Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 60


__ADS_3

Kamar yang berantakan dan beberapa vas yang sudah pecah berceceran di lantai menjadi saksi, bahwa Zean sangat marah dan juga frustasi. Melangkahkan kaki menuju sebuah cermin yang besar, menatap dirinya sendiri.


"Apa kelebihan yang Nathan miliki? sehingga Tata lebih memilih pria itu. " Zean berusaha berpikir dengan keras dimana letak kekurangannya. Dia kembali mengingat kejadian saat Dita dan Nathan berciuman, membuatnya tersulut api cemburu. Kedua tangannya mengepal dengan sempurna, rahang yang mengeras, dan tatapan yang sangat tajam. Emosi yang tidak stabil itu berhasil memecahkan cermin besar hanya dalam sekali pukulan, tangan yang berdarah tidak sebanding dengan hati yang terluka.


"Ini tidak boleh terjadi, aku akan merebutnya dari mu NATHAN WIJAYA, " monolog Zean yang tertawa menyeramkan.


Zean membersikan dirinya di bawah pancuran air di shower, sedikit menghilangkan rasa pusing dan memberi ketenangan. Setelah selesai mandi, dia kembali menggunakan pakaian casual dan berjalan menuju ruang utama. Di sana dia melihat Hardi yang sedang duduk bersantai, dengan kaki yang selonjoran membuatnya amarahnya kian meningkat.


Dia menghampirinya dengan tepukan keras di bahu pria patuh baya itu dan duduk berhadapan dengan Hardi sambil tersenyum menyeramkan. Hardi bisa merasakan aura yang tak bersahabat dari Zean, tapi dia menepis semua itu. Yang Hardi pikirkan adalah kekayaan yang sebentar lagi dia dapatkan, berkat bantuan pria tampan yang berada di hadapan nya.


"Bagaimana kencan kalian? kamu pasti sangat menikmatinya, bukan!" tutur Hardi.


"Hem," jawab Zean yang hanya berdehem.


"Bagus, bisa pinjamkan Paman sedikit uang?" ucap Hardi memohon.


"Kemaren aku sudah memberimu uang. "


"Oh ayolah, ini tidak akan membuat mu bangkrut."


"Bukankah aku memberimu 300 juta? kemana uang itu pergi?" tanya Zean yang masih menyimpan kemarahannya.


"Hehe.... uang itu habis karena aku kalah dalam berjudi. Jangan pelit terhadap ku, karena sebentar lagi kamu menjadi menantuku." Setelah mendengar penuturan dari Hardi, dia tidak bisa menahan emosi itu lebih lama lagi.


Dengan cepat Zean menendang meja hingga sedikit melukai kaki Hardi hingga mengeluarkan darah, "Hei Nak, kamu kenapa? karena ulahmu membuat kakiku berdarah, " keluh Hardi yang menatap bingung.

__ADS_1


"Kesabaranku sudah habis menghadapimu, PAK TUA, " Zean menatap Hardi dengan tajam. Hardi memundurkan langkahnya, karena insting nya mengatakan akan terjadi hal buruk yang akan menimpanya.


"A.... apa maksudmu?" tanya Hardi yang mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.


"Tata sudah menikah dengan orang lain? dan kamu tidak mengetahuinya sama sekali? yang ada di otakmu hanya uang dan uang. "


"Apa maksudmu? mana mungkin Dita telah menikah, " cetus Hardi. Seseorang melempar berkas mengenai informasi Dita yang telah di bocorkannya, Hardi melihat dengan teliti jika itu mengenai informasi Dita yang telah menikah dengan orang terkaya nomor 1. Ketakutan yang Hardi rasakan kian sirna, di kala mempunyai menantu orang terpandang.


"Maafkan aku, sungguh aku tidak tau mengenai hal itu. Andai saja kamu datang lebih awal, mungkin Dita akan menikahimu. Carilah wanita lain yang lebih dari anakku itu, dia sudah bahagia dan jangan menganggu mereka, " kata Hardi dengan bijak.


Hardi sangat terkejut saat wajahnya mendapat pukulan mengenai hidungnya dan berdarah, dia mengusap hidungnya dan menatap Zean, "Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu memukuliku? "


"Karena kamu membuatku sangat marah, terimalah hadiah dariku." Zean memukul wajah dan juga menendang perut Hardi hingga terpental, membuat sang empunya merintih kesakitan. Hardi mencoba untuk berdiri tapi tidak bisa, perutnya sangat sakit hingga memuntahkan seteguk darah.


Zean melirik Alvin yang sedari tadi melihat kejadian itu, menghampiri sang atasan dengan membawa cambuk, dan memberikannya ke tangan Zean.


"Aku akan memberimu uang. "


"Apa itu? " sahut Hardi dengan semangat.


"Terimalah hadiah dariku, " ucap Zean yang mencambuk tubuh hardi dengan sangat keras. Suara teriakan Hardi membuatnya menjadi semangat, dia sangat menyukai suara teriakan itu.


Luka di sekujur tubuh Hardi akibat cambukan itu tidak berhenti sampai di sana, dia menaburkan garam dan juga perasan air lemon hingga Hardi tak tahan dengan rasa sakit yang ada. Mengambil pisau yang berada di atas nakas dan menusuk tubuh Hardi berkali-kali, hingga Hardi kehilangan nyawanya. Darah yang menciprat ke seluruh wajahnya membuat Zean tertawa bahagia, baginya bau darah sangatlah menyenangkan.


****

__ADS_1


Seperti biasa, keluarga Wijaya duduk bersama sambil bersenda gurau, kebersamaan merupakan yang paling utama dari segalanya. Novi membuatkan minuman untuk semua orang, melangkahkan kaki menuju dapur dan membuat jus. Dia tersenyum saat melihat sebuah obat yang telah di masukkan ke dalam salah satu gelas jus, "rasakan, aku ingin lihat bagaimana reaksi obat itu, " batinnya.


Sendok yang tak jauh berada darinya terjatuh, Novi meraih sendok itu dan meletakkan di atas meja. Membawa nampak yang berisi jus buatannya, membagikan ke semua orang. Dia tersenyum karena rencananya berjalan dengan baik, tapi jangan lupakan keberadaan twins L yang mengawasinya.


"Ayo minumlah, Mama membuatnya khusus untuk semua orang, " ucap Novi dengan antusias.


"Wah, sepertinya sangat segar, " sosor Naina yang meminumnya, di ikuti oleh semua orang. Novi mengulas senyum tipisnya tanpa di ketahui oleh orang lain kecuali twins L.


Rencana Novi kali ini membuat seluruh badan Dita gatal seperti terkena alergi makanan, dia menyabotase obat itu hingga tidak terdeteksi jika di periksa. Sebenarnya Al dan El sedikit mencurigai Novi yang berniat buruk kepada sang ibu, mereka mengikuti Novi dan menukar gelas minuman itu dengan cara menjatuhkan sendok. Yang seolah-olah sendok terjatuh akibat Novi yang tak sengaja menyenggolnya.


Tidak butuh waktu lama, obat itu bereaksi dengan bintik-bintik kecil yang menghiasi kulit Novi, twins L hanya menyaksikan seakan tidak terjadi apa pun.


"Eh, kenapa sekujur tubuhku menjadi sangat gatal? apa aku salah memberi gelas, hingga aku sendiri yang meminumnya?" batin Novi yang terus menggaruk tubuhnya.


Suasana yang bercengkrama terhenti saat Wijaya bertanya, "Mama kenapa?" tanya Hardi yang menautkan alisnya.


"Kenapa Mama menggaruk seperti monyet? apa Mama alergi dengan jus itu?" sambung Naina.


"Lihatlah, bahkan di kulit Omah ada bintik-bintik merah, " sambung El yang sedang berakting.


"Diamlah, ini sangat gatal. Ayo bantu Mama untuk menggaruknya, cepatlah, " pinta Novi yang sudah tidak tahan dengan rasa gatal yang menyiksanya.


"Sepertinya Mama alergi, ayo kita bawa Mama ke rumah sakit, " ucap Dita yang panik. Bukan hanya Dita tapi semua orang menjadi panik terkecuali Al dan El yang menatap kepergian para orang dewasa itu.


"Sudah tua, masih saja berbuat nakal, " gumam Al.

__ADS_1


__ADS_2