
Sepasang suami istri itu sedang mengemasi barang-barang nya, memasukkan semua pakaian di lemari ke dalam koper. "Sayang, bagaimana dengan usaha kita di sini?" ucap sang istri.
"Usaha kita tetap berjalan, aku akan memantau dari jauh saja dan sesekali mengecek restoran," sahut suaminya yang terus mengemasi semua barang keperluan dan beberapa berkas.
"Shena tidak ingin tinggal di Indonesia," pekik Shena, anak perempuan dan semata dari Daniel dan Nurma yang berusia 16 tahun.
Nurma berjalan mendekati putrinya, mengusap pucuk kepala Shena dengan sangat lembut. "Sayang, di sanalah tempat kita bukannya di sini."
"Tapi Shena tidak ingin tinggal di mansion, tidak ada teman ataupun orang yang Shena kenal Mom," ucap Shena.
Daniel mendekati putrinya, "Daddy sangat yakin kalau Shena akan menyukainya, lihat saya nanti!" bujuk Daniel. Setelah bujuk membujuk selama 10 menit, akhirnya Shena menyetujui untuk datang ke indonesia.
Tidah butuh waktu yang lama, Daniel dan keluarga kecilnya sampai di bandara indonesia. Menghirup udara sangat dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, menikmati suasana.
Daniel melihat tak jauh darinya ada Bara dan juga Nathan yang sedang menunggu mereka. Dia Mempercepat langkahnya menghampiri mereka, Daniel memeluk Nathan serta menepuk punggungnya dan beralih menatap Bara dan juga melakukan hal yang sama.
"Aku sangat merindukan kalian berdua terutama mantan atasanku ini," ucap Daniel yang melepaskan pelukan nya sembari menatap Nathan.
"Aku juga sangat merindukan mu, saat kamu menjadi asisten ku."
Nurma menghampiri Dita dan Naina, dia memeluk mereka selama bertahun-tahun tidak bertemu, "bagaimana keadaan kalian?" ucap Nurma.
"Aku baik," sahut Dita.
"Dan aku juga baik," tambah Naina.
Dita tertarik melihat seorang gadis yang menatapnya, Nurma yang mengertipun memperkenalkan putrinya kepada semua Dita dan Naina, "dia putriku, namanya Shena.
"Wah, anak mu sangat imut dan menggemaskan," ucap Naina yang antusias menyentuh pipi Shena.
"Tentu saja, aku Mommy nya."
"Dimana dua tuyul itu? aku tidak melihat mereka," celetuk Daniel yang celingukan.
__ADS_1
"Heh, dua tuyul itu sekarang sangat lah tampan. Al sekarang mengurus perusahaan ku, sedangkan El masih ada di mansion, " sahut Nathan yang bangga akan ketampanan putranya yang menuruni Gen nya.
"Apa mereka masih nakal?"
"Mereka sudah dewasa, sifat nakal di masa kecil mereka akan berubah seiring bertambahnya umur," ujar Bara.
"Nanti saja kita mengobrol, ayo kita ke mansion," ajak Dita.
****
Al yang sudah mengetahui siapa mata-mata itu, dia memanggil Cantika untuk berhadapan langsung dengan nya.
"Kamu tau apa kesalahanmu?" ucap Al yang dengan wajah yang dingin.
"Tapi aku tidak merasa mempunyai kesalahan apa pun, semua pekerjaan kantor telah di siapkan tepat waktu," jawab Cantika.
Al mengepalkan tangannya dan menggebrakkan meja dengan keras, sontak Cantika terkejut. "Apa kamu pikir aku tidak tau, hah! mengakulah atau aku akan membunuhmu," ucap Al yang meninggikan suaranya.
Cantika sangat ketakutan dengan bentakan dari Al, dia tidak berani menatap mata atasannya. Dengan cepat Cantika bersimpuh di kaki Al seraya memohon ampun, "Maafkan aku tuan, aku telah bersalah karena mengawasi dan melaporkannya kepada nyonya Caroline."
"Karena aku butuh uang untuk membiayai keluarga ku," ucap Cantika di sela isakan tangisnya yang pecah.
"Aku benci alasan itu, ini ambillah cek kosong dan isilah barapapun yang kamu inginkan. Sekarang kamu di pecat, pergi dari ruanganku sekarang juga," tegas Al yang menyerahkan cek kosong itu kepada Cantika.
Cantika mengambil cek itu dan pergi sesuai dari perkataan atasannya, sebelum pergi dia menatap dalam mata Al berharap dapat mengubah keputusannya. Semenjak ciuman pertama itu membuat Cantika menyadari arti dari kata cinta yang sesungguhnya.
Dia berbalik, berlari memeluk Al dengan sangat erat, Al berusaha untuk melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh Cantika, "berani sekali kamu memelukku," ucap Al yang meninggikan suaranya.
"Maafkan aku yang sudah membuat ku kecewa, tapi aku mencintaimu saat ciuman pertama kita," tutur Cantika yang menatap Al dengan sendu.
"Omong kosong, pergi dari hadapanku sekarang juga. Aku sangat muak melihatmu," cetus Al. Cantika bersedih dengan perubahan Al yang tidak ingin melihat wajahnya, dia pergi meninggalkan ruangan itu sambil membawa cek pemberian Al.
Al menatap punggung Cantika yang hilang di balik pintu, dengan tatapan kecewa. "Semoga aku bisa melupakan wanita itu, untung saja perasaanku padanya belum dalam," batin Al yang menghela nafas dengan kasar.
__ADS_1
****
El yang tidak punya kerjaan memiliki ide, dia membawa Kenzi untuk ikut bersamanya. Yah, El ingin menemui Anna, karena dia sangat merindukan wanita itu.
Penampilan yang sangat sempurna bagi nya, mengendarai motor sport biru tua dengan kecepatan tinggi.
Sampailah mereka di halaman rumah Anna, El dan Kenzi memarkirkan motor sport dan turun dengan sangat elegan. Berjalan dengan penuh percaya diri, El melihat dan mendatangi Pak pitak yang tengah bersantai di teras rumah sembari meminum segelas kopi dan beberapa jenis gorengan yang menemani sorenya yang indah, tak lupa pula dengan koran di atas meja.
"Mau apa kalian kesini?" ketus Pak pitak dengan wajah yang jengkel.
"Untuk bertamu, bagaimana keadaan Paman?" ucap ramah dan manis dari mulut El seraya menyalami dengan penuh hormat.
"Tadinya sangat baik, setelah kedatanganmu membuat hariku buruk, sangat-sangat buruk," jawab Pak pitak yang bernama Bonar Kusumo.
"Ah Paman bisa saja dalam memujiku," sahut El dengan tersenyum, Kenzi menepuk keningnya.
"Paman itu bukan memujimu kakak, tapi dia terlihat sangat kesal kepadamu. Dosa apa yang membuatmu tidak di sukai olehnya?" bisik Kenzi.
"Diam lah, aku hanya ingin merebut hati Paman pitak itu, " balas El dengan berbisik.
"Ehem." Suara deheman menghentikan El dan Kenzi yang saling berbisik. Kenzi dan El menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal sembari cengengesan.
"Kalian disini?" ucap seseorang yang tak lain adalah Anna melirik El dengan menautkan kedua alisnya.
El terpesona dengan Anna yang mengenakan celana pendek dan juga baju kaos tanpa lengan, membuat jiwa lelaki nya bersemangat melihat pemandangan itu. El terus saja menganga, tanpa berkedip membuat Bonar geram dan memasukkan gorengan pisang ke dalam mulu El, sementara Kenzi dan Anna tertawa melihatnya.
"Iya, aku ingin membawamu untuk jalan-jalan," ucap El dengan sangat antusias.
"Tidak boleh," tolak Bonar.
"Kami tidak pergi berdua, ada Kenzi yang menemani kami. Ah iya aku hampir lupa, ini untuk Paman membeli obat tumbuh rambut." El memberikan 10 lembar uang berwarna merah kepada Bonar.
"Baiklah kalian boleh pergi, tapi jangan lama-lama," ucap Bonar tanpa melihat El.
__ADS_1
Pak pitak/Bonar menghitung uang itu tanpa berniat melihat kepergian Anna.
"Hah, ternyata Pak pitak itu materialistis," batin El yang tersenyum tipis.