
Abian dan Rayyan sangat terkejut mendengar hal itu, mereka saling melirik dengan raut wajah dan mulut yang menganga. "Kenapa takdir ku sangat malang, bersaudara dengannya," gerutu Rayyan.
"Aku yang paling malang di sini," ujar Abian.
"Mulai sekarang kalian akan menjadi saudara, aku harap kalian bisa lebih dekat lagi," ucap Zean yang merangkul pinggang Caroline yang seakan tak ingin jauh dari wanita itu.
"Oh ayolah Daddy! aku tidak ingin dekat dengannya," tolak Rayyan.
"Aku juga tak ingin dekat denganmu," sahut Abian dengan ekspresi datarnya.
"Sayang, tolong mengertilah. Kondisi sekarang sangat lah berbeda, kami saling mencintai dan ingin meresmikan nya," tutur Caroline yang menatap Abian dengan penuh pengertian.
Abian hanya menghela nafas dengan kasar, walau bagaimana pun juga Ibu angkatnya berhak untuk bahagia dan mempunyai suami yang bisa menemani. Dia juga tak ingin egois, karena Ibu angkatnya sudah lama menyendiri begitupun dengan Zean.
"Baiklah, jika Mommy bahagia aku juga ikut bahagia. Aku merestui Paman Zean dan Mom untuk menikah, dan juga Rayyan menjadi adikku," ucap Abian yang merangkul pundak Rayyan serta mengusap kepala Rayyan atau lebih tepatnya menjitak kepala calon adiknya.
"Aku senang mendengarnya, kami pergi dulu untuk memesan baju dari L boutique," celetuk Zean yang pergi meninggalkan tempat itu seraya menarik tangan Caroline dengan lembut.
Rayyan yang kesal itu pun menginjak kaki Abian dengan keras, "dasar bermulut manis, bisa saja aku geger otak karena jitakanmu itu," cetus Rayyan yang melepaskan dirinya dari tangan Abian.
"Hei, panggil aku kakak sekarang karena aku akan menjadi kakak mu dan lembutkan bicaramu itu atau aku akan menjahitnya nanti," ucap Abian yang tersenyum smirk.
"Ck, kamu pikir apa hah? aku tidak akan takut dengan ancaman mu, lidahku terasa keluh saat mengucapkan kata itu," sahut Rayyan yang menatap Abian dengan kesal.
"Mulai sekarang panggil aku KAKAK karena aku lebih tua darimu."
"Tidak akan," tolak Rayyan.
Abian yang geram mendekati Rayyan dan akhirnya mereka bergulat membuat Caroline dan Zean yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala, mereka sedari tadi melihat Cctv yang terhubung di ponsel Zean karena Caroline sangat cemas dengan Abian dan Rayyan yang tidak pernah akur.
"Apa sekarang kamu puas Sayang?" celetuk Zean.
"Apa hubungan mereka bisa di perbaiki?" ujar Caroline yang sedikit khawatir.
__ADS_1
"Aku sangat yakin jika hubungan mereka akan dekat seiring waktu, kamu bersabarlah. Feeling ku tidak pernah meleset," jawab Zean yang sangat yakin, dia sangat mengenal Abian dan juga Rayyan. Dia kembali mengingat saat dia dan Nathan yang dulunya tidak pernah akur.
Tak lama, sepasang kekasih itu menginjakkan kakinya di butik milik Dita. Caroline menyapa Dita dan Nurma yang juga ada di sana.
"Wah, apa mataku salah tentang ini?" goda Dita yang menatap Zean dan Caroline.
"Ada yang ingin kami bicarakan," ucap Caroline.
"Ayo silahkan duduk," ujar Nurma yang mempersilahkan mereka duduk.
Mereka menuju ke sofa empuk dan menatap sepasang kekasih dengan tatapan menyelidik, "ayo katakan, ada apa?" ucap Dita.
"Begini, kami akan menikah dan memesan gaun dan juga jas di sini. Aku ingin kamu yang merancangnya untukku," tukas Caroline yang tersenyum.
"Wah, itu bagus. Aku turut senang mendengarnya, benarkan Nurma?" seloroh Dita yang melirik Nurma yang juga tersenyum ikut senang mendengar kabar bahagia itu.
"Dan kami juga mengundang kalian semua," ucap Caroline.
"Baiklah, aku akan memberikan rancangan terbaikku untuk kalian dan tidak perlu membayarnya, anggap itu sebagai kado dari ku. Selamat ya, kami akan datang ke acara yang sangat membahagiakan," ucap Dita yang tersenyum tulus dan memeluk Caroline, Nurma juga bergantian memeluk sang mempelai wanita.
Dita mulai mengukur Zean dan Caroline , Nurma mencatat setiap hasil dari pengukuran itu. Setelah semua telah selesai, Zean dan Caroline pamit untuk melakukan persiapan yang lainnya.
****
Lea sedang duduk di pinggir kolom renang sembari kedua kaki yang menyentuh air di kolom itu, membuat perasaan dan pikiran nya menjadi lebih tenang. Entah apa yang dia pikirkan, dia juga tidak tau.
Lamunannya terhenti saat ada Shena dan Vivian yang mengagetkan Lea, "kalian mengagetkan aku saja, pergilah dari sini dan jangan mengangguku," ucap Lea yang menatap malas.
"Apa yang kamu pikirkan?" celetuk Shena yang sangat penasaran.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tau. Aku hanya ingin saja," sahut Lea dengan santai seraya mengangkat kedua bahunya.
"Apa? dasar aneh, membuang waktuku saja!" kata Vivian yang menarik tangan Shena meninggalkan Lea sendirian.
__ADS_1
Lamunan Lea kembali terganggu karena kembali di kagetkan seseorang, "Shena, Vivian sudah aku katakan untuk tidak mengangguku," gerutu Lea yang menoleh, terlihat dengan jelas Abian yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu selalu mengangguku," keluh Lea yang menatap Abian dengan jengah.
"Apa kamu melamun, apa kamu sedang memikirkan saat kita sedang di posisi intim itu?" goda Abian yang mendapat cipratan air.
"Kenapa kamu menyiramku?"
"Itu karena kamu selalu menganggu ku," sahut Lea yang terus menyiram wajah Abian.
Abian tak tinggal diam, hingga mereka saling siram-menyiram. Lea kehilangan keseimbangan dan membuat nya tercebur ke kolom renang, Abian menertawai Lea dengan terbahak-bahak membuat Lea geram dan menarik kaki Abian dan kedua nya sekarang berada di dalam kolom renang.
"Kamu?" ucap Abian yang menunjuk wajah Lea karena kesal.
Lea spontan menggigit jari telunjuk Abian karena berani menunjuk wajahnya, "rasakan! itu akibatnya jika kamu berani menunjukku."
"Wah, apa-apaan ini? kalian sedang bermesraan di kolom renang dan membuat air di kolam ini menjadi ternodai," ujar Kenzi yang ingin berenang tapi di urungkan saat melihat Lea dan Abian yang terlihat sangat dekat.
"Hei, kami tidak bermesraan," sanggah Lea dengan cepat.
"Tapi itulah yang terlihat," tukas Kenzi.
"Dasar menyebalkan," gumam Lea yang pergi dari tempat itu.
"Dasar pengganggu, apa kamu tidak mempunyai pekerjaan lain selain mengusik keromantisan ku!" cetus Abian yang naik ke atas kolom renang.
"Ck, aku sangat sibuk. Lebih baik aku berenang dengan santai daripada berdebat dengan mu."
"Bagaimana jika kita lomba berenang? aku ingin lihat seberapa hebatnya seorang Kenzi," tantangnya.
"Aku tidak takut kepada siapapun, apa yang di dapatkan jika salah satunya menjadi pemenang?"
"Yang kalah akan menjadi asisten yang menang."
__ADS_1
"Deal." Mereka saling berjabat tangan dan memulai untuk pertandingannya. Saat hitungan ketiga, mereka melompat ke dalam kolam renang dan mengayunkan tangan untuk sampai ke ujung kolom renang. Hingga Abian kalah membuat Kenzi tersenyum smirk, karena Kenzi sangat ahli dalam berenang. Bakat itu di turunkan dari Naina yang selalu memenangkan kompetisi.