
Lea sangat kesal, karena kehidupannya tidak bisa tenang. Banyak pria yang salah paham kepadanya, padahal Lea hanya mengagumi wajah pria tampan bukanlah orangnya. Kini Daffa juga mulai mendekatinya, seorang pengusaha muda yang terkenal di kota itu, pria yang Lea temui saat pernikahan Zean dan Caroline.
"Oh ya tuhan, sekarang bertambah tiga orang yang mengejarku. Bagaimana ini? ini sungguh bencana bagiku," gumam Lea yang mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal akibat berlari sekuat tenaga menghindari Daffa, Abian, dan Rayyan.
Setelah situasi cukup aman, dia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Dengan terpaksa Lea berjalan kaki, karena dia memarkirkan motornya sangat jauh dari sekolah. Shena menatap Lea dengan kesal, "kamu membuat aku berkeringat di pagi hari, kenapa kamu menghindari ketiga pria tampan tadi. Jika aku ada di posisimu dengan senang hati aku mengencani ketiganya," celetuk Shena yang juga mengatur nafasnya.
"Aku tidak menyukai jika ada pria yang mengejarku bagai seorang fans, dan berhentilah berkhayal karena sekarang kamu sudah mempunyai suami yaitu kakak ku," cetus Lea.
"Hah itu hanyalah pernikahan kesalahpahaman saja," jawab Shena.
"Apa maksudmu?" tanya Lea yang mengerutkan keningnya menatap sang kakak ipar.
"Aku tidak tau harus menceritakan ini kepada siapa, lebih baik aku menceritakan ini kepadamu. Yang sebenarnya terjadi, saat itu kak Al masuk ke kamarku dan aku keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk saja. Aku sangat kaget saat melihatnya ada di sana, hingga aku melempar semua barang yang berada dekat di jangkauan. Tapi nasibku sangat sial, tanpa sengaja handukku terlepas dan....dan dia melihat semuanya. Kamu tidak akan tau betapa malunya aku saat itu, hingga aku berniat untuk membenturkan kepalanya agar melupakan kejadian itu dan aku diam-diam masuk ke dalam kamarnya. Dan lebih sialnya lagi, ada kak El dan juga Kenzi yang melihat saat kami terjatuh ke lantai, hingga terjadilah kesalahpahaman ini," kata Shena dengan sangat panjang sembaru menghela nafas dengan kasar.
"Oh, ya tuhan. Kenapa kamu tidak mengatakan ini dan menjelaskan kepada orang tuamu?" ucap Lea yang menutup mulut menggunakan tangannya.
"Apa yang harus aku katakan? tidak mungkin aku mengatakan hal yang sangat memalukan itu. Hiks....kamu tidak akan tau rasanya saat berada di posisiku," curhat Shena.
Lea merasa kasihan dan memeluk Shena, berusaha untuk menenangkan kakak iparnya dengan sedikit tepukan pelan di punggungnya.
Lea membesarkan pupil matanya saat melihat ada seseorang yang mengintainya dan membidik ke arah Shena menggunakan pistol. Lea tidak ingin gegabah, dia menelisik situasinya saat ini. Dan ternyata ada beberapa orang yang sedang mengintainya dan juga Shena, Dia terus memeluk Shena tanpa melepaskannya, membuat Shena sedikit bingung.
"Siapa mereka? ada empat orang yang sedang mengintai kami dengan sebuah pistol di tangannya. Aku tidak bisa mengatakan kepada Shena atau dia akan ketakutan dan membuat situasi semakin sulit," batin Lea yang terus melirik orang yang sedang mengintai mereka.
__ADS_1
"Lea, lepaskan pelukan ini. Kenapa kamu sangat aneh sekali?" ucap Shena yang menautkan kedua alisnya.
"Oh maafkan aku, kamu pergilah dulu ke sekolah. Ada yang ingin aku beli."
"Tidak, aku akan menemanimu," sahut Shena.
"Lebih baik kamu pergi dari sini atau terlambat kesekolah, jangan khawatirkan aku. Nanti aku akan menyusulmu," tukas Lea yang meyakinkan Shena.
"Baiklah aku akan pergi," pasrah Shena yang di angguki kepala oleh Lea.
"Setidaknya nyawa Shena sudah aman, aku harap tidak ada yang mengikutinya. Sepertinya aku akan terlambat ke sekolah," batin Lea.
Lea berjalan dan berpura-pura tidak mengetahui hal itu, hingga keempat pria yang membawa pistol mengikuti Lea yang telah menghilang di sebuah gudang tua yang tak jauh darinya.
"Kemana gadis itu? apa kalian melihatnya?" ucap salah satu penjahat yang mengubungi temannya.
"Aku yakin dia masuk ke dalam gudang tua itu."
"Jangan menunggu waktu, ayo masuk dan habisi dia."
Lea melihat pergerakan dari musuh yang memasuki gudang kosong, untungnya gudang itu sangat luas. Lea memanfaatkan situasinya saat melihat keempat pria yang bersenjata itu berpencar.
Lea memanjat dari lantai 1 dengan begitu lihai, itu sangat mudah bagi seorang ahli Parkour. Yah, Lea selalu memenangkan kompetisi Parkour, tanpa sepengetahuan dari keluarganya. Untungnya bakat itu sangat berguna di saat genting seperti ini, di tambah Lea tidak membawa senjata apa pun.
__ADS_1
Salah satu musuh mulai mendekat dengan gerakan yang sangat cepat, dia melompat dari lantai 2 dan menimpa musuhnya. Lea memukul kepala pria itu hingga pingsan, dia tersenyum karena dapat melumpuhkan musuh.
"Ini awal yang bagus, masih tersisa 3 orang lagi. Oh tuhan....bantulah aku," gumam Lea yang merapikan pakaian nya dan mengambil senjata pria itu untuk berjaga-jaga. Tak lupa dia menggeledah pria yang pingsan itu dan mengambil ponselnya.
Lea yang ingin berlari tak sengaja menyenggol guci hingga pecah dengan cepat sisa musuh itu datang menghampiri asal suara dan melihat Lea yang tengah lari meninggalkan gudang tua itu.
Para musuh mengejar Lea sembari menembak, suara tembakan menggema membuat beberepa orang yang melintas di jalan itu lari menghindari suara tembakan. Lea terus berlari dan menarik pelatuk dengan cepat, membidikkan sasaran tepat mengenai kaki. Dia melirik bagunan yang sangat cocok untuk melarikan diri, dia memanjat dan melompat tanpa beban. Hingga kedua orang musuh berhenti karena tidak bisa mengejar langkah Lea yang sangat ahli Parkour.
"Sial, masih ada satu orang lagi dan dia sangat ahli dalam parkour. Siapa mereka?" gumam Lea di dalam hati yang sesekali melirik ke belakang.
Akibat lompatan yang salah dalam perhitungan membuat kaki Lea terkilir, hingga dia tidak bisa berlari lebih jauh lagi dan berhasil di tangkap oleh musuh yang masih mengejarnya.
"Hehe....sekarang kamu tidak bisa lari lagi," ucap pria itu yang mendekati Lea.
"Heh, kamu hanya beruntung karena salah satu kaki ku terkilir. Katakan siapa yang mengirimmu untuk menargetkan aku?" tanya Lea yang menatap tajam.
"Kamu tidak perlu siapa dia, aku akui kamu sangat ahli dalam parkour dan aku sangat mengagumi mu, di tambah lagi dengan wajahmu yang sangat cantik," ucap pria itu yang memblokir jalan Lea.
"Tentu saja, tapi sayangnya kamu bukanlah tipeku. Wajah mu sangatlah jelek," cibir Lea dengan tenang.
Pria itu marah saat mendengat ucapan Lea dan mengepalkan kedua tangannya serta menggertakkan gigi dan mengeraskan rahangnya, dia memukul Lea yang dengan cepat menghindar. Hingga terjadi saling pukul memukul di antara keduanya, kaki Lea yang terkilir membuat pergerakannya sangat terbatas.
Hingga seseorang datang untuk menolong Lea yang tersudutkan, dia menatap orang itu dengan dalam.
__ADS_1
"Abian? kamu di sini?" ucapnya.
"Kamu selalu saja membuat masalah," sahut Abian yang memukul dan menyayat leher musuh dengan sangat kejam yang akhirnya tewas di tangan Abian.