Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 140 ~ S2


__ADS_3

Lea terus mendapatkan sudut yang pas untuk memotret pria tampan, dia sangat antusias dengan hal itu. "Wah, sepertinya aku mendapat banyak foto para pria tampan," lirih pelan Lea yang terus memainkan lensa kamera nya dan mencari objek selanjutnya.


Betapa terkejutnya Lea melihat objek yang sangat dekat yang berada di hadapannya, "aku rasa toiletnya ke arah berlawanan," ucap orang itu yang tak lain Abian yang sangat tau jika Lea sedang berbohong.


"Bukan urusan mu, menjauhlah! aku harus menambah koleksiku," cetus Lea yang fokus dengan objeknya sambil menggeser tubuh Abian.


Abian yang sangat kesal, mengangkat tubuh Lea layaknya sekarung beras. Lea berusaha meronta, bukannya terlepas tapi membuat Abian semakin mengeratkan pegangan nya.


"Dasar pria sialan, lepaskan aku!" pekik Lea membuat orang-orang menatapnya sembari berbisik.


"Lepaskan gadis itu," ucap salah satu pengunjung Mall yang kasihan dengan Lea.


"Gadis ini adalah istriku, sedikit ada kesalahpahaman di antara kami. Hingga dia mencoba untuk lari dari masalah dan meninggalkan aku," sahut Abian yang dramatis membuat pengunjung itu menganggukkan kepalanya.


"Neng, kalau ada masalah dengan suami itu selesaikan dengan baik. Tidak baik jika seorang istri meninggalkan suaminya, apalagi suami Neng sangat tampan. Jaman sekarang banyak pelakor," celetuk pengunjung lainnya.


"Ibu yang salah paham dia itu...." belum sempat Lea mengatakan hal yang sebenarnya, Abian dengan cepat menyumpal mulut Lea menggunakan sapu tangan yang ada di saku celana bagian belakang, dia pergi dari kerumunan Ibu-Ibu membawa Lea untuk keluar dari Mall sebelum Lucifer menemukan mereka. Lea melepaskan sapu tangan yang berada di mulutnya ke sembarang arah, dia sangat lelah jika harus meronta, hingga Lea hanya pasrah dan menikmati itu.


Abian mengemudikan mobil dan membawa Lea pergi dari Mall tanpa memikirkan Lucifer yang masih menunggu Lea di sana.


Abian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Lea merapalkan doa agar keadaan nya tetap selamat. Dengan mulut komat-kamit di sertai sumpah serapahnya, Abian tersenyum tipis tanpa di sadari oleh Lea. Dia menambah kecepatan mobil nya membawa Lea ke jalanan yang sepi, kiri kanan hanya ada hutan pinus. Lea sedikit cemas dengan keadaannya, apalagi Abian merupakan seorang pembunuh bayaran dan bisa saja membunuhnya.


"Bisakah di jelaskan kemana kamu membawaku?" pekik Lea yang menutup matanya. Abian tidak menghiraukan teriakan Lea, dia semakin menambah kecepatan mobilnya. Hingga mobil berhenti di suatu tempat, Lea mengintip membuka matanya dengan perlahan.


"Eh, aku ada di mana?" batin Lea yang plongo.


"Ayo turun," ucap Abian dengan tegas.

__ADS_1


"Tidak, apa kamu ingin membunuhku? jangan mencoba untuk melakukan itu kepadaku, aku akan membalasnya," cetus Lea yang menatap Abian dengan waspada.


Abian menghela nafas dengan kasar, karena cara halus tak bisa membuat Lea turun mobil. Sekarang Abian menggunakan cara kasar dengan menarik tangan Lea yang sekarang memeluk kursi yang dia duduki, terjadi aksi tarik menarik.


Lea yang menyentak tangannya dengan kasar membuat keseimbangan Abian hilang dan menindih Lea dengan posisi yang sangat intim, kedua mata mereka saling menatap satu sama lainnya.


Iman Lea yang sangat dangkal itu membuat otaknya bertraveling, "aku sangat yakin jika tubuh nya sangat seksi, di tambah dengan roti sobek ini. Sungguh ciptaan tuhan yang sangat sempurna," batin Lea dengan tangan yang bergerilya meraba otot perut Abian yang mengenakan kaos tipis.


"Kamu menyukainya? aku bisa memperlihatkannya secara langsung kepadamu," ucap Abian yang tersenyum menggoda menatap Lea.


Lea segera memulihkan otak mesumnya, dan mencolok mata Abian, "singkirkan pandangan mu," ketus Lea.


"Auuh, aku mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwa kamu sedang memikirkan bentuk tubuh ku yang sangat seksi dengan perut yang sixpack dan dada yang bidang. Jangan berpura-pura, bahkan kamu merabanya," kata Abian yang semakin menindih Lea.


"Ya baiklah, sekarang kamu tau kebenarannya. Menyingkirlah dari ku, tubuhmu sangatlah berat," sahut Lea yang dengan cepat di turuti oleh Abian.


Lea mengikuti langkah kaki Abian yang masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana, dia melihat sekeliling yang di penuhi oleh hutan. "Pria ini seakan mempunyai banyak misteri," gumam Lea di dalam hati.


"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Lea yang menautkan kedua alisnya.


"Jangan banyak bertanya, ikuti saja aku."


Lea sangat penasaran dan mengikuti Abian, rumah kosong yang hanya ada satu ruangan ternyata mempunyai jalan rahasia menuju sebuah tempat. Lea sangat kagum dengan hal itu, dia tidak menyangka jika Abian mempunyai banyak misteri yang tidak dia ketahui.


Rumah yang mempunyai jalan rahasia itu menuju sebuah taman yang sangat indah, begitu banyak bunga yang tumbuh subur di sana.


"Bagaimana? apa kamu menyukainya?" ucap Abian yang menoleh ke arah Lea.

__ADS_1


"Tempat ini sangat menakjubkan, begitu banyak rahasia dengan mu. Katakan apa lagi yang kamu miliki yang tidak aku ketahui?" ucap Lea dengan sangat antusias.


"Nanti kamu akan mengetahui itu dengan sendirinya."


Abian membuka kaos tipisnya dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang melemahkan iman Lea yang sangat dangkal, "jangan menatapnya saja, bukankah kamu menginginkan hal ini? ayo foto aku sepuasmu," ujar Abian yang mendekat ke arah Lea yang juga melangkah mundur.


"Kenapa kamu mundur? bukankah ini salah satu hobimu? bahkan membohongi aku dan mengatakan jika ingin pergi ke toilet. Dasar gadis nakal, sayang sekali aku tidak mudah di tipu," ucap Abian yang semakin dekat, dia merangkul pinggang Lea dengan sangat erat.


Hembusan nafas dapat di rasakan oleh keduanya yang hanya berjarak beberapa senti saja.


"Tunggu dulu, apa pria ini ingin menciumku?seperti film-film yang sering aku lihat," batin Lea yang sangat bersemangat, dia memajukan bibirnya berharap akan merasakan ciuman.


"Kamu sedang apa?" ucap Abian yang melihat bibir Lea yang seperti bebek.


"Eh, bukankah kamu ingin menciumku?" ucap Lea dengan penuh percaya diri.


Abian menyentil kening Lea dengan keras, "kamu membayangkan nya? sepertinya otakmu perlu di bersihkan. Lihatlah ke belakangmu yang hampir saja masuk ke jurang," celetik Abian yang melepaskan dekapannya.


"Seseorang tolong sembunyikan aku," pekik Lea di dalam hati yang merasa malu dengan tindakan otaknya


****


El melupakan kesedihan dari patah hatinya, dia mencoba untuk menjalankan kehidupan yang akan mendatang, tidak ingin larut dalam perasaan nya.


Dia terbaring di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit kamarnya, "situasiku sekarang sangat rumit, apa aku harus meminta bantuan dari Papa Bara? yah sebaiknya aku bertanya kepada sesepuh yang ahli dalam meluluhkan hati wanita," gumam El.


El meninggalkan tempatnya dan mencari Bara, berharap dapat petuah untuk mendapatkan hati seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2