
Bukan nama nya El jika hanya diam saja, dia sangat senang dengan perjuangannya yang akan di mulai dari sini. Berjuang untuk mendapatkan Anna, bahkan dia sudah mendekatkan dirinya kepada Panji, menantu Bonar yang baru saja resmi menikah dengan Lolita.
El merekrut Panji untuk bekerja di perusahaan Wijaya dengan artian Panji mau membantu nya untuk bisa mendapatkan Anna. Kedua pria itu sedang duduk saling berhadapan di sebuah Cafe yang telah di janjikan.
"Bagaimana? tawaranku ini sangat lah menggiurkan," ucap El yang menyeruput kopi di atas meja.
"Aku harus mempertimbangkan nya terlebih dahulu," ucap Panji.
"Tidak perlu memikirkannya terlalu lama, kesempatan tidak akan datang dua kali. Kamu hanya perlu membantuku untuk mendapatkan restu saja."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
"Selamat, sekarang kamu resmi bekerja di perusahaan Wijaya. Yang aku dengar jika kamu memimpikan bisa bekerja di sana," ujar El dengan santai.
"Itu benar, cukup sulit untuk masuk keperusahaan Wijaya." El tersenyum tipis karena dia sekarang mempunyai dukungan dari dalam.
"Jadi bagaimana? kamu menerimanya atau tidak?"
"Aku setuju, tapi aku akan melakukan sesuai kemampuanku."
"Tidak masalah," sahut El dengan santai.
Setelah pertemuan itu, El dengan penuh percaya diri datang ke rumah Anna dan menghampiri Bonar, "selamat sore, bagaimana keadaan mu Paman?" sapa El yang memperlihatkan giginya yang putih nan rapi.
"Tadinya aku sangat baik, tapi kedatanganmu membuat keadaanku kian memburuk," balas Bonar yang berusaha mengatur nafasnya yang tidak terkontrol.
"Aku anggap itu sebagai pujian Paman," sahut El dengan tersenyum membuat Bonar hanya memutar bola matanya dengan jengah.
"Pergilah dari sini, jika kamu ingin meminta restu itu tidak akan terjadi." El tidak menghiraukan perkataan itu, dia lebih memilih duduk di hadapan Bonar, menatap pria paruh baya dengan seksama.
"Kenapa kamu menatapku begitu?" sinis Bonar yang meletakkan koran di atas meja dan menatap lawan bicaranya.
"Tolong restui aku Paman, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan restu mu," rengek El yang bersimpuh di kaki Bonar.
"Hei bangunlah, orang akan salah paham melihat ini."
__ADS_1
"Tidak, aku akan tetap bersimpuh di kaki mu, Paman. Ku mohon restui aku, hiks....hiks!" ujar El dengan penuh drama.
"Hah, kamu membuatku merasa bersalah. Baiklah, aku akan memikirkannya tapi kamu harus patuh dengan perkataanku."
"Benarkah Paman?"
"Ya begitulah." Ucapan Bonar membuat El sangat senang karena hanya perlu selangkah lagi untuk mendapatkan sang wanita pujaan, dia tidak memikirkan hal yang lainnya lagi. Karena rasa bahagia yang teramat besar dengan berani El memeluk tubuh Bonar dengan sangat erat.
"Hehe....ternyata aktingku sangat baik, sepertinya aku akan memenangkan penghargaan di tahun ini," batin El yang tersenyum tipis tanpa di ketahui oleh siapa pun.
"Eit, jangan senang dulu wahai anak muda. Aku belum sepenuhnya memberikan restu ku untukmu," ucap Bonar dengan santai dan tersenyum jahil.
"Aku akan membuatmu kesusahan, tidak mudah membuatku luluh, dasar orang kaya!" gumam Bonar yang menganggukkan kepalanya dengan perlahan, karena dia mempunyai ide yang akan menyusahkan El.
"Itu awal yang bagus, setidaknya tidak menutup kemungkinan untuk mendapatkan restu dari mu, Paman."
"Ayo ikuti aku," ucap Bonar yang berdiri dan di ikuti oleh El. Mereka sampai di halaman belakang rumah yang terdapat banyak ayam, "kamu lihat itu?" tunjuk Bonar.
"Iya, aku melihat kandang ayam."
"Apa?" ucap El yang melototi kedua matanya.
"Kenapa? cepat lakukan itu dan jangan lupa untuk memandikan jalu, ayam kesayangan ku ada di sebelah pojok kiri. Dan jika terjadi masalah, aku akan memasukkanmu ke dalam daftar hitam sebagai calon menantuku," kata Bonar dengan penuh ketegasan, pergi meninggalkan El yang sedang memasang raut wajah bingung.
"Oh ya tuhan, bagaimana aku melakukannya? selama ini aku tidak pernah melakukan hal yang berhubungan dengan ayam dan apa ini? kandangnya sangat bau sekali," gumam El yang mulai mengambil peralatan untuk membersihkan kandang ayam sembari menutup hidungnya.
****
Setelah melihat semua bukti kejahatan dan juga rencana Alan, Shena mengerti dengan keadaan itu dan dia berjanji untuk tidak menemui Alan ataupun berbicara kepadanya.
"Bagaimana? apa sekarang kamu mengerti?" tegas Vivian.
"Hem, aku mengira dia pria baik-baik. Maafkan aku yang tidak percaya dengan perkataanmu," lirih pelan Shena menatap Vivian dengan nanar.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu sudah mengetahui siapa pria busuk itu."
__ADS_1
"Mulai sekarang, jangan pernah keluar mansion sendirian karena bisa saja Alan berbuat nekat kepadamu," ucap Al dengan tegas.
"Iya, tapi jangan menatapku dengan mata tajammu itu," gerutu Shena.
"Apa kesalahanku di masa lalu, yang membuat aku terjebak dengan gadis bodoh sepertimu," cibir Al.
"A-aku tidak bodoh, karena aku selalu berpikiran baik kepada semua orang," jawab Shena yang mendapat sentilan di keningnya.
"Itu hukuman untukmu," cetus Al.
"Hukuman seperti apa yang selalu menyentil kepala ku," protes Shena yang mengusap bekas sentilan itu.
"Baiklah, aku akan menghukum mu dengan cara lain," tutur Al dengan tatapan mesumnya.
"A-apa maksudmu?" sahut Shena dengan gugup.
"Bersiap-siaplah, nanti malam aku akan memakan mu." Al sangat senang saat melihat raut wajah Shena yang gugup dan ketakutan. Dia juga gemas dengan istrinya yang sangat bodoh dan mudah di manfaatkan oleh orang lain.
"Hah, sepertinya aku sudah tidak ada urusan. Lebih baik aku pergi saja," celetuk Vivian yang pergi meningglkan sepasang suami-istri yang sedang bertikai.
Seseorang melihat kejadian itu dan mendengar setiap pekataan mereka tanpa ada yang di lewatkan, "ternyata mereka sepasang suami istri? ini sangat menarik, aku akan mengatakan kepada Alan. Aku yakin dia sangat menyukai informasi yang aku dapatkan ini," batin Gery sang asisten Alan yang sedari tadi mengikuti mereka sesuai perintah sang atasan.
Reaksi yang di tujukan oleh obat pencuci perut yang di berikan oleh Vivian ke dalam minuman Alan sudah menghilang, dia sangat kesal dengan informasi yang di dapatkan dari Gery asisten setianya. Alan mengebrak meja dengan sangat keras, Gery terlonjak kaget dengan reaksi spontan dari Alan.
"Ternyata mereka sudah mengetahui semuanya?"
"Benar, ternyata Shena adalah istri Al Wijaya. Apa rencanamu sekarang?" tutur Gery yang menatap Alan.
"Ini sangat menarik dan akan memudahkan langkahku untuk maju ke depan, lakukan rencana B."
"Rencana B?" sahut Gery yang memiringkan kepalanya menatap dengan penasaran.
Alan tersenyum devil saat mendapatkan ide untuk mendapatkan ketenaran, "culik saja wanita itu, dan sisanya serahkan kepada ku."
"Baik," jawab Gery.
__ADS_1