
Di ruang keluarga, semua orang berkumpul dan menanyakan mengenai Lea, tapi terhenti karena mendengar ucapan dari Abian dengan wajah serius, mereka sangat terkejut dengan ucapan Abian yang melamar Lea di waktu yang tidak tepat.
"Apa kamu ini sedang bercanda?" tanya Al yang menatap Abian.
"Tidak, aku serius."
"Setidaknya lihat situasi sekarang, apa itu waktu yang tepat?" cetus El yang sedikit kesal.
"Aku sudah memikirkan ini sejak lama, Ayah....Ibu aku ingin melamar Lea untuk menjadi istriku. Aku tau situasinya sangatlah tidak tepat, tapi niatku sangat tulus. Aku juga ingin menjaganya dari orang-orang yang berniat buruk kepada Lea, terimalah niat baikku ini," tutur Abian yang menatap mata Nathan berharap di terima sebagai menantu.
Nathan menatap Abian dengan raut wajah dinginnya, tatapan elang membuat dahi Abian berkeringat. Aura dari Nathan membuat bulu kuduknya bergidik ngeri, lidah seakan tercekat dan keluh.
"Apa kamu yakin dengan putriku? dia bahkan belum lulus dari sekolah," tutu Nathan.
"Aku sangat yakin, bukankah beberapa hari lagi Lea akan lulus. Terimalah aku sebagai menantumu, Ayah!" jawab Abian yang memohon dengan raut wajah prihatin.
Nathan menghela nafas dengan berat, menoleh kesamping melirik sang istri yang mengangguk setuju. Nathan kembali menatap Abian, "aku menyetujui nya, tapi ingat ini baik-baik. Lea adalah tuan putriku, kamu sendiri juga tau akan hal itu. Aku berharap jika kamu tidak menyakitinya dan membuatnya menangis atau aku akan melenyapkan nyawamu," ancam Nathan yang mendapat cubitan di pinggangnya.
"Auhh, kenapa kamu mencubitku Sayang?" ujar Nathan yang menatap Dita.
"Hilangkan kebiasaanmu yang selalu saja mengancamnya, bukankah kita sudah mengenal karakter Abian dengan sangat baik," cetus Dita yang melirik Nathan dengan tajam.
"Tapi tetap saja pekerjaannya pembunuh bayaran dan aku yakini mempunyai banyak musuh, itu tidak aman bagi putriku," tukas Nathan.
"Setiap pekerjaan pesti memiliki resiko, suamiku. Bukankah kamu juga seorang Mafia?" sahut Dita dengan cepat membungkam mulut Nathan.
"Wah, sepertinya reaksi dari Lea membuatmu tidak sabar ya," cibir El.
"Akhirnya aku mendapatkan restu, terima kasih Ayah....Ibu," tutur Abian yang tersenyum menatap orang tua angkatnya. Nathan dan Dita tersenyum, twins L juga bahagia karena Lea mendapatkan suami seperti Abian.
"Selamat, akhirnya mimpimu menjadi kenyataan," ucap Al yang memeluk Abian sambil menepuk punggung dengan perlahan.
"Selamat untuk mu, aku harap kamu memaklumi dan menerima sifat dan tingkah laku adikku. Kamu tau sendiri bagaimana reaksinya saat melihat wajah pria tampan," ujar El yang bergantian memeluk Abian.
"Terima kasih banyak aku akan bekerja keras untuk itu," sambut Abian.
__ADS_1
Setelah berpelukan, Abian kembali duduk dan menatap semua orang, "ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian dan aku mohon dengan kerja samanya."
"Kerja sama yang bagaimana?" ucap El yang mengerutkan keningnya.
"Aku ingin, kalian semua sedikit mendukung kebohonganku," tutur Abian yang sedikit memelankan suaranya.
"Apa maksudmu berkata begitu?" sahut Al yang menautkan kedua alisnya.
"Jangan salah paham kepadaku, aku ingin Lea menerimaku walau awalnya dia terpaksa."
"Heh, modal nekat," cibir El.
"Semua adil dalam cinta, kamu juga melakukan hal yang sama saat memberikan bantuan sembako untuk para warga di komplek rumah pak pitak agar merestui hub...." belum sempat Abian menyelesaikan ucapannya, El lebih dulu membungkam mulut calon adik iparnya.
"Ck, ternyata kalian sama saja," cetus Al yang menatap kedua pria tampan itu dengan tatapan sinisnya.
"Apa aku perlu mengungkap keburukanmu di sini?" cetus El yang menatap Al dengan jengah.
"Sudah cukup, kenapa kalian jadi bertengkar? bukankah kalian dulu nya sangat akur?" tukas Dita menatap ketiga pria itu yang hanya cengengesan sembari menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal.
"Heh, jangan mentang-mentang Ayah dan Ibu sudah merestuimu dan berbuat seenaknya. Lebih baik kamu pulang dan memberitahukan keluarga mu," cetus El.
Abian menghela nafas dengan kasar dan terpaksa pulang dengan wajah yang memelas, Dita menahan tawa melihatnya.
"Hari yang melelahkan, sebaiknya aku ke kamar saja," celetuk Al yang berjalan meninggalkan tempat itu.
"Sepertinya aku juga istirahat," ucap El yang meregangkan otot-otot nya sambil menguap dan pergi menuju kamarnya.
Dita dan Nathan hanya menatap tingkah laku dari putra kembarnya, "dasar anak muda," seloroh Nathan yang menggelengkan kepalanya.
"Bukankah kamu dulunya juga begitu?" ledek Dita.
"Sudah mendarah daging," sahut Nathan yang tersenyum sambil memeluk Dita dengan erat.
****
__ADS_1
El terbangun dari tidurnya dan melihat jam 4 pagi, tenggorokan terasa sangat kering. Saat ingin minum, teko di atas meja sudah kosong dan terpaksa mengambilnya di dapur.
"Hah, aku sangat malas dengan ini, tapi aku juga haus," monolog El yang berjalan menuju dapur untuk mengisi air.
Hingga dia melihat sebuah bayangan di dapur membuatnya sangat waspada dan mengambil tongkat bisbol, mengenggam nya dengan sangat erat.
"Lihat saja pencuri, kamu tidak akan lolos dari El Wijaya," lirih nya dengan pelan.
El tepat berada di belakang orang itu, dia tersenyum dan mengangkat tongkat berniat untuk memukul sang pelaku. Di saat El ingin memukulnya, orang itu berbalik dan terlihatlah siapa pelaku yang menegang beberapa makanan dan juga cemilan.
"Kenapa kamu bisa di sini? bukankah sudah pulang?" tanya El yang mengerutkan dahinya seraya menurunkan tongkatnya.
"Aku hanya ingin memastikan kondisi calon istriku, rindu yang sangat mendalam ini membuatku kembali lagi," jawab Abian yang berjalan dengan santai saat melewati El.
"Apa itu benar, kamu seperti pencuri yang masuk dia-diam."
"Aku tidak peduli itu."
"Bagaimana kamu bisa masuk dengan penjagaan yang begitu ketat?"
"Heh, itu sangat mudah bagiku," sahut Abian yang duduk di meja makan dan menyuapi mulutnya dengan makanan dan juga cemilan.
"Kamu di perbudak oleh cinta dan membuatmu nekat dan bodoh secara bersamaan," cibir El yang telah mengisi teko kosong di tangannya.
Mereka berdua mendengar suara langkah kaki dan ternyata adalah Al, "kenapa kamu berada di mansion?" tanya Al yang memiringkan kepalanya.
"Tentu saja sebagai tamu," jawab Abian dengan santai.
"Baru kali ini aku melihat tamu yang datang jam 4 pagi, apa kamu ingin menemui adikku?
"Tepat sekali, aku ingin di saat dia bangun akulah orang pertama yang di lihatnya," sahut Abian dengan membusungkan dadanya, membuat El menggeplak wajah tampan Abian dengan sandal.
"Sepertinya kamu semakin bodoh ya," ledek El.
"Bukan hanya aku saja, tapi kamu dan kamu juga melakukan hal yang sama. Jangan selalu menyudutkan aku yang sangat tau bagaimana kalian bersikap dan bertidak di hadapan wanita sang pujaan hati," ucap Abian yang meninggikan suaranya kembali mendapatkan hadiah, yang kali ini dari Al sebuah pukulan kecil di bahunya.
__ADS_1