Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 119 ~ S2


__ADS_3

Lea seakan kehabisan kata-kata untuk mengeluarkan semua kekesalannya, dia hanya pasrah dengan keberadaan Lucifer yang duduk di sebelahnya. Boy menatap Lucifer yang tidak menyukai keberadaan nya, begitupun dengan Lucifer.


Tatapan tak suka terhenti saat pertandingan basket telah usai, Lea berdiri dan bertepuk tangan sembari bersiul dengan jari tangan kanannya. Lea sangat menyukai di bagian ini, karena para tim basket akan membuka baju basahnya dan mengganti dengan pakaian yang kering. Lea mengabadikan lewat ponselnya, dada bidang dengan bentuk roti sobek membuat hari yang menyebalkan menjadi sangat berwarna.


"Ck, apa hebatnya itu? bahkan bentuk perutku sangat sempurna dari pria kamu foto itu," cibir Lucifer.


"Lebih baik kamu memotret ku saja, aku dengan suka rela berpose di depan mu," sambung Boy yang tak suka dengan hobi Lea yang satu ini.


"Hem aku tidak tertarik," cetus Lea tanpa melihat kedua pria yang bersitenggang itu.


Ponsel Lea telah berpindah tangan, yang sekarang berada di genggaman Kenzi yang sedari tadi mengawasi sikap sepupunya yang tidak pernah berubah. "Kenzi, cepat berikan ponselku," rengek Lea yang dongkol.


"Berhenti memotret para pria itu atau aku akan menghancurkan ponsel ini," ancam Kenzi yang membuat Lea terpaksa mengiyakan, setidaknya ada beberapa pose pria pemain basket yang telah dia abadikan.


"Dan kalian berdua, jauhi sepupuku!" tambah Kenzi yang menarik tangan Lea. Para kaum hawa sangat iri dengan nasib Lea yang sangat beruntung di kelilingi pria tampan dan di rebutkan, tapi tidak dengan Lea. Boy dan Lucifer menatap punggung Kenzi dan Lea yang mulai menghilang dari pandangan mereka.


****


El membuat pekerjaan Anna semakin sulit dan bertambah, dia selalu bersabar kepada tindakan El yang sangat mengganggunya. Tapi dia berusaha untuk tenang, karena hari ini adalah hari terakhir dia akan bekerja sebagai pelayan.


Lea hanya pasrah saja tanpa ada perlawanan, hingga El menjadi penasaran dan curiga terhadap sikap Anna. "Kamu tidak biasa nya diam begitu, aku semakin mencurigaimu," ucapnya dengan tatapan menyelidik.


"Karena aku tidak ingin berdebat denganmu, aku sangat senang hari ini. Kamu tau kenapa?"


"Apa?"


"Karena ini adalah hari terakhirku bekerja sebagai pelayan mu," ucap Anna yang telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Apa tujuanmu selanjutnya?"

__ADS_1


"Aku ingin bekerja di wahana permainan saja, untuk membantu Ayahku," jawab Anna sembari mengambil tas dan pergi dari apartemen milik El.


Kepergian Anna membuat El tidak suka akan hal itu, hingga dia mengikuti Anna menuju wahana permainan milik pak pitak.


Sesampainya di wahana, El melihat sekelilingnya, tentu saja sedang mencari keberadaan pak pitak. "Aman," batinnya sambil mengelus dadanya.


Di saat di ingin mengikuti Anna untuk masuk ke sebuah ruangan, langkahnya terhenti saat melihat wanita yang sangat cantik. Dia adalah Anna, si tomboy yang berubah penampilan lebih feminim


Di tambah dengan polesan make up tipis membuat wanita itu terlihat sangat memukau. "Wah, gadis itu sangat cantik saat menggunakan pakaian wanita," gumam El yang terus mengintip tanpa menyadari seseorang yang berdiri di belakangnya dan menepuk pundak El.


"Apa gadis itu sangat cantik?" ucap seseorang dari belakang, El hanya fokus dengan penampilan Anna yang sangat mempesona.


"Benar-benar cantik! aku tidak menyangka jika Pak pitak itu mempunyai anak gadis yang sangat cantik," balas El yang belum menyadari keberadaan orang di belakangnya.


"Oh ya? kenapa? bukankah Pak pitak itu sangat tampan?" puji orang itu.


1 detik....2 detik.....3 detik, hingga hitungan ke 4 detik membuat El menoleh dan terkejut. El menyalami tangan orang itu dan cengengesan serta menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal.


"Kenapa kamu menatap putri ku begitu hah?" kata orang itu yang tak lain adalah Pak pitak.


"A-aku merindukanmu Pak, boleh aku memelukmu?" sahut El yang memeluk Pak pitak secar berulang-ulang, Pak pitak sangat marah jika ada pria yang berani menguntit putrinya. El dengan cepat meloloskan diri dengan seribu langkah menghindari Pak pitak yang sebentar lagi amarahnya akan meledak.


"Berani sekali kamu mengikuti anakku," pekik Pak pitak yang berhasil melemparkan sepatunya mengenai punggung El.


"Dasar anak muda kurang aja, lihat saja nanti. Berani sekali dia mengintip anakku," gumam Pak pitak.


****


Al memeriksa setiap laporan yang di buat oleh Cantika, pekerjaan yang sangat baik menurutnya. Tapi tidak dengan sikap Cantika yang ceroboh, bahkan hari ini Cantika tidak sengaja menumpahkan air di lantai di ruangan Al. "Oh sial, kamu selalu saja ceroboh," ucap Al yang menghampiri asisten nya.

__ADS_1


Jus yang tertumpah itu, membuat lantai menjadi licin. Hingga, Cantika kehilangan keseimbangan dan menarik Al tanpa persiapan. Mereka terjatuh dengan sangat intim, Al berada di atas Cantika. Menatap netra mata coklat yang sangat indah membuat waktu seakan terhenti, ada sesuatu yang di rasakan oleh Al, tapi dia tidak mengetahui apa yang terjadi.


Suasana yang sangat romantis di rusak oleh suara pintu yang terbuka dengan keras. "Wah, mataku ternoda saat melihat ini," ucap orang yang mendobrak pintu itu dengan sangat keras sembari menutup matanya dengan tangan.


Al dan Cantika menoleh, mereka segera berdiri dengan cepat. Cantika yang gugup itu, segera pergi meninggalkan ruangan presdir dengan wajah yang di tekuk.


"Sial, kenapa kamu mendobrak pintu itu? membuat aku kaget saja," gerutu Al yang menatap sang pelaku yang hanya cengir kuda.


"Mau bagaimana lagi? aku sangat merindukan saudara kembarku," tutur sang pelaku yang tak lain adalah El.


Dia duduk di sofa dengan sangat santai tanpa ada beban.


"Mau apa kamu kesini?" ketus Al.


"Sudah aku bilang bukan, jika aku merindukan saudara kembarku. Sepertinya aku datang di waktu yang salah," ucap El.


"Cepat katakan ada apa kamu kesini?" sahut Al dengan raut wajah dingin.


"Heh, ingin rasanya aku membakar wajahmu yang dingin itu. Ada masalah di markas, aku sudah mencari tau tapi tidak aku temukan akarnya," ujar El dengan wajah tegas.


"Apa maksudmu? bukan kah selama ini baik-baik saja?" jawab Al yang ikut duduk di samping adik kembarnya.


"Aku merasa ada kejanggalan, tapi aku tidak menemukannya. Bahkan aku sudah melacaknya, apa kamu punya ide?" tutur El.


"Aku akan mencari tau, tapi sebelum itu bantu aku mengurus perusahaan ini. Berkas itu membuat mataku menjadi sakit," cetus Al.


"Ck, wajah mu sangat mengkhawatirkan. Maka, baiklah! anggap saja aku sedang berbaik hati kepadamu, karena aku sangat senang hari ini," ujar El yang tersenyum, membuat Al menatap bingung.


"Apa yang terjadi dengannya?" batin Al.

__ADS_1


__ADS_2