
Al sangat senang atas permintaannya di penuhi oleh Roger dan Audrey, senyum yang mengembang di wajahnya terlihat sangat jelas saat membuka box. Ada sekitar 10 box yang setiap box nya berisi 100 pcs pakaian dalam dengan motif Doraemon berwarna pink dalam berbagai ukuran.
"Jika tidak ada hal lainnya, kami pamit undur diri Tuan," ucap Roger yang menundukkan kepala. Belum sempat Roger dan Audrey melangkahkan kaki, Al lebih dulu menghentikan mereka.
"Kalian mau kemana?"
"Ada beberapa pekerjaan di Markas Tuan," sahut Audrey.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Tapi sebelum itu bawalah masing-masing satu box ****** ***** itu, anggap sebagai hadiah dariku," tutur Al.
"Tidak, terima kasih Tuan," tolak mereka dengan cepat dan juga serempak.
"Aku tidak akan menerima nya, itu sangat memalukan," batin Roger.
"Jikapun aku di sogok uang yang banyak, tetap tidak akan aku terima," guman Audrey di dalam hati.
"Tidak ada bantahan atau kalian aku pecat dan masuk dalam daftar hitam," ancam Al dengan tatapan tajam bak elang yang memangsa lawannya.
Roger dan Audrey mengeguk saliva dengan susah payah, tatapan yang di lontarkan oleh Al benar-benar membuat mereka tidak bisa berkutik. Menganggukkan kepala merupakan cara efektif dan sangat ampuh untuk tidak membangunkan singa yang tengah tertidur.
"Baik, terima kasih dengan hadiahnya," ujar Roger dan Audrey yang mengambil hadiah itu dengan senyuman paksa.
"Hem, baiklah. Pergi sana!" usir Al yang membuat kedua bawahan itu hanya menghela nafas dengan kasar.
Al tidak menghiraukan orang yang berada di ruangan itu, dia di sibukkan dengan membuka box dengan tersenyum bahagia. "Ini terlalu banyak," gumam Al yang menatap para pria yang ada di mansion.
"Apa arti dengan tatapan itu?" batin Kenzi.
"Sebaiknya aku pergi saja," gumam Bara di dalam hati dengan berpura-pura mengangkat telfon dan berjalan menjauh dari sana. Al menatap ayahnya dengan senyum penuh arti.
"Aku permisi dulu, ada panggilan darurat," celetuk Nathan yang memegang perutnya.
Hanya tersisa Shena, El dan juga Kenzi, mereka saling melirik dan meneguk saliva yang seakan tersekat di tenggorokan. Kenzi dan El saling mengkode untuk terhindar dari suasana yang menurut mereka sangat mencekam, di tambah lagi dengan senyuman penuh arti dari Al.
__ADS_1
"Eit, kalian mau kemana?"
"Ada urusan mendesak di markas," jawab El tanpa menoleh.
"Aku bilang berhenti atau kalian akan terkena hukuman dariku," cetus Al.
"Sial, dia selalu saja mengancamku," gumam El yang menoleh dengan senyum palsunya.
"Ya ampun, aku rasa ini tidak baik," lirih pelan Kenzi yang juga menoleh dan tersenyum.
"Nah, begitu lebih baik. Karena aku sedang berbaik hati, maka kalian boleh mengambil ****** ***** itu masing-masing satu box. Tidak mungkin aku akan memakai semuanya kan," ucap Al yang tersenyum penuh arti membuat El memahami akan artinya.
"Wah, ternyata kamu berhati mulia ya. Aku akan menyimpannya," sahut El yang membawa 1 box besar dan di ikuti oleh Kenzi.
Al menatap kepergian mereka dan tersenyum puas, "bagus, sekarang bukan aku saja yang mempunyainya. Tapi, masih tersisa 6 box lagi dan tidak mungkin untukku memakai semuanya. Hah, lebih baik aku berikan 2 box untuk Ben karena telah bekerja keras," monolog Al yang kebingungan, hingga dia mendapatkan ide untuk membaginya kepada sang asisten, Ben.
Shena sedari tadi hanya diam dan memperhatikan drama yang terjadi di hadapannya, "apa kamu yakin untuk memakai semuanya?" ujar Shena yang menautkan kedua alisnya menatap bingung.
Al menoleh dan tersenyum, "memangnya kenapa? tidak ada masalahnya untuk itu. Aku bisa memakainya setiap hari, bukankah itu sangat menyenangkan."
"Baiklah-baiklah, daripada di buang lebih baik di sumbangkan saja. Masih banyak pria yang tidak sanggup untuk membelinya," seru Al dengan sangat antusias.
"Walaupun kamu memberikan ****** ***** secara gratis, itu tidak akan ada yang ingin mengambilnya," ujar Shena hang menatap suaminya dengan jengah.
"Aku akan meminta Ben untuk mengambil semuanya, dia bisa menjualnya atau menyumbangkannya," sahut Al dengan santai.
"Hah, terserah padamu saja." L
Sheha menghela nafas dengan kasar dan meninggalkan Al yang sibuk melihat-lihat.
****
Di sisi lain, Abian sangat kesal dengan tetangga barunya yang menurutnya sangat menyebalkan. Karena James membicarakan hal-hal yang sangat tidak berguna, "apa raut wajah mu selalu ketus begitu?" tanya James yang menatap Abian dengan seksama.
__ADS_1
"Terserah padaku, kenapa kamu peduli akan hal itu."
"Lidah suami mu sangat kasar sekali, apa dia tidak mendapatkan jatah di malam hari?" bisik Berliana ke telinga Lea yang menahan tawa.
"Oh Sayang, suaramu masih terdengar sampai di sini," seloroh James membuat Berliana menutup mulutnya dengan spontan, "benarkah begitu?" ucapnya yang di iyakan oleh James.
"Oh ya tuhan, kapan mereka akan pergi dari rumahku," gumam Abian yang memijit pangkal hidung nya.
"Bagaimana? apa kamu menyukainya?" seru James yang tersenyum.
"Jangan menatapku begitu, kalian sudah berkunjung ke rumahku selama 4 jam. Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain?" ketus Abian yang menatap sepasang suami istri itu dengan malas.
"Benarkah begitu Sayang?" tukas James yang menoleh ke sampinya seraya menatap istrinya.
Berliana melirik jam yang ada di ponselnya, "benar Sayang, tidak terasa kita mengobrol cukup lama ya," ujar Berliana yang tersenyum melirik Lea.
James dan Berliana yang ingin pergi tiba-tiba terhenti oleh suara bel pintu yang menyala, Abian meminta pelayan untuk membukakan pintunya.
"Kakak, aku menungguku di rumah sedari tadi." Pria itu berjalan mendekati James dengan rengekan kecil darinya.
"Hah, maafkan kami yang melupakan mu. Ini tetangga baru kita," ujar Berliana yang mengenalkan tetangga barunya.
Abian dan Lea membelalakkan mata saat menatap pria yang tengah tersenyum itu, "VERO?" gumam mereka kompak.
"Wah, ternyata tetangga barunya itu kalian."
"Apa kamu mengenalnya?" tanya James menatap adik kandungnya.
"Aku mengenal mereka di Taman Nasional Yosemite," jawab Vero yang melangkah mendekati Lea. Sementara Abian menatapnya dengan tajam, "menjauh dari istriku atau kamu akan aku jadikan onta panggang," cetus Abian.
"Kenapa kamu marah, tenangkan dirimu. Aku juga tidak tertarik dengan istrimu itu, yah walau aku sedikit sedih akan hal itu. Tapi ya sudahlah, aku tidak berniat untuk merebut istri orang."
"Itu bagus, mulai sekarang jaga jarakmu dengan istriku atau aku akan membuat perhitungan denganmu," tutur Abian yang memeluk Lea dengan sangat posesif, Lea sangat jengah menghadapi suasana itu. Sedangkan James dan istrinya tersenyum melihat betapa cemburunya Abian terhadap Lea.
__ADS_1
"Ayo kita pergi, biarkan mereka menghabiskan waktunya," ucap Berliana. Lea dan Abian menatap kepergian mereka hingga menghilang dari balik pintu.