," sahut El yang menatap Al dengan dalam.
"Ini lihatlah." Al melemparkan sebuah ponsel mengenai data perusahaan mengatas namakan dirinya dan juga identitas El.
"Ini tidak mungkin, untuk apa aku melakukan itu?"
"Itu yang ingin aku tanyakan kepadamu."
Al dan El saling menyerang tanpa henti, hingga wajah keduanya penuh dengan lebam dan juga sedikit membengkak.
Seseorang memperhatikan pertarungan itu dengan mengemil pop corn dan juga menyeruput minuman dingin. "Ck, walaupun wajah kedua kakak bodohku itu lebam dan bengkak, tapi wajah mereka masih terlihat tampan," gumam orang itu yang tak lain adalah Lea yang datang melihat pertandingan sengit Al dan El, karena dia telah menyadap telfon dari twins L tanpa di sadari oleh mereka.
__ADS_1
"Ayo sedikit lagi, tendang punggung dan juga kepalanya. Ah ya, aku suka jika wajahnya bengkak," pekik Lea yang bertepuk tangan.
Twins L berhenti dengan pertarungan mereka, dan mengalihkan pandangan mereka ke asal suara.
"Lea?" ucap mereka dengan kompak.
"Ciee....kalian sangat kompak ya," ledek Lea.
Al dan El saling melirik satu sama lain, dan saling melempar tatapan sinis. Lea mendekati kedua pria itu, "bukannya mencari solusi, kalian sangat asik bertarung. Oh tuhan, kenapa aku mempunyai dua kakak yang sangat bodoh," ucap Lea yang menepuk-nepuk keningnya dan menatap langit.
"Bodoh apanya? kakak mu ini sangat lah pintar, tidak seperti dia yang hanya tau menuduh tanpa mencari kebenaran lebih detail," ketus El yang menatap Al dengan tajam.
"Aku menuduh karena menemukan buktinya."
"Heh, apa itu bisa di katakan sebagai bukti. Lihatlah dengan jelas, jejakku memiliki sebuah kode rahasia. Jika ingin, cocokkan kode yang ada di dalam bukti itu dan juga kode asli milikku."
"Aku tetap tidak percaya padamu," cetus Al dengan dingin.
Lea memutar bola matanya dengan sangat jengah, "perusahaan bangkrut bukan karena kak El, aku sudah menelusuri dan mempelajari segalanya. Dan untuk kak Al, perusahaan kita masih aman dan terkendali yang sekarang berada di tanganku," ucap Lea dengan bangga.
"Hem, begini. Sebenarnya kalian berdua sedang di adu domba dari pihak musuh, dan mengenai kebangkrutan itu hanyalah sabotase dari rekayasa permainanku. Musuh itu tidak mendapatkan apa pun, karena aku sudah menipu mereka."
"Apa maksudmu, Lea!" ucap Al dan El serempak, membuat mereka saling menatap sinis. Sedangkan Lea menatap Al dan El secara bergantian.
"Jangan mengikuti ucapanku," ketus Al.
"Aku tidak mengikutimu," balas El yang tak kalah ketusnya.
"Apa kalian sudah selesai berdebat? atau ingin di lanjutkan? sepertinya sangat seru melihat wajah kedua kakak ku bertambah bengkak." Lea bertolak pinggang sembari mendongakkan kepalanya, karena tinggi nya hanya sebatas dada twins L.
"Baiklah kami akan diam."
__ADS_1
"Bagus, begini! aku sangat curiga saat kita mengalami kecelakaan di waktu itu, kita mengintrogasi dan menanyakan untuk siapa mereka bekerja, dan tiba-tiba ada orang yang menembak penjahat yang tersisa itu."
"Bagaimana kamu tau, kakak tidak menyangka jika adik tersayang ini sangat teliti," puji El.
"Karena kalian sangat bodoh, hentikan ini dan mulai mengatur strategi," jawab Lea dengan santai.
Ketiga kakak beradik itu menuju markas besar Black Wolf, dan betapa terkejutnya twins L melihat kemampuan Lea yang sangat Genius di bandingkan mereka. Hingga mereka menemukan dalang dari kekacauan terjadi, membuat Al dan El tak berkedip dengan keahlian Lea yang sangat mudah menemukan sang pelaku.
"Kenapa kamu menutupi kemampuanmu kepada kami dengan sikap manja dan mengoleksi wajah pria tampan nan bodoh itu," ucap El yang menatap Lea dengan serius.
"Kemampuanku hanya untuk keadaan darurat saja, sementara para pria tampan adalah hobi ku. Bisa di katakan sebagai mood booster dan vitamin A," ucap Lea yang sangat bersemangat, sembari membayangkan bentuk dada bidang dengan roti sobek.
Al yang geram menyentil kening adiknya, "berhenti berkhayal."
"Ish, mengangguku saja," cetus Lea yang cemberut.
"Apa kalian ada rencana?" celetuk El.
"Mudah saja! jika orang itu berjalan selangkah, kita akan maju dua langkah. Mereka menginginkan kalian terpisah, bukan? maka kalian baraktinglah sebagai musuh, aku akan membuat permainan ini sangat menarik," tutur Lea yang tersenyum smirk, sedangkan Al dan El saling mengangguk pelan.
****
Abian yang sedang berjalan-jalan di sekitar mansion tak sengaja dia melihat sebuah ruangan yang selalu di datangi Caroline, karena rasa penasarannya yang sangat besar membuat Abian nekat untuk masuk ke dalam ruangan.
Abian menelusuri ruangan itu mirip seperti gudang tua, "tidak ada apa-apa di sini! tapi kenapa Mom selalu mendatangi ruangan ini? ya sudah lah, sebaiknya aku pergi," gumam Abian di dalam hati.
Di saat ingin pergi, Abian tertarik melihat sebuah lukisan yang bentuknya sangat aneh. Dia mengambil lukisan dan melihat sebuat tombol berwarna merah yang ada di dinding tempat lukisan itu di pajang. Karena penasaran dia menekan tombol, sontak dia terkejut saat ada tangga yang muncul tiba-tiba tak jauh dari nya.
Abian menuruni tangga rahasia dengan sangat hati-hati, sebuah tangga yang membawanya ke ruang rahasia. Dia memeriksa ruang rahasia dan terdapat masa lalu dari Caroline dan juga dendamnya kepada Dita.
"Apa yang harus aku lakukan, Mom Caroline menargetkan Ibu Dita. Aku akan melindungi keluarga Wijaya terutama Ibu ku," tekat Abian.
__ADS_1
Karena tidak ingin berlama-lama di dalam sana, Abian dengan cepat meninggalkan ruangan rahasia milik Caroline sebelum ketahuan.
Abian terus memikirkan masalah itu, hingga dia tidak bisa tidur. Walau bagaimana pun juga, Caroline telah berjasa dalam merawatnya. Dia sangat bimbang, karena di satu sisi Dita adalah wanita yang tulus menyayangi nya. Sedangkan Caroline telah merawatnya, dan dia tidak ingin berhutang budi.