Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 162 ~ S2


__ADS_3

El menuruni tangga dengan penuh percaya diri, bersiul dengan beberapa nada lagu yang menggambarkan dirinya yang sedang bersemangat. Tak luput dari pandangan, Kenzi menatap kakak sepupunya yang sangat berbeda. Dia menghampiri El yang sedang bersenandung ria, "apa kakak memenangkan lotre?" ucap Kenzi.


"Yap, itu benar. Perjuanganku tidaklah sia-sia," jawab El dengan bangga.


"Aku tidak mengerti," ujar Kenzi sambil menautkan kedua alisnya.


"Tentu saja kamu tidak akan paham, ini hanya urusan pria dewasa. Bukan seperti mu yang masih bocah," cibir El membuat Kenzi kesal dan menginjak kaki El dengan sangat keras.


"Hei....dasar kecambah sialan," pekik El sembari menatap kepergian Kenzi yang sudah jauh memasang jurus seribu langkah.


"Tenang lah El, bukan saatnya kamu mengumpati bocah sialan itu. Fokuslah untuk mendapat restu pak Pitak," monolog El yang menghirup oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkan secara perlahan, dia melakukannya sebanyak 3 kali.


Kali ini El tidak ingin mengendarai motor yang akan merusak gayanya, mengemudikan motor sport berwarna biru metalik dan tak lupa kacamata menambah nilai plus untuk ketampanannya..


Sesampainya ke tujuan, Anna menyambut kedatangan sang kekasih dengan senyuman dan penampilan yang sangat cantik. El membunyikan klakson mobil sportnya untuk menarik perhatian Bonar agar mendapatkan restu, menuruni mobil dengan sangat elegan membuat para tetangga berdatangan saat melihat kedatangan El yang mengundang banyak perhatian.


El turun dari mobil dan tersenyum menatap penampilan Anna yang memakai gaun pemberiannya. Kedua insan itu saling menatap dan melupakan Bonar yang terus menatap El dengan jengkel. Hingga tatapan itu berhenti saat koran melayang mengenai wajah El, "dia putriku dan jangan menatapnya begitu," ketus Bonar.


"Hehe....putri mu sangat cantik Paman," ucap El yang melirik Anna dan mengedipkan sebelah matanya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Bonar.


"Hei, aku masih hidup. Dasar tidak sopan," ketus Bonar.


"Aku tidak mengatakan jika Paman sudah mati, aku mengagumi keindahan ciptaaan tuhan yang ada di hadapanku ini," sahut El yang kembali melirik Anna.

__ADS_1


"Walaupun kamu mengaguminya, aku tidak akan merestui hubungan kalian. Catat itu!" ucap Bonar yang tersenyum mengejek.


"Duduk lah dulu, tidak baik berbicara saat berdiri," sela Anna yang mempersilahkan yang di patuhi oleh keduanya.


"Ahh Paman bisa saja jika bercanda, aku ada sedikit uang untuk Paman membeli baju baru, karena yang aku lihat baju yang Paman pakai sangat ketinggalan zaman," ujar El yang memberikan seikat uang berwarna merah kepada Bonar.


"Jangan berpikir karena kamu kaya dan bisa membuat ku luluh dengan uang yang hanya menjadi kotoran saja," ketus Bonar yang sangat tergiur dengan uang sebanyak itu. Tapi Bonar tidak bisa menerimanya, walaupun dia mata duitan.


Bonar kembali mengingat kejadian masa lalu, saat sang istri kecelakaan karena kecerobohan dan kesalahan si penambrak yang tidak bertanggungjawab. Pria kaya yang hanya memberikannya segepok uang tanpa berniat membawa istrinya ke rumah sakit, Bonar melempar uang yang di berikan oleh si penabrak untuk kompensasi, dan menolaknya dengan tegas.


Bonar menggendong istrinya dan membawanya ke rumah sakit, tapi keterlambatan nya membawa sang istri ke rumah sakit membuat dia kehilangan untuk selamanya. Dia sangat sedih saat kematian sang istri, membesarkan kedua anak sangatlah sulit baginya. Sejak saat itu, Bonar tidak menyukai orang kaya, Dendam di hatinya masih membekas hingga saat ini.


Karena kemiskinan, membuat Bonar tidak memiliki jalan lain. Itulah yang menyebabkan Bonar selalu berbuat curang, karena keuntungan yang dia dapatkan sebagai pemilik wahana hanya sedikit.


"Apa tujuanmu datang kesini?" ucap Bonar yang menatap El dengan serius.


"Apa kamu sudah membicarakan ini dengan keluarga mu?"


"Belum, aku ingin meminta restu dulu kepada Paman."


Bonar menepuk pundak El dan menatap matanya dengan dalam, "Aku tidak akan memberimu restu untuk menikah dengan putri ku Anna," ucap Bonar dengan penuh penekanan.


"Ayah," ucap Anna yang kecewa dengan penuturan sang Ayah sembari menatap sendu.

__ADS_1


Bonar tidak menghiraukan keadaan sekitarnya dan pergi meninggalkan tempat itu, Sementara El hanya diam terpaku.


****


Berkat kasih sayang dari keluarga utuh, altar jahat yang di miliki Rayyan telah lenyap selamanya. Karena dia rutin ke psikiater dan menjalankan prosedur dengan tepat, Zean dan Caroline sangat senang dengan kemajuan Rayyan 99 persen telah mampu mengendalikan egonya dengan sangat baik. Dan dokter juga menyatakan telah sembuh total, dan tidak perlu mengkhawatirkannya.


Rayyan sangat senang dengan hal itu, dia ingin membagikan kabar baik itu kepada Lea. Dia terus mencari keberadaan Lea, hingga dia mendengar suara yang tidak asing di dengar membuatnya menghampiri asal suara itu.


"Sepertinya Lea ada di taman," gumamnya yang setengah berlari. Saat menuju taman, Rayyan membesarkan pupil matanya saat melihat kejadian di depannya. Senyum yang selalu menghiasi wajahnya seketika berubah saat melihat kedekatan Abian dan Lea yang sedang bersenda gurau di sebuah taman.


Rayyan menatap kebersamaan Lea dan Abian yang tampak serasi, senyum dan juga tertawa lepas dari mereka membuat hatinya kian di tusuk sebilah pisau di dadanya. Rayyan memegang dadanya yang terasa sangat sakit, memundurkan langkahnya dan pergi dari tempat itu.


Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan dengan begitu lihainya. Dia tidak memikirkan keselamatannya sendiri, perasaan sakit yang dia rasakan sangatlah pedih. Hingga dia memarkirkan motornya yang tak begitu jauh dari danau yang sepi pengunjung.


Rayyan melangkahkan kakinya menuju pinggir danau dan berteriak sangat keras, sedikit membantunya untuk mengurangi rasa sedih yang dia rasakan. Kedekatan Lea dan Abian membuat Rayyan kembali mengenangnya.


"Kenapa ini rasanya sangat sakit, aku berjuang untuk sembuh hanya untuk mu Lea. Aku tidak sanggup melihat kedekatanmu dengan kak Abian, kenapa nasibku sangat malang?" lirih pelan Rayyan dan kembali berteriak sangat kencang, memanggil nama Lea dan juga kekecewaan nya.


"Sepertinya aku harus mengalah, aku melihat jika kamu lebih bahagia dengan kak Abian. Hah, bahkan aku sekarang memanggil pria itu dengan sebutan kakak. Jika kamu bahagia dengannya, aku akan mengalah demi kebahagiaanmu Lea," gumam Rayyan yang melempar batu ke dalam danau dan kembali berteriak untuk menghilangkan kekesalan, kekecewaan, kesedihan yang dia rasakan.


Tanpa dia sedari tadi, ada sepasang mata melihat Rayyan yang sedang patah hati. "Dasar pria bodoh, perempuan di dunia ini sangatlah banyak. Dasar mental kerupuk," gumam orang itu sembari memakan mangga di atas pohon yang tak jauh dari Rayyan.


"Siapa itu?" ucap Rayyan yang baru menyadari ada orang lain selain dirinya. Orang itu melompat dari atas pohon dan berdiri di belakang Rayyan.

__ADS_1


"Itu aku," ucap orang itu yang membuat Rayyan menoleh.


"Kamu?"


__ADS_2