Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 175 ~ S2


__ADS_3

Semua orang menatap kepergian Lea hingga menghilang dari pandangan, El menatap Al dengan tajam, "kenapa kamu melakukan hal itu? apa kamu merasa hebat karena mempunyai kuasa?"


"Aku hanya memberinya pelajaran saja," jawab Al dengan santai.


"Tapi kamu sudah keterlaluan kepadanya, aku melihat perjuangannya yang memotret para pria tampan itu."


"Aku tau, aku melakukan itu agar Lea berubah. Tidak lagi melakukan hobinya itu, ini demi kebaikan nya sendiri."


"Hah, terserah padamu saja!" El pergi meninggalkan ruangan itu menuju keluar mansion, semua orang kembali melakukan aktivitas masing-masing.


Al dan El pergi ke kantor dengan 1 mobil atas nasehat dari sang Ibu. Al menatap adik kembar nya dengan intens, "kenapa kamu menatap ku begitu?" celetuk El dengan sinis.


"Bukan apa-apa."


"Oh ya, karena sekarang kamu mulai mengurus perusahaan. Aku akan kembali dengan rutinitasku untuk mendapatkan restu dari pak pitak," celetuk El.


"Tidak, selesai kan terlebih dahulu pekerjaan kantormu."


"Apa kamu tidak mengasihani ku?" tutur El.


"Tidak," sahut Al dengan singkat, padat, dan jelas.


"Heh, tidak ada orang yang bisa menghalangiku termasuk kamu," ucap El yang tetap dengan tekad bulatnya.


"Yaya....baiklah, terserah padamu. Mulai sekarang aku tidak akan mencampuri urusan orang lain," pasrah Al.


"Nah begitu, itu baru saudara kembarku."


Mobil berhenti yang tak jauh dari gedung pencakar langit, twins L menuruni mobil dengan begitu elegan. Pakaian jas yang mereka pakai juga berwarna senada, hanya warna dasi saja yang berbeda.


Mereka berjalan beriringan, aura pemimpin dapat di rasakan oleh para karyawan yang tengah menyambut kedatangan bos kembarnya. Tidak ada yang berani menatap mata twins L, mereka hanya menundukkan kepala dengan hormat.

__ADS_1


Ben menghampiri bos kembarnya, "selamat datang Tuan twins L," sapa Ben yang menundukkan kepala.


Al memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari menatap sang asisten, "hem, berikan aku laporan kemarin dan beberapa berkas untuk hari ini," perintah Al.


"Baik Tuan,"


Twins L berjalan masuk ke ruangan presdir, Al kembali duduk di kursi kebesaran nya. Dia sangat merindukan pekerjaan yang sempat tertunda, sedangkan El menatap itu dengan tersenyum.


"Hehe....akhirnya aku terbebas dari kursi kutukan itu. Ini saatnya aku memberikan hukuman kepada dua kucing sialan itu," batin El dengan manggut-manggut kepala.


"Sepertinya kamu merencanakan sesuatu dan aku tau apa itu," celetuk Al.


"Eh, kamu tau?" ucap El yang sedikit kaget.


"Apa kamu lupa! sebelum kamu memikirkannya, aku lebih tau apa yang ada di pikiran mu. Mereka tidak salah, jangan hukum mereka yang hanya mengikuti perintahku," ujar Al.


"Tetap saja mereka ikut terlibat, lakukan saja pekerjaan mu. Aku pergi dulu," pamit El yang pergi dari ruangan presdir. Al berteriak memanggil nama El, tapi tidak di hiraukan oleh sang adik.


****


Kedua pria itu menelan saliva dengan susah payah, "ma-maaf King, kami hanya menjalankan tugas!" sahut Roger yang menundukkan kepala. El menurunkan kakinya yang berada di atas meja, "berani sekali kalian mengkhianatiku," ucap El yang meninggikan suaranya sembari menggebrak meja dengan sangat keras.


Roger dan Audrey terlonjak kaget, "ampuni kami King, kami hanya menjalankan perintah dari tuan Al saja." Mereka mendekati El dan bersimpuh di kakinya seraya meminta pengampunan.


El tersenyum senang karena memikirkan ide untuk menghukum bawahannya, "bangunlah, aku akan mengampuni kalian, tapi tidak terlepas dari hukuman."


El menepuk tangannya 3 kali dan datanglah salah satu anggota mafia, "ambilkan aku 2 karung beras yang masing-masing karung berisi 20 kilogram dan kacang hijau yang sama banyaknya dengan beras," perintah El.


"Baik King."


Audrey dan Roger berdiri dan saling menatap, mereka tidak tau hukuman apa yang akan di terima. Pasrah, itu salah satu kata yang menggambarkan keduanya.

__ADS_1


"Ini beras dan juga kacang hijau nya King, sesuai yang di perintahkan," ucap salah satu anggota mafia yang membawakan beras dan juga kacang hijau.


"Baik, kalian campurkan itu semuanya dengan sangat merata," titah El semakin membuat Roger dan Audrey semakin bingung.


El menarik sebelah sudut bibirnya keatas, menatap kedua kucing yang juga menatapnya dengan raut wajah kebingungan. "Aku tau, kalian pasti bingung untuk apa beras dan kacang hijau itu di campur. Ini pasti sangat menyenangkan, hukuman kalian adalah memisahkan setiap beras dan juga kacang hijau di wadah yang berbeda."


"APA?" sahut mereka dengan kompak.


..."King, berikan saja hukuman yang lain. Memisahkan kedua nya sangat membutuhkan waktu," ujar Audrey. ...


"Hanya itu hukuman yang sangat cocok untuk pengkhianat seperti kalian, cepat lakukan tanpa banyak mengeluh. Dan untuk kalian semua, tidak ada yang boleh membantu dua kucing itu atau aku akan menghukum kalian lebih berat lagi," ucap El dengan lantang. Dia berjalan keluar markas untuk menghampiri Panji yang telah mereka sepakati bersama.


Audrey dan Roger menatap kepergian sang pemimpin dengan nanar, mereka kembali melihat beras dan kacang hijau dengan pasrah memisahkan keduanya dengan penuh kesabaran.


"Nasib kita berdua sangatlah malang," ujar Audrey.


"Kamu benar, kita terjebak di antara kedua saudara kembar itu. Jika kita tidak mengikuti perintah tuan Al, maka nyawa kita bisa melayang dalam sekejap. Dan jika kita mengikuti tuan Al, maka kita mendapatkan hukuman dari King yang sangat konyol ini," racau Roger.


"Itulah nasib bawahan yang selalu di tindas, apalah kita yang hanya seonggok upil saja," ucap Audrey.


****


El berhasil mendapatkan informasi dari Panji, jika Bonar tidak menyukai para orang kaya karena tragedi masa lalu yang sangat pahit. Dia memberikan imbalan kepada Panji atas kerja kerasnya, "terima kasih telah memberikan informasi ini yang sangat berguna."


"Sama-sama, aku pergi dulu. Semoga sukses dan kita akan menjadi saudara ipar," jawab Panji yang tersenyum.


"Tentu saja, aku pergi dulu." El meninggalkan ruangan itu dan menuju ke rumah Anna dengan segala persiapan untuk meluluhkan hati sang calon mertua.


Bonar yang sedang berjalan-jalan di area komplek perumahannya terhenti saat melihat sebuah keramaian. Karena penasaran, melangkahkan kakinya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Bonar bisa melihat bagaimana El membagikan sembako dan juga beberapa uang tunai di dalam amplop. Dia juga melihat El membantu beberapa warga yang membutuhkan bantuan.

__ADS_1


"Wah, ternyata anak nakal itu dermawan. Aku mengira anak orang kaya hanya tau kemewahan saja, tanpa memikirkan nasib rakyat biasa," gumam Bonar yang tersenyum tipis dan pergi dari keramaian itu.


El tersenyum dengan rencananya yang berhasil, "hanya selangkah lagi aku bisa menikahi Anna," batin El yang tersenyum.


__ADS_2